Ciri-Ciri Amalan yang Membuat Seorang Muslim Mendapat Rahmat Allah

Ayat tersebut menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah yang meliputi semua makhluk.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 09:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rahmat Allah merupakan karunia yang sangat luas dan menjadi bagian penting dari risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, kita perlu memahami ciri-ciri amalan yang membuat seorang muslim mendapat rahmat Allah menjadi salah satu tema penting dalam ajaran Islam.

Rahmat Allah begitu luas. Dalam QS. Al-A‘raf ayat 156, Allah SWT berfirman, yang artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”

Ayat tersebut menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah yang meliputi semua makhluk. Namun, terdapat pula rahmat khusus yang diberikan kepada hamba-hamba yang beriman dan menjalankan ketaatan. Syaikh Abdurrahman as-Sa‘di dalam Tafsīr al-Karīm al-Raḥmān menjelaskan bahwa rahmat khusus Allah diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman, bertakwa, menjalankan perintah-Nya, serta menjauhi berbagai larangan-Nya.

Rahmat Allah tidak hanya berkaitan dengan kehidupan akhirat. Dalam kehidupan sehari-hari, rahmat tersebut dapat terlihat melalui berbagai bentuk nikmat yang diterima manusia, seperti kesehatan, rezeki, keluarga, kesempatan untuk bertobat, hingga kemampuan untuk mengenal dan beribadah kepada Allah

Dalam kajian Ahmad Najamuddin Shiddiq berjudul “Rahmat Allah Yang Tak Terbatas: Menelusuri Ayat-Ayat tentang Kasih Sayang-Nya”, rahmat Allah digambarkan sebagai karunia yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT memperkenalkan diri-Nya dengan nama Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm, yang sama-sama menunjukkan keluasan kasih sayang-Nya. Rahmat tersebut tercermin dalam penciptaan dan pemeliharaan seluruh makhluk, turunnya hujan, pemberian rezeki, kesempatan memperoleh ampunan, hingga janji surga bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Karena itu, memahami ciri-ciri amalan yang mendatangkan rahmat Allah menjadi penting bagi seorang muslim. Amalan tersebut tidak selalu berupa ibadah yang berat atau membutuhkan banyak waktu.

Ciri-Ciri Amalan yang Membuat Seorang Muslim Mendapat Rahmat Allah

Berdasarkan Al-Qur’an, hadis Nabi SAW, dan penjelasan para ulama, terdapat sejumlah amalan yang menjadi jalan bagi seorang Muslim untuk memperoleh rahmat Allah SWT. Berikut di antaranya:

1. Menolong sesama dan memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan

Salah satu ciri orang yang mendapat rahmat Allah adalah memiliki kepedulian terhadap sesama. Dalam QS. At-Taubah ayat 71, Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang beriman saling menolong dalam kebaikan.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskannya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang memberi kemudahan bagi seseorang yang sedang dalam kesulitan, Allah pasti akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan bahwa hadis tersebut mengandung dorongan kuat agar kaum Muslimin saling membantu. Pertolongan yang diberikan kepada orang lain tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah kepada seorang hamba.

2. Amar makruf nahi mungkar

Amalan berikutnya adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam QS. At-Taubah ayat 71, amar makruf nahi mungkar disebut sebagai salah satu karakter orang-orang beriman yang mendapat rahmat Allah.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; apabila tidak mampu maka dengan lisannya; apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan an-Nasa’i)

Amar makruf nahi mungkar bukan berarti seseorang bebas menegur atau bertindak tanpa mempertimbangkan keadaan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fatḥ al-Bārī menjelaskan pentingnya menjalankan kewajiban tersebut dengan cara yang tepat. Karena itu, mengajak kepada kebaikan seharusnya dilakukan dengan ilmu, hikmah, dan mempertimbangkan kemampuan, sehingga tujuan memperbaiki keadaan tidak justru menimbulkan kemudaratan yang lebih besar.

3. Istiqamah mendirikan dan memelihara shalat

Shalat merupakan ibadah wajib yang menjadi salah satu bentuk utama kedekatan seorang hamba kepada Allah. Al-Qur’an memberikan gambaran tentang keutamaan orang yang senantiasa menjaga shalatnya.

Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 9-11)

Menjaga shalat tidak hanya berarti menunaikannya sebagai kewajiban, tetapi juga berusaha melaksanakannya dengan disiplin, tepat waktu, dan penuh perhatian. Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, Allah SWT berfirman bahwa tidak ada cara seorang hamba mendekatkan diri kepada-Nya yang lebih dicintai daripada menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan-Nya.

Karena itu, istiqamah dalam shalat menjadi salah satu tanda penting kesungguhan seorang Muslim dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

4. Menunaikan zakat dan peduli terhadap sesama

Zakat bukan hanya kewajiban yang berkaitan dengan harta, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan sosial. Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi untuk membersihkan dan menyucikan harta sekaligus jiwa orang yang menunaikannya. Zakat juga menjadi sarana untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan memperkuat kepedulian sosial.

Imam al-Qurthubi dalam al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān menjelaskan bahwa zakat berkaitan dengan penyucian jiwa dari sifat kikir dan kecintaan berlebihan terhadap harta. Dengan demikian, menunaikan zakat secara ikhlas menjadi salah satu bentuk ketaatan sekaligus kepedulian yang dapat menjadi sebab memperoleh rahmat Allah.

5. Menaati Allah dan Rasul-Nya

Ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW merupakan dasar dari seluruh amal seorang Muslim. Allah SWT secara tegas menyebut ketaatan sebagai jalan untuk mendapatkan rahmat-Nya.

Allah berfirman: “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa rahmat Allah tidak hanya diharapkan melalui doa, tetapi juga diupayakan melalui ketaatan. Seorang Muslim perlu menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam beribadah dan menjalani kehidupan.

Dalam penjelasan mengenai amal, KH. Achmad Satori Ismail menekankan pentingnya ilmu, keikhlasan, dan kesesuaian dengan sunnah Nabi SAW. Artinya, semangat beramal perlu disertai pemahaman yang benar agar ibadah tidak hanya dilakukan dengan penuh antusiasme, tetapi juga sesuai dengan tuntunan syariat.

 

Contoh Amalan Ringan Berpahala Besar untuk Mendapat Rahmat Allah

Tidak semua amalan yang mendatangkan pahala besar membutuhkan waktu lama atau tenaga yang berat. Rasulullah SAW mengajarkan sejumlah amalan sederhana yang mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. Membaca dzikir “Subḥānallāh wa biḥamdihi, Subḥānallāhil ‘Aẓīm”

Dzikir menjadi salah satu amalan ringan yang memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat di timbangan dan disukai Ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallah wa bi hamdih, Subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat tersebut mudah diucapkan kapan saja, tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam karena memuat penyucian sekaligus pujian kepada Allah SWT. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa disebut ringan di lisan karena mudah diamalkan, sedangkan berat di timbangan karena mengandung pengagungan kepada Allah.

2. Mengikuti ucapan muazin dan memperbanyak shalawat

Ketika mendengar azan, seorang Muslim dianjurkan menjawab ucapan muazin sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. Setelah itu, dianjurkan pula membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian mendengar seorang muazin, maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kalian atasku, karena sesungguhnya barang siapa yang bershalawat atasku satu kali, maka Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan keutamaan bershalawat kepada Nabi SAW. Amalan ini tergolong mudah dilakukan, tetapi memiliki keutamaan yang besar. Karena itu, memperbanyak shalawat dapat menjadi kebiasaan sederhana yang dilakukan di sela-sela aktivitas sehari-hari.

3. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir setelah shalat

Dzikir setelah shalat termasuk amalan yang ringan tetapi memiliki keutamaan besar. Salah satu bentuk yang dikenal luas adalah membaca Subhanallah sebanyak 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.

Amalan tersebut menjadi sarana untuk mengingat Allah setelah menunaikan ibadah wajib. Selain memperbanyak pahala, dzikir juga membantu seorang Muslim menjaga hubungan spiritual dengan Allah dan tidak langsung larut dalam kesibukan dunia setelah selesai shalat.

4. Bersedekah dan berinfak dengan ikhlas

Sedekah tidak selalu harus berupa pemberian dalam jumlah besar. Kemampuan setiap orang berbeda, sehingga nilai sebuah sedekah juga tidak semata-mata ditentukan oleh jumlahnya. Keikhlasan dan manfaat yang diberikan menjadi bagian penting dari amal tersebut.

Rasulullah SAW bersabda: “Allah merahmati orang yang penuh pengertian ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih haknya.” (HR. Bukhari)

Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Imam al-Ghazali menjelaskan pentingnya keikhlasan dalam bersedekah dan berbuat baik. Pemberian yang dilakukan dengan tulus, meskipun sederhana, dapat menjadi bagian dari amal yang membawa keberkahan dan mendekatkan seorang hamba kepada rahmat Allah SWT.

5. Membahagiakan sesama Muslim

Membuat orang lain merasa bahagia dan membantu meringankan kesulitannya juga termasuk perbuatan yang memiliki keutamaan besar. Bentuknya dapat sederhana, seperti membantu kebutuhan seseorang, memberikan makanan kepada orang yang lapar, membantu melunasi utang, atau menghilangkan kesusahan yang sedang dihadapi.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa di antara amalan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kebahagiaan kepada seorang Muslim, menghilangkan kesulitannya, membantu membayarkan utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kepedulian kepada sesama memiliki kedudukan penting dalam Islam. Amal yang dilakukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga menjadi bentuk ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Hikmah Memahami Ciri-Ciri Seorang Muslim Mendapat Rahmat Allah Pertama, memperkuat keimanan dan ketenangan jiwa. Memahami ciri-ciri amalan yang mendatangkan rahmat Allah membuat seorang muslim semakin yakin bahwa setiap ketaatan yang dilakukan memiliki nilai di sisi Allah. Keyakinan ini melahirkan ketenangan hati dan keteguhan iman dalam menghadapi berbagai ujian hidup, sebagaimana dijelaskan dalam jurnal Shiddiq bahwa rahmat Allah memberikan harapan dan keyakinan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni-Nya.

Kedua, menghindari keputusasaan dari rahmat Allah. Pengetahuan tentang luasnya rahmat Allah mendorong seorang muslim untuk tidak berputus asa, sebesar apa pun dosa yang telah diperbuat. Allah SWT berfirman: "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53). Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan puncak pengharapan bagi setiap hamba yang ingin kembali kepada Allah.

Ketiga, mendorong peningkatan amal kebajikan. Menyadari bahwa rahmat Allah dapat diraih melalui amalan-amalan tertentu mendorong seorang muslim untuk lebih bersemangat dalam beribadah, bersedekah, dan berbuat baik kepada sesama. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam jurnal Rasid dan Marhumah bahwa kerahmatan Islam menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat yang lebih luas, termasuk dalam hal mendoakan kebaikan dan menghormati perbedaan.

Keempat, membentuk akhlak mulia dan etika sosial. Memahami ciri-ciri penerima rahmat Allah menginspirasi seorang muslim untuk meneladani sifat-sifat kasih sayang dan kepedulian dalam berinteraksi dengan sesama. Hadis "Innamā anā raḥmatun muhdātun" mengajarkan bahwa seorang muslim harus menjadi pribadi yang berbelas kasih, toleran, dan menghargai perbedaan.

Kelima, menumbuhkan rasa syukur dan optimisme hidup. Dengan memahami betapa luasnya rahmat Allah, seorang muslim terdorong untuk lebih bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7). Syekh Muhammad Shalih Al-Munajid dalam kitab Apa Alamat Cinta Allah Kepada Hamba menjelaskan bahwa rasa syukur adalah kunci untuk membuka pintu rahmat dan keberkahan yang lebih besar.

 

Pertanyaan Seputar Menolong Sesama 

1. Apakah menolong sesama bisa menjadi sebab turunnya rahmat Allah?

Ya, menolong sesama merupakan salah satu ciri utama yang disebutkan dalam QS. At-Taubah: 71. Rasulullah SAW bersabda bahwa barang siapa yang melepaskan seorang mukmin dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskannya dari kesusahan hari kiamat (HR Muslim). Menolong sesama bukan hanya amal sosial, tetapi juga ibadah yang mendatangkan rahmat Allah.

2. Amalan ringan apa yang paling besar pahalanya?

Dzikir "Subḥānallāh wa biḥamdihi, Subḥānallāhil ‘Aẓīm" adalah amalan yang ringan di lisan namun berat di timbangan dan disukai Ar-Rahman (HR Bukhari dan Muslim). Meskipun hanya beberapa detik untuk mengucapkannya, pahalanya berlipat ganda di sisi Allah.

3. Apakah rahmat Allah hanya untuk orang yang beriman saja?

Rahmat Allah terbagi dua: Ar-Raḥmān (rahmat umum) yang mencakup seluruh makhluk tanpa memandang iman, dan Ar-Raḥīm (rahmat khusus) yang dianugerahkan kepada hamba-hamba yang beriman dan bertakwa. Rahmat khusus inilah yang mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan abadi di akhirat.

4. Bagaimana cara mengetahui bahwa amal kita diterima Allah?

Menurut Imam Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Ḥikam, di antara tanda amal diterima adalah doanya dikabulkan, banyak manusia yang mencintai dan menghargai orang tersebut, serta adanya perubahan sikap menuju kebaikan yang lebih baik.

5. Apakah bertaubat dapat menghapus dosa dan mendatangkan rahmat Allah?

Ya, Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53). Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menegaskan bahwa pintu taubat senantiasa terbuka selama hayat masih dikandung badan. Bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubatan naṣūḥā) adalah jalan tercepat untuk kembali meraih rahmat Allah.