8 Ayat Al-Qur’an tentang Menjaga Lisan dari Perkataan Buruk, Tafsir dan Kandungannya

Islam memberikan perhatian khusus terhadap cara seseorang menggunakan lisannya.

Diterbitkan 17 Oktober 2026, 07:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Islam memberikan perhatian khusus terhadap cara seseorang menggunakan lisannya. Ayat Al-Qur'an tentang menjaga lisan dari perkataan buruk menjadi salah satu landasan penting dalam membentuk akhlak seorang muslim.

Lisan memang merupakan bagian tubuh yang kecil, tetapi perkataan yang keluar darinya dapat membawa dampak besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, menjaga lisan bukan hanya soal sopan santun dalam pergaulan, tetapi juga berkaitan erat dengan keimanan.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar, khususnya pada pembahasan Hifdzul Lisan, menjelaskan bahwa setiap muslim yang telah mukallaf wajib menjaga lisannya dari berbagai perkataan, kecuali ucapan yang mengandung manfaat.

Dampak buruk dari perkataan tidak hanya dirasakan dalam hubungan sosial. Dalam perspektif Islam, cara seseorang menjaga lisannya juga berkaitan dengan hubungan spiritualnya kepada Allah SWT. Karena itu, memahami ayat-ayat Al-Qur'an tentang menjaga lisan menjadi bagian penting bagi setiap muslim agar lebih berhati-hati dalam berbicara dan tidak terjerumus pada perkataan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Menjaga Lisan dari Perkataan Buruk

Dalam jurnal Kemuliaan Penjaga Lisan dari Sudut Pandang Hukum Islam (2024) karya Juliana Anggraini dkk, dijelaskan bahwa lisan dapat menjadi sumber kerugian yang besar apabila tidak dijaga, bahkan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan.

Menjaga lisan tidak hanya berarti menghindari kata-kata kasar. Seorang muslim juga dituntut untuk menjauhi gibah, fitnah, adu domba, prasangka buruk, serta penyebaran berita yang belum jelas kebenarannya. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk berkata benar, memilih ungkapan yang baik, dan mempertimbangkan dampak perkataannya sebelum disampaikan kepada orang lain.

1. QS. Al-Isra [17]: 53

Arab: وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Latin: Wa qul li‘ibādī yaqūlul-latī hiya aḥsan, innasy-syaiṭāna yanzagu bainahum, innasy-syaiṭāna kāna lil-insāni ‘aduwwam mubīnā.

Artinya: "Katakan kepada hamba-hamba-Ku yang beriman, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia."

Ayat ini memerintahkan orang-orang beriman untuk memilih perkataan yang baik dan benar dalam berkomunikasi. Sementara itu, Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menekankan pentingnya menggunakan kata-kata yang baik untuk menghindari perselisihan dan permusuhan. Berkata dengan cara terbaik bertujuan mencegah setan memanfaatkan perbedaan dan pertengkaran antarmanusia.

2. QS. An-Nur [24]: 15

Arab: إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

Latin: Iż talaqqaunahū bi'alsinatikum wa taqūlūna bi'afwāhikum mā laisa lakum bihī ‘ilmuw wa taḥsabūnahū hayyinan wa huwa ‘indallāhi ‘aẓīm.

Artinya: "(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar."

Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan penyebaran berita bohong dari satu orang kepada orang lain tanpa mengetahui kebenarannya. Adapun Tafsir As-Sa’di menekankan bahwa seseorang tidak boleh menganggap remeh dosa, termasuk menyebarkan informasi yang belum terbukti benar. Perkataan yang dianggap sepele oleh manusia bisa menjadi perkara serius di sisi Allah SWT.

3. QS. Al-Ahzab [33]: 70–71

Arab: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanuttaqullāha wa qūlū qaulan sadīdā. Yuṣliḥ lakum a‘mālakum wa yagfir lakum żunūbakum, wa may yuṭi‘illāha wa rasūlahū fa qad fāza fauzan ‘aẓīmā.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung."

Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa salah satu bentuk ketakwaan adalah mengucapkan perkataan yang benar, lurus, dan tidak menyimpang dari kebenaran. Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi juga menerangkan pentingnya perkataan yang tepat dan tidak mengandung kebatilan. Sementara itu, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa qaulan sadīdan berarti perkataan yang benar dan adil.

4. QS. Al-Hujurat [49]: 6

Arab: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanū in jā'akum fāsiqum binaba'in fa tabayyanū an tuṣībū qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥū ‘alā mā fa‘altum nādimīn.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

Tafsir: Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan kaum beriman agar tidak terburu-buru mempercayai suatu berita. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menekankan pentingnya memeriksa informasi sebelum mengambil tindakan atau menyebarkannya.

Sementara itu, Tafsir Jalalayn menerangkan bahwa kata tabayyanū berarti memeriksa dan memastikan kebenaran berita.

Ayat ini menjadi landasan penting bagi umat Islam untuk berhati-hati dalam berbicara, menyampaikan informasi, dan menghindari penyebaran kabar yang dapat merugikan orang lain.

5. QS. Al-Hujurat [49]: 12

Arab: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanujtanibū kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba‘ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasū wa lā yagtab ba‘ḍukum ba‘ḍan a yuḥibbu aḥadukum ay ya'kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumūh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."

Al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani menjelaskan bahwa kata ijtanibū merupakan perintah untuk menjauhi sesuatu. Dalam konteks ayat ini, umat Islam diperintahkan menjauhi prasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing.

Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa perilaku merendahkan atau menyakiti orang lain bertentangan dengan nilai persaudaraan dan kasih sayang. Sementara itu, Husain Thaba'thaba'i dalam Tafsir Al-Mizan menerangkan bahwa prasangka yang dilarang dalam ayat ini adalah prasangka buruk yang tidak memiliki dasar yang benar.

6. QS. Qaf [50]: 18

Arab: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Latin: Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun ‘atīd.

Artinya: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."

Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa setiap ucapan manusia, baik yang mengandung kebaikan maupun keburukan, berada dalam pengawasan malaikat yang bertugas mencatat amal.

Tafsir Al-Muyassar juga menerangkan bahwa malaikat selalu hadir untuk mencatat perkataan manusia. Adapun Tafsir Al-Baghawi menekankan bahwa tidak ada ucapan yang luput dari pencatatan tersebut.

Ayat ini mengingatkan setiap muslim agar berpikir sebelum berbicara. Perkataan bukan hanya berdampak pada orang yang mendengarnya, tetapi juga menjadi bagian dari amal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

7. QS. Al-Qalam [68]: 11

Arab: هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Latin: Hammāzim masysyā'im binamīm.

Artinya: "Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah."

Tafsir: Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa kata hammāz merujuk pada orang yang gemar mencela atau mengumpat. Adapun frasa masysyā'in binamīm menggambarkan orang yang menyebarkan adu domba dari satu pihak kepada pihak lain dengan tujuan merusak hubungan mereka.

Ayat ini mengingatkan bahwa kebiasaan mencela, mengadu domba, dan menyebarkan perkataan yang merusak hubungan antarmanusia merupakan perilaku tercela yang harus dijauhi oleh seorang muslim.

8. QS. Al-Humazah [104]: 1

Arab: وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

Latin: Wailul likulli humazatil lumazah.

Artinya: "Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela."

Tafsir: Kata wail dalam penjelasan para mufasir dimaknai sebagai ancaman kecelakaan, kebinasaan, atau azab. Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa ayat ini berisi peringatan kepada orang yang gemar mengumpat, mencela, dan menyakiti orang lain, baik secara langsung maupun di belakang mereka.

Kebiasaan merendahkan orang lain dapat merusak kehormatan, menghilangkan kepercayaan, dan menimbulkan permusuhan. Karena itu, seorang muslim perlu menjaga perkataan sekaligus menghormati martabat sesamanya.

Kandungan Pesan Ayat Al-Qur'an tentang Menjaga Lisan dari Perkataan Buruk

1. Larangan Berprasangka Buruk (Su'u Dzann) – QS. Al-Hujurat [49]: 12 secara tegas melarang umat Islam untuk berprasangka buruk terhadap orang lain tanpa dasar yang jelas. Prasangka buruk dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa dan merusak hubungan sosial.

2. Larangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain (Tajassus) – Ayat yang sama juga melarang perbuatan memata-matai atau mencari-cari kesalahan orang lain. Perbuatan ini merupakan bentuk pelanggaran privasi yang dapat menghancurkan kehormatan seseorang.

3. Larangan Menggunjing (Ghibah) – Al-Qur'an mengibaratkan pelaku ghibah seperti memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati. Ini menunjukkan betapa buruknya perbuatan tersebut dalam pandangan Allah.

4. Kewajiban Menjaga Setiap Ucapan – QS. Qaf [50]: 18 menegaskan bahwa setiap kata yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat pengawas. Tidak ada satu pun ucapan yang luput dari pencatatan, sehingga setiap muslim harus berhati-hati dalam berbicara.

5. Perintah Berkata Benar dan Baik – QS. Al-Ahzab [33]: 70-71 memerintahkan orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadīdā). Perkataan yang benar akan memperbaiki amal dan mengampuni dosa.

6. Larangan Menyebarkan Fitnah (Namimah) – QS. Al-Qalam [68]: 11 dan QS. Al-Humazah [104]: 1 melarang perbuatan mencela, mengumpat, dan menyebarkan fitnah. Pelakunya diancam dengan azab yang pedih.

7. Kewajiban Tabayun (Verifikasi Informasi) – QS. Al-Hujurat [49]: 6 memerintahkan umat Islam untuk meneliti kebenaran setiap berita yang datang, terutama dari sumber yang tidak terpercaya, agar tidak mencelakakan orang lain.

Hikmah Memahami Ayat Al-Qur'an tentang Menjaga Lisan dari Perkataan Buruk

1. Mendapat Ampunan dan Perbaikan Amal – Allah menjanjikan bahwa orang yang bertakwa dan berkata benar akan diperbaiki amal-amalnya dan diampuni dosa-dosanya (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71). Menjaga lisan adalah sebab diampuninya dosa-dosa dan sekaligus akan memperbaiki amal.

2. Jaminan Masuk Surga – Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menjamin untukku sesuatu yang berada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang berada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga" (HR. Bukhari). Menjaga lisan merupakan jaminan bagi hamba untuk masuk surga.

3. Keselamatan di Dunia dan Akhirat – Menjaga lisan menyebabkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Orang yang mampu mengendalikan lisannya akan terhindar dari permusuhan, fitnah, dan konflik sosial yang dapat merugikan dirinya sendiri.

4. Terhindar dari Api Neraka – Rasulullah SAW memperingatkan bahwa seseorang dapat terjerumus ke dalam neraka karena satu kalimat yang dianggap remeh. Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan bahwa lisan adalah kunci segala perkara, dan menjaga lisan dapat menyelamatkan seseorang dari azab neraka.

5. Meningkatkan Derajat di Sisi Allah – Allah akan mengangkat derajat orang yang menjaga lisannya. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajat karenanya" (HR. Bukhari).

 

Pertanyaan Seputar Ayat Al Quran

1. Apa saja ayat Al-Qur'an yang memerintahkan menjaga lisan?

Di antaranya QS. Al-Hujurat [49]: 12, QS. Qaf [50]: 18, QS. Al-Ahzab [33]: 70-71, QS. Al-Isra [17]: 53, QS. An-Nur [24]: 15, QS. Al-Humazah [104]: 1, QS. Al-Qalam [68]: 11, dan QS. Al-Hujurat [49]: 6.

2. Apa hukum berprasangka buruk dalam Islam?

Berprasangka buruk (su'u dzann) hukumnya haram berdasarkan QS. Al-Hujurat [49]: 12, karena sebagian prasangka itu adalah dosa.

3. Apa perbedaan ghibah dan namimah?

Ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang seseorang yang dia benci untuk disebutkan, sedangkan namimah adalah menyampaikan pembicaraan dari suatu kelompok kepada pihak lain dengan tujuan menyebabkan perselisihan.

4. Bagaimana cara menjaga lisan menurut Islam?

Cara menjaga lisan antara lain: berkata baik atau diam, berpikir sebelum berbicara, menjauhi ghibah dan namimah, serta memperbanyak dzikir kepada Allah.

5. Apa hikmah menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari?

Hikmahnya antara lain: mendapat ampunan Allah, jaminan masuk surga, keselamatan dunia akhirat, terhindar dari api neraka, dan ditinggikan derajatnya di sisi Allah.