7 Tanda-Tanda Hati yang Dekat dengan Allah, Hati Tenang dan Bahagia

Tanda-tanda hati yang dekat dengan Allah menjadi salah satu pembahasan penting dalam kajian tasawuf dan akhlak Islam.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 17:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanda-tanda hati yang dekat dengan Allah menjadi salah satu pembahasan penting dalam kajian tasawuf dan akhlak Islam. Kedekatan dengan Allah tidak hanya dipahami sebagai konsep spiritual, tetapi juga dapat tercermin melalui sikap, perilaku, dan cara seorang muslim menjalani kehidupannya.

Hati yang dekat dengan Allah akan memengaruhi cara seseorang memandang nikmat, menghadapi ujian, mencintai sesama, serta menjaga diri dari perbuatan yang dilarang agama.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

Basrian dalam jurnal Mengkaji Makna Kedekatan dan Kebersamaan Allah dengan Makhluk-Nya dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa konsep tersebut harus dipahami sesuai dengan keagungan Allah. M. Quraish Shihab menerangkan bahwa kedekatan Allah bersifat maknawi, bukan kedekatan secara fisik. Artinya, kedekatan tersebut tidak menunjukkan adanya penyatuan antara Allah dan makhluk-Nya.

Dalam konteks spiritual, kedekatan hati kepada Allah juga erat kaitannya dengan mahabbah atau kecintaan kepada-Nya. Ernaka Heri Putra Suharyanto dan Aziz Akbar dalam jurnal Mahabbah Kepada Allah SWT dan Para Makhluk-Nya menjelaskan bahwa mahabbah merupakan keadaan jiwa ketika seseorang mencintai Allah dengan sepenuh hati. Cinta tersebut kemudian tercermin dalam kehidupan dan membentuk sikap seorang hamba.

Dalam perjalanan spiritual, cinta kepada Allah menjadi salah satu tujuan tertinggi, yang kemudian melahirkan berbagai konsekuensi seperti kerinduan kepada-Nya, rasa bahagia dalam beribadah, dan keridhaan terhadap ketetapan Allah. Merujuk berbagai sumber, berikut ini adalah ulasan tanda-tanda seseorang dekat dengan Allah SWT.

Tanda-Tanda Hati yang Dekat dengan Allah

Imam Al-Ghazali dalam Mukasyafah al-Qulub menggambarkan hati sebagai cermin yang dapat memantulkan cahaya Ilahi ketika dibersihkan dari kotoran maksiat dan dorongan hawa nafsu. Karena itu, kedekatan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari upaya membersihkan hati dan memperbaiki akhlak.

1. Merasakan Manisnya Iman dan Ketenangan Hati

Tanda pertama hati yang dekat dengan Allah adalah merasakan manisnya iman. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa iman memiliki rasa manis yang tidak dapat dirasakan setiap orang, melainkan hanya oleh mereka yang memiliki tiga sifat sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW. Orang yang hatinya dekat dengan Allah akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan sejati, karena Allah menjadikan ketenangan ruh-ruh dalam kedekatan kepada-Nya.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang" (QS. Ar-Ra'd: 28). Ibnu Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa hati yang jauh dari Allah akan selalu gelisah dan tidak tenang, sementara hati yang dekat dengan-Nya akan merasakan kedamaian yang tidak dapat digantikan oleh kenikmatan duniawi apapun.

2. Memprioritaskan Cinta kepada Allah di Atas Segala-galanya

Hati yang dekat dengan Allah akan senantiasa mendahulukan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas cinta kepada segala sesuatu yang lain. Dalam kitab Pelajaran-Pelajaran Berharga, dijelaskan bahwa tanda pertama cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menjadikan keduanya lebih dicintai daripada selain keduanya. Seseorang yang hatinya dekat dengan Allah akan merasa bahwa tidak ada kebahagiaan yang sejati kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda: "Tiga hal yang barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman: yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dan seseorang mencintai seorang hamba tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia membenci dilemparkan ke dalam api" (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Selalu Merindukan dan Mendambakan Perjumpaan dengan Allah

Hati yang dekat dengan Allah akan selalu merindukan perjumpaan dengan-Nya. Kerinduan ini terwujud dalam kecintaan untuk beribadah, bermunajat, dan berzikir kepada Allah.

Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa ketika Allah mencintai seorang hamba, Dia memberikan taufik kepadanya untuk mencintai ketaatan dan merindukan perjumpaan dengan-Nya. Sebaliknya, hati yang jauh dari Allah akan merasa berat dan malas dalam beribadah.

Dalam jurnal Mahabbah Kepada Allah SWT dan Para Makhluk-Nya, dijelaskan bahwa mahabbah kepada Allah merupakan tujuan paling utama dari segala maqam. Tidak ada maqam setelah cinta kecuali ia adalah buah dan konsekuensinya, seperti kerinduan, rasa suka, dan ridha. Hati yang benar-benar mencintai Allah akan senantiasa merindukan-Nya dalam setiap keadaan.

4. Merasa Tenang dan Lapang dalam Menghadapi Ujian

Hati yang dekat dengan Allah akan merasakan ketenangan dan kelapangan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup.

Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa orang mukmin yang hatinya dekat dengan Allah akan bersabar ketika ditimpa kesusahan dan bersyukur ketika mendapatkan kegembiraan. Semua keadaan menjadi baik baginya karena ia yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah dan mengandung hikmah.

Dalam jurnal Menggaji Makna Kedekatan dan Kebersamaan Allah, dijelaskan bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-Nya yang bertakwa diwujudkan dalam bentuk pemberian dukungan, pertolongan, dan anugerah. Allah berfirman: "Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS. Al-Anfal: 46). Kebersamaan ini memberikan kekuatan dan ketenangan bagi hati yang dekat dengan-Nya.

5. Memiliki Rasa Takut yang Seimbang dengan Harapan (Optimis)

Hati yang dekat dengan Allah akan memiliki keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja'). Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa takut dan harapan adalah dua sayap keselamatan bagi seorang mukmin. Jika salah satunya berlebihan atau berkurang, maka seseorang akan berada dalam bahaya. Hati yang sehat akan takut kepada azab Allah sekaligus berharap akan rahmat-Nya.

Dalam buku Pelajaran-Pelajaran Berharga, dijelaskan bahwa takut yang benar adalah takut kepada yang gaib, yaitu takut kepada Allah ketika seseorang berada dalam kesendirian dan tidak ada yang melihatnya kecuali Allah.

Sementara harapan yang benar adalah harapan akan rahmat, ampunan, dan pahala Allah. Keduanya harus ada dalam hati seorang mukmin secara seimbang.

6. Sering Berzikir dan Mengingat Allah dalam Setiap Keadaan

Hati yang dekat dengan Allah akan senantiasa basah dengan zikir kepada-Nya. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa Nabi SAW menyebutkan bahwa orang-orang yang menyendiri telah mendahului, yaitu orang-orang laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah. Zikir bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga dihadirkan dalam hati dan diwujudkan dalam perbuatan.

Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41). Dalam jurnal Mahabbah Kepada Allah SWT dan Para Makhluk-Nya, dijelaskan bahwa mahabbah dapat diwujudkan melalui amalan-amalan seperti membaca Al-Qur'an dengan penghayatan, mendekatkan diri dengan shalat sunnah, membiasakan berzikir, dan mendahulukan cinta kepada Allah di atas hawa nafsu.

7. Memiliki Akhlak yang Baik dan Lemah Lembut terhadap Sesama

Hati yang dekat dengan Allah akan tercermin dalam akhlak yang baik terhadap sesama manusia. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa akhlak adalah karunia dari Allah yang tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. Rasulullah SAW bersabda: "Sesuatu yang paling berat dalam timbangan adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik."

Dalam jurnal Mengkaji Makna Kedekatan dan Kebersamaan Allah, dijelaskan bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah akan memiliki sifat-sifat terpuji seperti takwa, ihsan, sabar, iman, dan qurbah (kedekatan). Sifat-sifat ini akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang bernilai ibadah di sisi Allah. Akhlak yang baik merupakan bukti kesempurnaan iman seseorang.

Amalan-Amalan Agar Dekat dengan Allah SWT

1. Menunaikan Shalat dengan Khusyuk

Shalat adalah sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam jurnal Mengkaji Makna Kedekatan dan Kebersamaan Allah, dijelaskan bahwa shalat merupakan dzikir paling utama yang mengantarkan seseorang kepada taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.

Allah berfirman: "Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku" (QS. Thaha: 14). M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa shalat yang baik dan benar akan mengantar seseorang mengingat kebesaran Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa qiyamul lail adalah ibadah yang paling mulia dan taqarrub yang paling syarif. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang qiyam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosanya yang telah lalu."

2. Memperbanyak Zikir kepada Allah

Zikir adalah amalan yang paling mudah namun memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa zikir adalah makanan bagi hati, dan hati yang tidak berzikir akan menjadi keras dan gelap.

Rasulullah SAW bersabda: "Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sebaik-baik amal kalian dan yang paling agung pahalanya di sisi Raja kalian, dan yang lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh kalian lalu mereka memenggal leher kalian dan kalian memenggal leher mereka? Para sahabat berkata: Ya wahai Rasulullah! Beliau berkata: Mengingat Allah."

3. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah obat bagi hati yang sakit dan cahaya bagi hati yang gelap. Dalam jurnal Mahabbah Kepada Allah SWT dan Para Makhluk-Nya, dijelaskan bahwa membaca Al-Qur'an sambil menghayati dan memahami maknanya adalah salah satu sebab mendapatkan kecintaan Allah. Salaf shalih adalah orang-orang yang paling kuat dan sempurna responnya terhadap perintah-perintah Al-Qur'an dan As-Sunnah.

4. Menunaikan Shalat Sunnah dan Puasa Sunnah

Shalat sunnah dan puasa sunnah adalah amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dalam jurnal Mahabbah Kepada Allah SWT dan Para Makhluk-Nya, dijelaskan bahwa mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan shalat-shalat sunnah sesudah menjalankan shalat fardhu dapat mengantarkan seseorang ke tingkatan "orang yang dicintai" setelah mencapai tingkatan "orang yang mencintai." Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa puasa adalah jalan takwa dan sebab yang mewajibkan kecintaan dan keridhaan Allah.

5. Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Berbakti kepada kedua orang tua adalah amalan yang sangat dicintai Allah. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa Allah menggandengkan berbakti kepada kedua orang tua dengan mengesakan-Nya. Allah berfirman: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu" (QS. Al-Isra: 23).

6. Menjaga Silaturahmi dan Berbuat Baik kepada Sesama

Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa silaturahmi adalah ketaatan yang paling agung dan paling dicintai Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa menyambung silaturahmi, Allah panjangkan umurnya, Allah berkahi rezekinya, dan Allah luaskan umurnya."

Selain itu, berbuat baik kepada sesama, terutama kepada orang-orang lemah, fakir, dan anak yatim, juga merupakan amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

7. Menuntut Ilmu Syari'at

Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa menuntut ilmu menjadikan hamba sebagai hamba yang paling sempurna imannya kepada Allah dan ma'rifatnya kepada-Nya. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." Ilmu yang bermanfaat adalah cahaya yang menerangi manusia dalam perjalanannya menuju Allah.

Hikmah Hati yang Dekat dengan Allah

Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi dalam kitab Pelajaran-Pelajaran Berharga Jilid 3 menjelaskan bahwa manisnya iman dapat dirasakan oleh orang yang memiliki tiga sifat utama. Pertama, mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu. Kedua, mencintai seseorang semata-mata karena Allah. Ketiga, membenci jika kembali kepada kekafiran sebagaimana seseorang membenci jika dirinya dilemparkan ke dalam api.

1. Memperoleh Ketenangan dan Kebahagiaan Sejati

Hikmah pertama dari hati yang dekat dengan Allah adalah memperoleh ketenangan dan kebahagiaan sejati. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati dan kehidupan yang baik adalah dengan kedekatan kepada Allah.

Allah menjadikan ketenangan ruh-ruh dalam kedekatan kepada-Nya dan menjadikan kelezatan hidup dalam kedekatan kepada-Nya. Orang yang hatinya dekat dengan Allah akan merasakan kebahagiaan yang tidak dapat digantikan oleh harta, jabatan, atau kenikmatan duniawi lainnya.

Dalam jurnal Menggaji Makna Kedekatan dan Kebersamaan Allah, dijelaskan bahwa kedekatan Allah dengan hamba-Nya yang bertakwa diwujudkan dalam bentuk pemberian dukungan, pertolongan, dan anugerah. Kebersamaan ini memberikan kekuatan dan ketenangan bagi hati yang dekat dengan-Nya.

Allah berfirman: "Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS. Yunus: 62).

2. Dikabulkannya Doa dan Dipenuhinya Kebutuhan

Dikabulkannya doa dan dipenuhinya kebutuhan. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa orang yang berbakti kepada orang tua pada umumnya adalah orang yang mustajab doanya. Demikian pula, orang yang hatinya dekat dengan Allah akan memiliki doa yang dikabulkan.

Allah berfirman: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku" (QS. Al-Baqarah: 186).

3. Terjaga dari Fitnah dan Cobaan

Hikmah ketiga adalah terjaga dari fitnah dan cobaan. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa Allah menjaga hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya dari fitnah-fitnah yang dapat merusak agama dan dunia mereka.

Allah berfirman: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar" (QS. Ath-Thalaq: 2). Orang yang hatinya dekat dengan Allah akan diberikan kemampuan untuk menghadapi setiap ujian dengan sabar dan tawakal.

4. Memperoleh Husnul Khatimah

Hikmah keempat adalah memperoleh husnul khatimah (akhir yang baik). Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa barang siapa yang memanfaatkan kehidupan dalam ketaatan kepada Allah, maka Allah akan mengakhirinya dengan kebaikan baginya.

Jarang sekali ditemukan seorang hamba yang memelihara ketaatan kepada Allah kecuali Allah mengakhiri hidupnya dengan kebaikan. Dalam hadits shahih, disebutkan bahwa seorang hamba yang beramal dengan amalan ahli surga hingga tidak tersisa antara dirinya dan surga kecuali satu hasta, lalu takdir mendahuluinya sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia memasukinya. Oleh karena itu, husnul khatimah adalah karunia terbesar yang harus terus dimohonkan kepada Allah.

5. Memperoleh Derajat yang Tinggi di Sisi Allah

Memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa orang-orang yang berlaku adil akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di surga, dan para nabi serta syuhada iri kepada mereka.

Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak (Allah) Yang Maha Penyayang akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang" (QS. Maryam: 96). Kedekatan dengan Allah akan mengangkat derajat seseorang di dunia dan akhirat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan 

1. Apa tanda utama hati yang dekat dengan Allah?

Tanda utama hati yang dekat dengan Allah adalah merasakan manisnya iman, selalu merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan menjadikan cinta kepada Allah di atas segala-galanya. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa hati yang dekat dengan Allah akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan sejati yang tidak dapat digantikan oleh kenikmatan duniawi.

2. Bagaimana cara mengetahui apakah hati kita dekat dengan Allah?

Hati dapat diketahui dekat dengan Allah melalui indikator-indikator seperti: seringnya berzikir dan mengingat Allah, merasa tenang dalam beribadah, memiliki akhlak yang baik terhadap sesama, dan merasakan keseimbangan antara takut dan harapan kepada Allah. Dalam jurnal Menggaji Makna Kedekatan dan Kebersamaan Allah, dijelaskan bahwa kedekatan Allah dengan hamba-Nya yang bertakwa diwujudkan dalam bentuk pemberian dukungan dan pertolongan.

3. Amalan apa yang paling cepat mendekatkan diri kepada Allah?

Amalan yang paling cepat mendekatkan diri kepada Allah adalah menunaikan shalat dengan khusyuk, memperbanyak zikir, membaca dan mentadabburi Al-Qur'an, serta menunaikan shalat sunnah dan puasa sunnah. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa shalat adalah penghubung antara hamba dengan Tuhannya, dan zikir adalah makanan bagi hati.

4. Apa yang menghalangi hati untuk dekat dengan Allah?

Penghalang hati untuk dekat dengan Allah antara lain adalah syahwat yang menghalangi antara hamba dan kedekatan kepada Allah, prasangka buruk kepada Allah, dan setan yang berusaha menjauhkan hamba dari Allah. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa syahwat adalah kelezatan sesaat dan kesakitan sepanjang masa, dan prasangka buruk kepada Allah akan menjerumuskan hamba ke dalam kesesatan.

5. Bagaimana cara menjaga kedekatan hati dengan Allah?

Cara menjaga kedekatan hati dengan Allah adalah dengan istiqamah dalam ketaatan, memperbanyak doa, bergaul dengan orang-orang saleh, membaca Al-Qur'an secara rutin, dan menjauhi kemaksiatan. Syaikh Asy-Syinqithi menjelaskan bahwa doa adalah tali yang kuat dari Allah, dan barangsiapa yang berpegang teguh padanya akan selamat. Selain itu, bergaul dengan orang-orang saleh akan membantu seseorang untuk tetap teguh dalam hidayah.