Dari Desa Cibentang, SSB Perkasa Junior Tumbuhkan Mimpi Lewat Sepak Bola

Bermodal semangat dan cinta terhadap sepak bola, sepasang suami istri di Desa Cibentang mendirikan SSB Perkasa Junior demi membuka jalan prestasi bagi anak-anak desa.

Diperbarui 13 Juni 2025, 09:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bogor - Di tengah keterbatasan sarana dan minimnya fasilitas olahraga di desa, sepasang suami istri, Putri dan Alfani, justru menemukan harapan baru bagi anak-anak Desa Cibentang, Bogor Jawa Barat. Berawal dari kepedulian melihat anak-anak bermain bola tanpa pelatih pada Oktober 2024, keduanya tergerak untuk turun langsung melatih meski tanpa bayaran dan dengan peralatan seadanya.

“Anak-anak itu punya semangat luar biasa. Sayang kalau tidak diarahkan dengan baik,” kata Putri, yang bersama suaminya adalah penggemar sepak bola dan orang tua dari atlet Persija Muda.

Didampingi warga lokal bernama Yadi, mereka membentuk komunitas latihan kecil yang perlahan tumbuh menjadi Sekolah Sepak Bola (SSB) Perkasa Junior. Tekad mereka semakin kuat ketika pada Desember 2024, beberapa pihak dari SSB lain meminta Putri mencarikan pemain untuk turnamen.

“Daripada mencari pemain dari luar, kenapa tidak kami siapkan sendiri anak-anak dari desa ini?” ujar Putri, mengenang momen lahirnya ide besar itu.

Dengan izin sementara di bawah naungan PT milik Sekretaris Desa dan menggunakan lapangan Agency sebagai basecamp hingga Desember 2025, Perkasa Junior resmi dirintis. Awalnya hanya 15 anak yang bergabung, kini jumlahnya telah berkembang menjadi 30 anak didik.

Yang membanggakan, semua ini dibangun dengan semangat gotong royong. Alfani, pelatih utama, adalah mantan guru olahraga yang kini bekerja sebagai sopir taksi. Di sela pekerjaannya, ia tetap meluangkan waktu untuk melatih anak-anak.

“Kami tidak ingin membebani anak-anak. Banyak dari mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ada yang sampai menabung dari uang jajan demi beli sepatu bola,” cerita Putri.

SSB Perkasa Junior hanya mematok biaya SPP sebesar Rp50.000 per bulan dan uang pendaftaran Rp 150.000 yang sudah termasuk jersey latihan. Meski begitu, keterlambatan pembayaran dari sebagian anak-anak bukan halangan bagi mereka untuk terus berlatih.

Kini, harapan pun mulai disematkan. Putri dan Alfani bermimpi suatu saat nanti, dari lapangan kecil di Cibentang, akan lahir pesepak bola masa depan Indonesia.

“Kami ingin Perkasa Junior menjadi tempat lahirnya anak-anak berbakat. Bukan hanya jago di lapangan, tapi juga tumbuh jadi pribadi yang disiplin dan tangguh,” ujar Alfani.