Sukses

Jepang Kekurangan Tenaga Perawat Kaum Manula

Liputan6.com, Jepang Dalam satu malam, Midori Ide bangun beberapa kali untuk membantu neneknya pergi ke toilet. Midori tidur di sebelah neneknya untuk memastikan ia bisa membantu sang nenek saat seketika membutuhkannya.

Itu bukanlah suatu tugas yang disukai oleh orang-orang berusia 29 tahun kebanyakan. Namun sesungguhnya Midori menyesal ia hanya bisa menjaga neneknya satu malam selama seminggu. Pada enam hari lainnya, Midori bekerja di panti jompo menjaga para manula lainnya, sementara neneknya dijaga oleh orang lain.

"Saya mengalami dilema, namun harus tetap kerja karena keluarga saya tidak kaya. Alasan saya yang lain, adalah ketika kakek meninggal saat saya masih berusia 15 tahun, bekerja sebagai pengasuh seperti panggilan hidup saya."

Ada harga yang harus dibayar Midori dengan pekerjaannya itu. Ia terpaksa meninggalkan cita-citanya pergi ke luar negeri. Ia juga hampir-hampir tidak pernah lagi menghabiskan waktu dengan teman-temannya.

"Memang, bahkan nenek khawatir saya tidak punya kesempatan memulai keluarga. Tapi saya juga tidak mau nenek berhenti membangunkan saya. Saya ingin bersama nenek membantu mewujudkan mimpinya untuk hidup 100 tahun.

Dilansir dari laman BBC News, Jumat, (19/3/2015), Midori hanya satu dari 177.600 orang usia produktif di Jepang yang merawat keluarganya. Tidak seperti Midori, kebanyakan dari mereka tidak puas dengan kehidupan seperti itu.

Seperempat dari penduduk Jepang merupakan manula berusia lebih dari 65 tahun. Jumlah ini bahkan disinyalir akan meningkat ke angka 40% pada tahun 2055 mendatang. Kebutuhan mereka untuk mendapatkan perawat pribadi mendesak. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan menyatakan Jepang perlu menambah satu juta suster dan perawat pribadi mulai tahun 2025. Baru bulan Februari lalu ada kasus seorang pria 71 tahun dipenjara akibat membunuh istrinya. Si pria tua membunuh dengan alasan ia terlalu lelah merawat sang istri. Ia juga mengaku berencana akan ikut bunuh diri setelahnya.

Salah satu solusi yang terdengar mudah adalah mendorong datangnya imigran. Sayangnya, Jepang bukan negara yang menerima imigran dengan senang hati. Hanya 2% dari penduduknya tidak berasal dari Jepang. Membuka imigrasi dalam skala besar bahkan dianggap subjek yang sensitif, bahkan ketika dikeluarkannya hukum yang membolehkan perawat dari negara asing untuk bekerja di Jepang sejak tahun 2008. Selain itu, standarnya juga tinggi. Hanya 204 perawat asing yang berhasil bekerja dan mencari kehidupan di Jepang. Menurut penulis Ayako Sono, sulitnya imigran masuk ke Jepang juga didukung oleh sikap tertutup warga Jepang dalam beradaptasi dengan orang yang berbeda latar belakang bahasa.

 

Loading