Liputan6.com, Jakarta - Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Tanggal ini bukan dipilih secara acak, melainkan diambil langsung dari sebuah peristiwa penting pada 1945. Peristiwa itu bernama Resolusi Jihad, fatwa yang mengubah arah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari perjuangan satu golongan saja. Berbagai kalangan turut mengambil peran, mulai dari tentara, pemuda, hingga rakyat biasa di berbagai daerah. Santri dan kiai adalah salah satu kalangan yang ikut menyumbangkan perjuangan besar, dengan cara yang khas dan berakar pada nilai keagamaan.
Artikel ini akan mengupas sejarah Resolusi Jihad secara lengkap, mulai dari latar belakang kembalinya Belanda, pertemuan para kiai se-Jawa dan Madura, isi lengkap fatwa tersebut, hingga dampaknya terhadap Hari Santri Nasional yang kita kenang sampai hari ini. Berikut adalah ulasan selengkapnya yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (21/10/2026).
Advertisement
Proklamasi Kemerdekaan dan Kembalinya Belanda ke Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378708/original/012458300_1792559859-Indonesia_declaration_of_independence_17_August_1945.jpg)
Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Kekosongan kekuasaan ini segera dimanfaatkan para pendiri bangsa untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dua hari berselang, tepatnya 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Namun kemerdekaan itu belum sepenuhnya aman. Belanda tidak mengakui proklamasi tersebut dan berusaha menguasai kembali wilayah Indonesia. Tentara Sekutu, dalam hal ini Inggris, datang ke Indonesia sambil membawa serta Netherlands Indies Civil Administration atau NICA, yang menjadi kendaraan Belanda untuk kembali berkuasa.
Kehadiran pasukan asing ini memicu kemarahan rakyat Indonesia, termasuk kalangan pesantren. Para kiai dan santri menilai kedatangan tentara itu akan memicu peperangan baru. Kekhawatiran ini terbukti benar dan menjadi pemicu langsung pertemuan besar para ulama beberapa pekan kemudian.
Pertemuan Kiai se-Jawa dan Madura
Melihat situasi yang kian memanas, pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari, bergerak mengumpulkan kekuatan umat. Ia menggerakkan seluruh elemen bangsa, terutama kalangan pesantren, untuk bersama-sama mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.
Pada 21-22 Oktober 1945, para kiai dari seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Pertemuan ini dipimpin oleh KH Wahab Hasbullah atas arahan langsung KH Hasyim Asy'ari. Para ulama membahas sikap yang harus diambil menghadapi ancaman kembalinya penjajah.
Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan besar yang kemudian mengubah jalannya sejarah bangsa. Keputusan itu dikenal dengan nama Resolusi Jihad, sebuah fatwa yang menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajah adalah kewajiban agama bagi umat Islam.
Advertisement
Isi Resolusi Jihad 1945
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378709/original/022424800_1792559859-Hasyim_Asyari.jpg)
Resolusi Jihad ditetapkan di Surabaya pada 22 Oktober 1945 dan kemudian dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, pada 26 Oktober 1945. Dokumen ini berisi tuntutan Nahdlatul Ulama kepada pemerintah Republik Indonesia agar mengambil tindakan tegas terhadap ancaman penjajahan kembali. Berikut naskah lengkap Resolusi Jihad yang dikutip dari laman situs UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Â
Toentoetan Nahdlatoel Oelama kepada Pemerintah Repoeblik Soepaja mengambil tindakan jang sepadan Resoloesi wakil-wakil daerah Nahdlatoel Oelama Seloeroeh Djawa-Madoera
Bismillahirrochmanir Rochim
Resoloesi:
Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsoel2) Perhimpoenan Nahdlatoel Oelama seloeroeh Djawa-Madoera pada tanggal 21-22 October 1945 di Soerabaja.
Mendengar:
Bahwa di tiap-tiap Daerah di seloeroeh Djawa-Madoera ternjata betapa besarnja hasrat Oemmat Islam dan 'Alim Oelama di tempatnja masing-masing oentoek mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAOELATAN NEGARA REPOEBLIK INDONESIA MERDEKA.
Menimbang:
a. Bahwa oentoek mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hoekoem Agama Islam, termasoek sebagai satoe kewadjiban bagi tiap2 orang Islam.
b. Bahwa di Indonesia ini warga negaranja adalah sebagian besar terdiri dari Oemmat Islam.
Mengingat:
Bahwa oleh fihak Belanda (NICA) dan Djepang jang datang dan berada di sini telah banjak sekali didjalankan kedjahatan dan kekedjaman jang menganggoe ketentraman oemoem.
Bahwa semoea jang dilakoekan oleh mereka itu dengan maksoed melanggar kedaoelatan Negara Repoeblik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali mendjadjah di sini maka beberapa tempat telah terdjadi pertempoeran jang mengorbankan beberapa banjak djiwa manoesia.
Bahwa pertempoeran2 itu sebagian besar telah dilakoekan oleh Oemmat Islam jang merasa wadjib menoeroet hoekoem Agamanja oentoek mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanja.
Bahwa di dalam menghadapai sekalian kedjadian2 itoe perloe mendapat perintah dan toentoenan jang njata dari Pemerintah Repoeblik Indonesia jang sesoeai dengan kedjadian terseboet.
Memoetoeskan:
Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia soepaja menentoekan soeatoe sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap oesaha2 jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia teroetama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.
Seoapaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat "sabilillah" oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
Soerabaja, 22 Oktober 1945
NAHDLATOEL OELAMA
Â
Dampak Besar Resolusi Jihad Terhadap Perang Kemerdekaan
Fatwa ini menyebar cepat ke seluruh Nahdliyin dan umat Islam di Jawa dan Madura. Seruan jihad melawan penjajah disambut antusias oleh para santri di berbagai daerah. Wibawa KH Hasyim Asy'ari sebagai ulama besar membuat seruan ini memiliki kekuatan yang sulit diabaikan masyarakat.
Dampak paling nyata terasa di Jawa Timur. Fatwa ini mendorong santri dan Nahdliyin untuk ikut serta dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, peristiwa yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Markas Hizbullah dan Sabilillah pun tumbuh dari cabang hingga ranting NU.
Pengaruh Resolusi Jihad bahkan berlanjut hingga empat tahun berikutnya. Pertempuran demi pertempuran di berbagai daerah turut memengaruhi jalur diplomasi pemerintah Indonesia dengan pihak Sekutu, termasuk penundaan Perundingan Linggarjati dan Perundingan Renville akibat perlawanan sengit di lapangan.
Hari Santri Nasional: Mengenang Peranan Santri dalam Memperjuangkan Kemerdekaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3275265/original/051819300_1603362165-20201022-Ratusan-Santri-Doa-Istighosah-saat-Peringati-Hari-Santri-1.jpg)
Peran besar santri dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan akhirnya mendapat pengakuan resmi negara. Presiden Joko Widodo menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan ini dilakukan langsung di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Tanggal 22 Oktober dipilih karena bertepatan dengan hari lahirnya Resolusi Jihad di Surabaya. Penetapan ini menjadi bukti bahwa pemerintah mengakui kontribusi nyata ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa, bukan sekadar simbol seremonial belaka.
Hari Santri Nasional kini diperingati setiap tahun sebagai momen mengenang jasa para santri. Sejarah Resolusi Jihad mengajarkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya urusan militer, melainkan juga panggilan moral dan keagamaan yang digerakkan dari pesantren.
Pertanyaan Seputar Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad
Kapan Hari Santri Nasional diperingati? Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober, sesuai Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Siapa yang mencetuskan Resolusi Jihad? Resolusi Jihad dicetuskan oleh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dalam pertemuan kiai se-Jawa dan Madura di Surabaya.
Apa isi utama Resolusi Jihad? Resolusi Jihad menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan melawan penjajah hukumnya wajib bagi umat Islam, khususnya warga NU.
Mengapa tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri? Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari ditetapkannya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 di Surabaya.
Apa hubungan Resolusi Jihad dengan Hari Pahlawan? Resolusi Jihad mendorong santri dan Nahdliyin turut berjuang dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353288/original/089120400_1789959015-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-21T094827.860.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378631/original/096164000_1792555787-Screenshot_2026-10-21_103719.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5509468/original/005679300_1771715886-3.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4886069/original/073086300_1720423824-Ilustrasi_muslim__Islami__pesantren__santri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378015/original/054392800_1792486799-02a628ba-2755-4f77-89da-a95a4d9d69e0.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362481/original/090148000_1790812492-IMG_4341.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378789/original/055482200_1792563339-54c5ae7a-d30c-42d6-bfb6-3e416a01cdf6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455574/original/012498100_1766717374-unnamed__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315076/original/040729300_1785826533-3b030088-5842-4dd0-8a23-147b3dca5029.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355818/original/038120300_1790142530-_____Jelajahi_Pesona_Banyuwangi___Jember_dengan_Kereta_Api_Pandanwangi______Nikmati_perjalanan_seru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315264/original/033619400_1785832646-ji-jiali-r8ySJfxvESQ-unsplash.jpg)