Sukses

Kisah HOS Tjokroaminoto: Pendiri Sarekat Islam, Guru dan Mertua Soekarno

Liputan6.com, Banyumas - HOS Tjokroaminoto adalah pahlawan nasional yang mendirikan organisasi bercorak agama Islam yakni Serikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Karena ketokohan dan keilmuannya, dia menjadi guru untuk para aktivis muda pada zamannya.

Soekarno, Alimin, Musso, Semaun, Kartosuwiryo, Darsono, dan puluhan tokoh muda lainnya pernah belajar dan bahkan indekos di rumahnya. Di kemudian hari, murid-muridnya itu menjadi tokoh bangsa, meskipun pada akhirnya ada beberapa yang berakhir tragis karena perbedaan ideologi.

Mengutip laman Kemdikbud, HOS Cokroaminoto, sejak awal perjuangannya, dengan sangat gigih tanpa mengenal lelah telah membesarkan organisasi Sarekat Islam.

Dengan idealisme yang sangat tinggi, kakuatan fisik yang prima, kepandaiannya dalam meyakinkan orang lain, kemampuan kritisnya dalam mencari jalan keluar membuat para pengagumnya mengikuti jejak langkahnya untuk menjadi anggota Sarekat Islam.

Pemerintah Kolonial Belanda dengan sangat hati-hati melakukan imbauan agar Sarekat Islam membatasi jumlah anggotanya. Namun, kenyataannya jumlah penduduk bumi putra yang bergabung dengan Sarekat Islam semakin lama semakin banyak.

Para pendiri bangsa, khususnya Soekarno, sering berdiskusi dengan Tjokroaminoto, pemilik rumah yang mereka tempati, di saat-saat makan malam atau di saat-saat senggang mereka. Kiprah Sarekat Islam di bawah pimpinan Tjokroaminoto sangat memperhatikan penderitaan rakyat.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Sempat Dipenjara

Kasus demi kasus diselesaikannya dengan baik berkat kerja sama di antara mereka. Namun, dalam menangani keluhan rakyat ini terdapat beberapa pihak yang tersinggung yang sempat menjebloskan Tjokroaminoto ke penjara.

Perjuangannya yang tanpa pamrih, tidak menyurutkan niatnya untuk tetap mengabdi kepada kepentingan masyarakat. Perlindungan terhadap anggota organisasinya dilakukan secara maksimal.

Koordinasi yang baik dilakukan untuk mengurangi risiko seminimal mungkin. Namun, upaya Tjokroaminoto yang gigih justru membawa dirinya untuk tinggal di hotel prodeo tanpa adanya suatu alasan yang jelas.

Sosok Tjokroaminoto merupakan cerminan tokoh pada zamannya, yang berjuang untuk menuntut keadilan demi terciptanya keadilan bagi seluruh masyarakat bumi putra. Keteladanan ini ditiru oleh generasi muda untuk konsisten dalam perjuangan membela yang lemah dengan memerangi ketidakadilan guna mencapai keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keluarga HOS Tjokroaminoto

Mengutip si.or.id, kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo. Mertuanya adalah R.M. Mangoensoemo yang merupakan wakil bupati Ponorogo. Beliau adalah keturunan langsung dari Kiai Ageng Hasan Besari dari Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo.

Pada bulan Mei 1912, HOS Tjokroaminoto mendirikan organisasi Sarekat Islam yang sebelumnya dikenal Serikat Dagang Islam dan terpilih menjadi ketua. Salah satu trilogi darinya yang termasyhur adalah ”setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.‘

Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan.

3 dari 3 halaman

Menikahkan Oetari dengan Soekarno

Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai adalah Soekarno hingga ia menikahkan Soekarno dengan anaknya yakni Siti Oetari, istri pertama Soekarno.

Soekarno menikahi Oetari usianya belum genap 20 tahun. Siti Oetari sendiri waktu itu berumur 16 tahun. Soekarno menikahi Oetari pada tahun 1921 di Surabaya.

Waktu itu, Soekarno menumpang di rumah HOS Tjokroaminoto ketika sedang menempuh pendidikan di sekolah lanjutan atas. Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di THS (sekarang ITB). Soekarno kemudian menceraikan Oetari secara baik-baik.

Pesannya kepada Para murid-muridnya ialah “Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.” Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato hingga membuat kawannya, Muso, Alimin, S.M Kartosuwiryo, Darsono, dan yang lainnya terbangun dan tertawa menyaksikannya.

Tjokro meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Ia dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta, setelah jatuh sakit sehabis mengikuti Kongres SI di Banjarmasin.

Tim Rembulan

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS