Sukses

Jakarta Distract, Menguak Realitas Sosial Budaya Orang Jakarta

Liputan6.com, Jakarta Forum pengajar program studi seni murni Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta menggelar pameran bertajuk “Jakarta Distract” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Digelar mulai 4 hingga 17 Desember 2017, pameran ini menampilkan beragam pandangan pelaku seni dalam melihat lingkungan dan realitas sosial budaya Jakarta.

Forum studi ini menemukan kaitan antara realitas sosial budaya Jakarta sebagai budaya urban dalam fakta kesenian yang dipandang sebagai “Jakarta Distract”.

Sebanyak 16 perupa menyampaikan pesan yang dilengkapi dengan penulisan konsep. Salah satu judul karya “Tak Berarti”, menyampaikan gagasan Jakarta menggelembung dalam artefak industri dan arus informasi yang justru menjadi limbah kehidupan, sehingga limbah tersebut melekat dan bermetamorfosa menjadi fashion limbah yang diartikulasikan dalam kehidupan dan perilaku masyarakat.

Sementara itu, karya perupa Fachriza Jayadimansyah berjudul “Doa Menjelang Tidur” menggambarkan urbanisasi yang masif. Motif ekonomi menjadi biang keladinya untuk menempatkan kota sebagai acuan untuk meraih sukses. Impian dan haraoan menjadi penyemangat untuk meraih cita-cita. Di saat yang bersamaan muncul masalah identitas masyarakat sebagai perilaku distract.

Persoalan identitas juga disinggung dalam karya Jimmy Ivan Suhendro yang berjudul “Supporter”. Karya tersebut menggambarkan kumpulan individu yang membentuk massa dalam jumlah yang sangat besar. saat berada dalam kerumunan, identitas personal menjadi luntur berganti menjadi spirit yang luar biasa.

 

 

1 dari 2 halaman

Riset dan Pengembangan Seni

Fakultas Seni Rupa IKJ mengharapkan, pameran seni rupa ini mampu memberikan pencerahan, bahwa sebuah karya bukan hanya menjadi ungkapan perupa, tapi juga menjadi sebuah bahan riset dan pengembangan.

Sesuai dengan kalimat yang pernah diungkapkan Nelson Goodman, tujuan seni adalah pemahaman itu sendiri, bukan pengukuhan keyakinan, melainkan pengertian yang terus berkembang, dan tidak akan pernah berakhir.

Artikel Selanjutnya
Benteng Vredeburg Yogyakarta Bakal Putar Film Ronggowarsito hingga Tan Malaka
Artikel Selanjutnya
Mengejutkan, Inilah Pandangan Generasi Millenial Terhadap Borobudur