Sukses

Nila Tanzil dan Kisah Adaptasi Taman Bacaan Pelangi di Masa Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Bicara Taman Bacaan Pelangi, maka tak bisa terlepas dari sosok Nila Tanzil. Alumnus Universitas Katolik Parahyangan itu sudah merintis taman bacaan tersebut sejak Desember 2009 setelah mendapat ide saat menunggu kelahiran anak pertamanya.

Pandemi Covid-19 turut memengaruhi operasional Taman Bacaan Pelangi. Awal pandemi menerpa, ia dan tim tak bisa membuka tempat yang jadi sumber pengetahuan anak-anak dengan alasan kesehatan dan keamanan bersama. Sembari mengamati situasi, ia berinisiatif mentransformasi taman bacaan jadi lebih dari sekadar tempat meminjam buku.

Kepada Liputan6.com, Senin, 12 April 2021, Nila menuturkan bahwa sejak April 2020, pihaknya mulai menggalang dana untuk mendukung program terbaru bertajuk "Paket Belajar." Sebulan setelahnya, yakni pada Mei 2020, ia dan jejaringnya mulai mengeksekusi rencana tersebut.

"Paket Belajar ini adalah program yang dibuat untuk membantu anak-anak di daerah-daerah terpencil yang terkendala sinyal internet," kata ibu satu anak itu.

Inisiatif itu diambil mengingat banyak anak di daerah terpencil terkendala belajar online karena minim akses internet. Begitu pula dengan perpustakaan dan Taman Bacaan Pelangi yang berlokasi di daerah-daerah itu. Anak-anak pada akhirnya tetap harus belajar dengan materi fisik.

"Kita buat materi belajar. Kita print setiap minggu dan bagikan ke anak-anak yang tidak dapat sinyal internet," ia menuturkan.

Materi tersebut difokuskan untuk siswa kelas 1 SD. Alasannya, anak-anak kelas lebih tinggi biasanya sudah mendapat PR dari sekolah, tapi tidak demikian dengan anak-anak kelas 1 SD.

"Kalau anak kelas 1 nggak dikasih bahan, ya sudah main-main saja. Takutnya, anak-anak yang sudah kenal huruf, jadi lupa lagi. Makanya, kita fokus untuk bahan pelajaran kelas 1 SD," imbuh Nila.

 

 

2 dari 5 halaman

Berkembang Berkat Guru dan Relawan

Nila menjelaskan bahwa pendistribusian materi pelajaran yang cukup untuk dikerjakan seminggu itu dilakukan oleh relawan dan guru-guru setempat. Menurut Nila, para guru kerap mendatangi rumah siswa-siswanya dalam menyiasati arahan sekolah online.

Mereka akan datang sambil membawa buku bacaan dari taman baca yang dikelola Nila. Hal itu banyak dilakukan guru di Flores, Sumba, hingga Raja Ampat. Mereka berjuang dengan cara masing-masing untuk memastikan para siswa tetap mendapatkan haknya sebagai pelajar.

"Peminjamannya manual, tapi jadi terharu banget dengar cerita-cerita dari lapangan," ucap dia. "So far, sudah lebih dari 10 ribu anak (yang mendapat materi pelaran)," imbuh Nila.

Tapi, untuk Taman Bacaan Pelangi yang beroperasi di zona hijau, sejumlah siswa sudah mulai bisa mengakses koleksi buku bacaan di sana. Di samping, para guru di daerah mudah sinyal dilatih untuk memaksimalkan penggunaan literacy cloud. Bekerja sama dengan Google, Nila berusaha meningkatkan keterampilan para guru dalam penggunaan teknologi.

"Tim kita akan dampingi supaya guru paham banget, bahkan kita dampingi mengajar menggunakan Zoom ke anak-anak di rumah. Teknologi itu kan baru banget buat mereka," ujarnya.

Setiap guru yang dinilai berkontribusi akan diapresiasi dengan cara menyebutkan usahanya pada pengawas Dinas Pendidikan setempat. Selain itu, ia mengundang guru-guru inspiratif untuk mengisi konten IG Live.

"Kita memang tidak memberi penghargaan dalam bentuk materi. Itu kita hindari karena kita ingin tetap setara. Kalau menyangkut materi, jadinya sensitif kan," ia menjelaskan.

3 dari 5 halaman

Definisi Perempuan Hebat

Dengan adaptasi dan inovasi tersebut, Taman Bacaan Pelangi bisa menambah enam cabang baru di masa pandemi Covid-19. Total taman bacaan itu sudah ada 134 sekolah di 18 pulau.

Nila mengaku bahwa sejak awal ia memang pecinta buku. Penulis favoritnya adalah Paulo Coelho dengan judul yang paling disukainya adalah The Alchemist dan Veronika Decides to Die.

Ia mengaku koleksinya bukunya banyak, tapi tak ada ruang khusus untuk menampung itu semua. "Tapi, raknya ada di mana-mana, ada di ruang tamu, dapur, di hallway," ujarnya sambil tertawa.

Perempuan yang kini menetap di Bali itu menyebut usahanya untuk memberdayakan orang lain tak lepas dari didikan kedua orangtuanya, terutama sang ayah. Sejak kecil ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa perempuan hebat itu adalah perempuan yang mandiri, yang tidak menggantungkan hidup pada orang lain.

"Ajaran papiku bilang, kalau kamu jadi perempuan, harus bisa mandiri. Kamu bisa punya penghasilan sendiri dan bisa memberdayakan orang lain, walau punya suami. Dipikir-pikir, make sense juga," ucap dia.

Ia sendiri mengaku tak terlalu suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan membutuhkan orang lain untuk membantunya mengurusi hal itu. Maka, ia mengaku salut dengan para perempuan yang berkomitmen penuh sebagai ibu rumah tangga karena pekerjaan itu tak mudah dilakukan.

"Aku acung jempol untuk ibu rumah tangga," ucapnya.

4 dari 5 halaman

Perempuan Arab Saudi Bebas dari Belenggu

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: