5 Golongan Manusia yang Merugi di Akhirat Akibat Menyia-nyiakan Waktu

Ibnu Al-Qayyim dalam Zaad Al-Ma'ad menegaskan bahwa menyia-nyiakan waktu lebih buruk daripada kematian.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 11:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Golongan manusia yang merugi di akhirat akibat menyia-nyiakan waktu adalah mereka yang memiliki kesempatan hidup, namun tidak mengisinya dengan ketaatan kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, kerugian (khusr) tidak terbatas pada dimensi material, melainkan merujuk pada kerugian spiritual dan eksistensial yang hakiki.

Allah SWT bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-'Ashr [103]: 1-2, "Demi waktu, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian."

Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Al-Bukhari, "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia merugi padanya: kesehatan dan waktu luang".

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa kerugian ini adalah kegagalan memanfaatkan waktu untuk membangun iman, amal, dan nilai moral.

Ibnu Al-Qayyim dalam Zaad Al-Ma'ad menegaskan bahwa menyia-nyiakan waktu lebih buruk daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memisahkanmu dari Allah dan akhirat, sedangkan kematian memisahkanmu dari dunia dan penghuninya. Pemahaman ini penting agar manusia tidak terjebak dalam kesibukan duniawi yang melalaikan bekal akhirat.

Golongan Manusia yang Merugi di Akhirat Akibat Menyia-nyiakan Waktu

1. Orang yang Memiliki Ilmu tetapi Tidak Mengamalkannya

Golongan ini mengetahui kebenaran, namun enggan mengikutinya. Dalam QS. Al-Jumu'ah [62]: 5, Allah mengumpamakan mereka seperti keledai yang membawa kitab-kitab.

Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu tanpa amal adalah hujjah (argumentasi) yang akan memberatkan pemiliknya di akhirat.

2. Orang yang Menyembah Allah di Tepi (Munafik dalam Ibadah)

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (Vol. 4) menjelaskan bahwa mereka menyembah Allah dengan penuh keraguan. Jika mendapat kebaikan, mereka tenang; jika ditimpa cobaan, mereka berbalik kufur.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj [22]: 11, "Di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak dengan penuh keyakinan)... Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata".

3. Orang yang Lalai dari Mengingat Allah karena Harta dan Anak

QS. Al-Munafiqun [63]: 9 memperingatkan, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi."

Quraish Shihab dalam Ensiklopedia Al-Qur'an menjelaskan bahwa kelalaian ini menyebabkan hilangnya kesempatan untuk beramal saleh.

4. Orang yang Curang dalam Takaran dan Timbangan

QS. Al-Muthaffifin [83]: 1-3 mengancam, "Kecelakaan bagi orang-orang yang curang, (yaitu) mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."

Quraish Shihab menegaskan bahwa kecurangan ini termasuk dosa besar dan merugikan diri sendiri serta orang lain.

5. Orang yang Mendustakan Pertemuan dengan Allah (Kufur)

QS. Al-An'am [6]: 31 menyatakan, "Sungguh, orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah telah merugi."

Quraish Shihab menjelaskan bahwa mereka menyia-nyiakan potensi daya pikir yang dianugerahkan Allah untuk berpaling dari seruan rasul. Ibn Katsir dalam Tafsir Ibn Katsir menambahkan bahwa kerugian ini bersifat kekal dan tidak dapat ditebus dengan harta sebesar bumi pun.

Manajemen Waktu dalam Islam

1. Waktu sebagai Amanah Ilahi

Allah bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-'Ashr [103]: 1-3. Sayyid Qutb dalam Fi Zilal al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran.

2. Memprioritaskan Ibadah dan Kebaikan

QS. Al-Muzzammil [73]: 1-3 menganjurkan bangun malam untuk ibadah. Rasulullah SAW bersabda, "Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu" (HR. Al-Hakim).

3. Evaluasi Diri (Muhasabah)

QS. Al-Hasyr [59]: 18 memerintahkan, "Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." Umar bin Khattab ra. dikenal melakukan muhasabah setiap malam. Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menekankan pentingnya introspeksi harian.

4. Menghindari Kesibukan yang Melalaikan QS. Al-Munafiqun [63]: 10 memperingatkan agar tidak menunda amal saleh karena waktu yang terlewat tidak dapat dikembalikan. Ibn Al-Qayyim dalam Zaad Al-Ma'ad menyatakan bahwa waktu adalah modal utama yang tidak dapat diperbarui.

5. Disiplin dan Efisiensi

Al-Qur'an mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan aktivitas duniawi. QS. Al-Qashash [28]: 77 memerintahkan untuk mencari akhirat tanpa melupakan bagian dunia. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa umur adalah modal hidup yang akan merugi jika tidak digunakan untuk ibadah.

Hikmah Memahami Golongan Manusia yang Merugi di Akhirat

1. Menyadari Nilai Waktu yang Tak Tergantikan

Ibn Mas'ud ra. berkata, "Aku tidak menyesali sesuatu pun melebihi penyesalanku terhadap suatu hari yang matahari terbenam sementara umurku berkurang, tetapi amalku tidak bertambah". Kesadaran ini mendorong penggunaan waktu secara optimal.

2. Meningkatkan Kualitas Ibadah

Dengan memahami kerugian akibat menyia-nyiakan waktu, seorang Muslim akan lebih khusyuk dalam shalat, puasa, dan zikir. Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan dengan kesadaran waktu akan lebih bernilai di sisi Allah.

3. Membangun Kesalehan Sosial

Kerugian di akhirat juga disebabkan oleh kezaliman terhadap orang lain. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang bangkrut di akhirat adalah mereka yang datang dengan pahala shalat, puasa, dan zakat, namun pernah mencaci, menuduh, merampas harta, membunuh, dan memukul orang lain (HR. Muslim).

4. Memprioritaskan Akhirat di Atas Dunia

QS. Al-Qashash [28]: 77 mengajarkan keseimbangan. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa mengejar dunia tanpa bekal akhirat adalah kerugian hakiki. Ibn Katsir dalam Tafsir Ibn Katsir menambahkan bahwa harta dan anak tidak akan menolong di akhirat.

5. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab

Setiap waktu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. QS. Al-Isra' [17]: 36 menyatakan, "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban." Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menjelaskan bahwa pertanggungjawaban ini mencakup setiap detik yang dihabiskan manusia.

 

Pertanyaan Seputar Merugi di Akhirat

1. Siapa yang dimaksud orang merugi di akhirat?

Mereka yang menyia-nyiakan waktu, enggan beriman, dan melakukan kezaliman. Rasulullah SAW menyebutkan mereka yang datang dengan amal ibadah, namun pahala mereka habis karena kezaliman terhadap orang lain (HR. Muslim).

2. Apa dalil Al-Qur'an tentang kerugian akibat menyia-nyiakan waktu?

QS. Al-'Ashr [103]: 1-2, "Demi waktu, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian." Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa kerugian ini adalah kegagalan membangun iman, amal, dan nilai moral.

3. Bagaimana Islam memandang waktu?

Waktu adalah amanah dan modal utama. Allah bersumpah dengan waktu, dan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat yang sering disia-siakan (HR. Al-Bukhari).

4. Apa hikmah memahami golongan merugi di akhirat?

Hikmahnya adalah menyadari nilai waktu, meningkatkan kualitas ibadah, membangun kesalehan sosial, memprioritaskan akhirat, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.

5. Bagaimana cara menghindari kerugian di akhirat?

Dengan beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-'Ashr [103]: 3), serta memanfaatkan waktu untuk ibadah dan kebaikan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

 

Â