Sukses

Kemampuan Teknis Bukan Hal Utama Dalam Fotografi Travel

Liputan6.com, Jakarta - Traveling dan fotografi sepertinya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Tak lengkap sebuah perjalanan tanpa adanya foto-foto, apalagi yang mampu menarik perhatian. Meski begitu, kemampuan teknis ternyata bukan hal utama dalam fotografi travel.

Arbain Rambey (fotografer profesional), Marrysa Tunjung Sari (fotografer professional & travel writer), Raiyani Muharramah (travel photographer & writer) menjadi narasumber dalam kegiatan KAGAMA Yuk Motret II. Kegiatan yang digagas Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP KAGAMA) ini diadakan di Bendungan Ciawi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Terdapat 51 peserta yang terdiri atas alumni UGM dan pehobi fotografi yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Kegiatan bertajuk “Story Telling in Travel Photography” ini berlangsung dari pagi sampai sore hari.

Ketua PP KAGAMA Bidang Fasilitasi Alumni, Bambang E. Marsono, mengatakan, kegiatan KAGAMA Yuk Motret merupakan program kegiatan rutin PP KAGAMA. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan fotografi alumni UGM peminat fotografi dengan menghadirkan fotografer profesional untuk memberikan latihan dan kiat praktis fotografi.

Arbain Rambey menjelaskan, foto pada dasarnya memiliki empat komponen, yaitu teknis, posisi, komposisi, dan momen. Namun, Arbain memandang, bahwa kemampuan teknis bukan yang utama. Melainkan, posisi, komposisi, dan momen saat foto diambil.

“Momen sangat penting bagi foto. Momen yang berbeda akan menghasilkan perbedaan bagai bumi dan langit,” terangnya.

“Kadang fotografer harus menciptakan momen. Misal saat foto olahraga: fotografer bisa memberi tahu atlet nanti saat mencetak gol atau sampai garis finish lakukan selebrasi yang ekspresif, berlari ke arah fotografer untuk dijepret. Hasil foto akan lebih hidup,” sambungnya.

Lelaki kelahiran Semarang ini pun menggarisbawahi, software photoshop ternyata lazim digunakan oleh fotografer profesional. Namun, katanya, Photoshop tidak mampu membuat foto jelek menjadi bagus. Termasuk mengutak-atik posisi, komposisi, dan momen.

Konsep teknis, posisi, komposisi, dan momen tersebut berlaku untuk seluruh jenis foto: manusia, landscape, benda mati, dan acara. Bagi Arbain, empat jenis foto itu punya aturan-aturan tertentu. Di foto manusia, ekspresi yang jadi fokusnya.

Saat memotret orang yang bukan model professional, fotografer harus pintar membuat nyaman orang tersebut.

“Misalnya, foto salah satu direktur bank yang kaku karena ada sopir dan ajudannya dalam ruangan. Karena jaim, sang direktur bergaya kaku ketika difoto. Fotografer sebaiknya mempersilahkan sopir dan ajudannya keluar ruangan dulu, sang direktur diajak ngobrol santai dengan cara begitu sang direktur merasa nyaman dan tidak lagi bergaya kaku” tutur Arbain.

Sedangkan saat mengambil foto out door atau foto landscape sebaiknya waktunya harus pagi atau sore hari. Beda lagi dengan foto benda mati, sudut pandang harus diperhatikan betul agar menemukan sisi yang paling bagus. Sementara itu, untuk foto acara, sebaiknya dilakukan secara berurutan. Dalam hal ini menggunakan teknik foto seri.

Arbain pun berpesan agar fotografer mampu menerjemahkan pesan dari pemesan foto.

“Pernah salah satu media besar dalam rangka ulang tahunnya meminta saya mengirim foto dengan tema “lintas generasi”, atau saat pilpres 2009 salah satu kandidat meminta foto “berpandangan ke depan dan bersih. Maka saya berusaha sebisa mungkin memenuhinya”, ujar Arbain sambil menunjukkan hasil foto lintas generasi dan foto kandidat capres/cawapres dimaksud.

Arbain juga memberikan tips kepada para fotografer yang ingin unjuk gigi dalam lomba. Menurutnya, seseorang yang mengikuti lomba harus mampu membuat foto yang bagus, indah, dan menarik.

Hal terpenting berikutnya fotografer harus menyesuaikan diri dengan tujuan lomba diadakan.

“Misal foto untuk daerah tujuan wisata, harus terlihat menarik, tidak mengambil foto obyek atau orang yang tidak terkait dengan pariwisata,” jelasnya.

“Dalam sebuah lomba, satu foto yang sejenis akan diambil dari banyak foto yang sama.Misal lomba foto untuk taman safari atau kebun binatang. Meski ada beberapa foto tentang Singa dan semuanya amat bagus, hanya akan diambil satu foto singa saja, kemudian foto hewan lain,” pungkasnya.

Tips Arbain soal foto lomba selaras dengan pernyataan Raiyani Muharramah. Lulusan Biologi Universitas Gadjah Mada ini menilai, seorang fotograger harus mampu bertindak sebagai kurator bagi dirinya sendiri. Yakni setelah mengambil puluhan atau bahkan ratusan foto. Raiyani lantas memberikan saran peralatan standar yang bisa dibawa bagi seorang fotografer.

“Dua kamera, 1 lensa standar, 1 lensa tele 90 mm, serta 1 handphone. Dua kamera digunakan bergantian agar tidak mesti mengganti lensa,” kata Raiyani“Sedangkan handphone digunakan untuk kepraktisan,” terang wanita yang menekuni fotografi secara profesional sejak 2006 ini.

Meskipun menggunakan ponsel tergolong praktis, ada tips-tips tertentu dari Raiyani agar jepretan mampu menghasilkan foto yang kece. Pertama, dekatkan obyek dengan kamera agar membuat latar belakang sesuai dengan tujuan.

Kedua, berhati-hati dalam proses mencari focus. Ketiga, Hindari shake (guncangan) dalam menekan tombil shutter. Ini bisa diminimalkan dengan menggunakan tripod, meja, tenang, menekan tombol shutter beberapa kali, atau menahan napas.

“Keempat, foto outdoor sebaiknya diambil sebelum jam 8 pagi atau sore hari. Perhatikan arah cahaya,” tukas Raiyani.

“Kelima, dalam mengambil foto terbaik, gunakan berbagai angle dan atau zoom untuk suatu obyek,” jelas sosok kelahiran Medan, 5 Februari 1973 ini.