Sukses

Cerita Akhir Pekan: Agar Pemilahan Sampah Tak Sia-Sia

Liputan6.com, Jakarta - Persoalan sampah di Indonesia hingga kini masih menjadi bahasan yang tiada berkesudahan. Produksi sampah yang begitu banyak, tidak lantas dibarengi dengan proses pengolahan, guna menekan volume sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Di antara beragam opsi, salah satu upaya yang berperan dalam pengolahan sampah adalah dengan pemilahan sampah. Metode ini dapat dilaksanakan dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Lantas, apa saja yang harus dilakukan agar pemilahan sampah domestik tak jadi sia-sia?

Founder Greeneration Indonesia dan Waste4Change Mohamad Bijaksana Junerosano menyebut, ada berbagai langkah yang dapat ditempuh. Hal pertama yang perlu diketahui adalah mengenai jenis sampah yang memiliki nilai dan tidak memiliki bagi pihak lain.

"Kalau bisa pemilahan dibagi tiga, organik, anorganik yang bisa didaur ulang atau memiliki nilai, dan residu atau lainnya yang tidak bisa dikompos dan daur ulang," katanya ketika dihubungi Liputan6.com, Kamis, 8 Oktober 2020.

Sano, demikian ia akrab disapa, melanjutkan, untuk menyalurkan sampah anorganik yang memiliki nilai jual dan daur ulang, dapat mencari bank sampah, lapak atau pengepul sampah terdekat. Bisa pula mengecek di situs bebassampah.id.

"Atau justru warga Jakarta bisa ikut bantu, kalau dapat informasi membantu memetakan tempat-tempat yang bisa menampung sampah tersebut di bebassampah.id, supaya orang lain tahu dan mengaksesnya," tambah Sano.

Cara lain adalah menanti kehadiran pemulung atau pengepul rongsokan yang biasanya membawa gerobak lewat di depan rumah. Atau dapat membuat janji agar mereka dapat kembali untuk mengambil pemilahan sampah yang punya nilai, seperti kertas, kardus, kaleng aluminium, botol kaca, hingga plastik.

"Untuk organik, tinggal beli alat untuk mengompos, bisa pakai biopori, kompos bag, takakura. Untuk sampah residu yang ditaruh di depan rumah supaya diangkut oleh tukang angkut sampah," jelasnya.

2 dari 5 halaman

Aksi Nyata

Sano menerangkan, dengan metode di atas, seluruh warga Jakarta turut membantu mengurangi sampah bisa sampai 6--70 persen. "7 ribu--8 ribu ton sampah yang dihasilkan warga Jakarta dan dikirim ke TPA bila semua melakukan pemilihan tiga jenis tadi itu bisa mengurangi 50--60 persen," jelasnya.

"Anorganik daur ulang bisa sekitar 20--25 persen bisa dikirim ke bank sampah, lapak, atau janjian dengan pemulung yang mana ini bermanfaat buat mereka," tutur Sano.

Waste4Change juga memiliki Personal Waste Management. Layanan ini, dikatakan Sano, pihaknya akan mengambil sampah seminggu sekali untuk dikelola dengan baik dan bertanggung jawab.

"Saat ini sampai Desember masih harga promo Rp150 ribu per bulan, belum dengan pajak, kalau termasuk pajak jadi Rp165 ribu per bulan. Yang kita angkut hanya semua sampah non-organik. Jadi kita akan berikan kantong untuk anorganik yang bisa didaur ulang dan kantong untuk residu," jelas Sano.

Pihaknya juga menampung sampah puntung roko hingga minyak jelantah. Sementara untuk sampah organik, Waste4Change mendorong pelanggan untuk mengelola di rumah dengan ragam opsi kompos.

Di sisi lain, ancaman sampah pada keberlangsungan hidup kian hari makin jelas. Maka dari itu, upaya pencegahannya yakni dengan mewujudkan aksi nyata.

"Menurut saya, kalau kita mau melakukan perubahan, kita tidak bisa menunggu kesadaran masyarakat karena masalah di depan mata dan banyak banget sampah yang masih bocor ke lingkungan, dibuang sembarangan ke sungai, dibakar dan dibakar itu bahaya banget, beracun bisa bikin kanker," tegasnya.

3 dari 5 halaman

Butik Daur Ulang

Spirit pengelolaan sampah turut tercermin dari sepak terjang Butik Daur Ulang Project B Indonesia. Inisiasi ini bermula dari keisengan pada 2008 lalu, di mana kini berkembang dan turut ambil bagian dalam aksi mengurangi sampah.

Founder Butik Daur Ulang Project B Indonesia Hijrah Purnama Putra, mengatakan, kala itu, ia dan teman-temannya yang tengah menempuh studi Teknik Lingkungan, kerap berkumpul bersama. Dari momen itu pula, tercetus ide untuk berbuat sesuatu.

"Setiap hari dengar tentang pengolahan limbah dan pengolahan sampah, akhirnya sepakat kita action dari lingkungan terdekat kita. Kebetulan kalau di Jogja itu ada warung yang buka 24 jam menyediakan makanan-makanan instan, sering nongkrongnya di situ, namanya burjo," kata Hijrah saat dihubungi Liputan6.com, Kamis, 8 Oktober 2020.

Kerap menghabiskan waktu di sana, terlintas di benak Hijrah, ke mana sampah kemasan itu akan berakhir. Hingga ia bersama teman-teman tertarik juga tergerak untuk mulai mengumpulkan sampah-sampah tersebut.

"Karena kita coba cari tahu jenis sampah yang plastik kemasan untuk makanan minuman itu ternyata memang tidak bisa diolah. Akhirnya kita sepakat untuk coba mengumpulkan itu dari tempat-tempat di sekitar kampus," lanjutnya.

Di masa awal, diakui Hijrah mengajak orang lain untuk mengumpulkan sampah kemasan menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia mencoba mengedukasi lewat bincang santai kepada pihak burjo tersebut.

"Setelah dikumpulin, kita kumpulkan di satu tempat, kita bersihkan, hitung karena inginnya ada konversi menjadi nilai Rupiah pada saat itu, karena ingin menyemangati mereka yang sudah mengumpulkan dan memisahkan," tutur Hijrah.

Ia menambahkan, proses kemudian dilanjutkan dengan pengolahan, penghitungan, merangkim, dan mencatat dengan baik. Setiap 2--3 bulan, Hijrah dan teman-teman menyetorkan hasil pembelian sampah kepada pihak burjo.

"Dengan kegiatan itu makin banyak yang terlibat. Di 2010 itu kita buka dengan sistemnya bank sampah. 2008--2009 coba-coba dulu terus 2010, kok kayaknya bisa diseriusin ini, lalu buka sistem bank sampah dengan pencatatan yang lebih baik dan nasabahnya dan yang menabung bertambah," katanya.

Saat ini, dikatakan Hijrah, ada sekitar 500-an kelompok nasabah yang ambil bagian dari bank sampahnya. Kelompok tersebut mayoritas yang tergabung adalah ibu-ibu rumah tangga, di mana setiap satu kelompok ada 20--60 orang.

"Setiap bulan dikumpulkan kemudian kita hitung konversi menjadi Rupiah. Perkiraan kita dari data terakhir itu dengan 500-an kelompok dengan rata-rata 5--6 orang per kelompok katakan begitu, kita punya data 2.500-an orang yang tergabung dalam program ini," jelas Hijrah.

4 dari 5 halaman

Proses Seleksi

Namun masa pandemi corona Covid-19 pada Maret lalu, membuat Butik Daur Ulang sempat menyetop pelayanan tabungan sampah selama tiga bulan karena khawatir dengan kesehatan para pegawai. Lalu pada Juni 2020, program diubah dengan sistem donasi.

"Karena ada perubahan yang signifikan terhadap daya beli sampai sekarang tabungan kita tidak lanjutkan, kecuali ada beberapa kelompok masyarakat yang hubungannya sangat dekat dengan kita, yakni orang pertama yang mendukung," tambahnya.

Adapun sistem donasi ditempatkan di depan toko yang disediakan area penempatan. Meski begitu, Hijrah dan tim tetap memasukkan data ke sistem mengingat pihaknya mengusung prinsip, bahan yang masuk dan keluar harus didata.

"Setelah ditaruh beberapa saat disemprot disinfektan, dipindahkan ke workshop, proses satu minggu di workshop, lalu dihitung kembali dan tetap dicatat sebagai catatan sampah masuk, tapi kategori donasi," ungkapnya.

Sementara, sejak awal Butik Daur Ulang Project B Indonesia berkomitmen mengelola sampah kemasan dengan model pengolahan bank sampah. Yang termasuk dalam pengolahan mereka adalah sampah plastik kemasan makanan, minuman, deterjen, hingga pewangi.

"Karena kemasan hitungnya lembaran dari awal sistem, dengan catatan si nasabah menyetorkan sampahnya dalam kondisi baik, jadi tidak tercampur sampah organik, kita harapkan potongan rapi di atas potongan lurus asal bagian gambarnya kelihatan," lanjut Hijrah.

Pemilahan pun terbagi atas dua kondisi, yang bagus dan tidak bagus. Begitu pula dipilah berdasarkan ukuran kecil, sedang, atau besar dan ukuran ini yang menentukan nilai tukar yang mulai dari Rp5--Rp70 per kemasan.

"Dicatat besar kecilnya ukuran sampah, hasil mentah dimasukkan manajemen sistem bank sampah online. Bahan yang jelas tadi jadi bahan reject-nya dan kita pakai prinsip zero waste, usahanya mengolah limbah dan jangan menghasilkan limbah lagi," katanya.

Bahan yang tidak bagus itu lalu dipisahkan berdasarkan warna, dicuci, dijemur, dan disimpan. "Kita pakai jadi bahan baku untuk produk dengan rajangan yang dirajang halus dan dimasukkan ke dalam produk," jelas Hijrah.

Sedangkan bahan yang bagus, akan diolah menjadi beragam produk yang dijual showroom Butik Daur Ulang yang berada di Jalan Sukoharjo 132, Condong Catur, Depon, Sleman. Produk tersebut meliputi beauty kit, backpack, tote bag, goodie bag, piring, keranjang, dan masih banyak lagi.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: