Lebaran Tahun Ini Tanggal Berapa? Ini Jadwal Resmi Versi Muhammadiyah dan Pemerintah

Penasaran Lebaran Tahun Ini Tanggal Berapa? Simak prediksi Idul Fitri 2026 dari Pemerintah dan Muhammadiyah, lengkap dengan jadwal libur panjangnya.

Liputan6.com, Jakarta - Lebaran tahun ini tanggal berapa menjadi pertanyaan yang paling banyak dicari menjelang Ramadan dan akhir bulan suci. Informasi ini penting karena berkaitan dengan jadwal mudik, cuti kerja, hingga perencanaan ibadah bersama keluarga. Setiap tahun, penetapan Hari Raya Idul Fitri memang selalu dinanti umat Islam di Indonesia.

Perbedaan metode penentuan awal Syawal sering kali membuat tanggal Lebaran bisa berbeda antara satu ormas dan keputusan pemerintah. Namun, perbedaan tersebut merupakan bagian dari khazanah fiqih Islam yang telah berlangsung sejak lama dan tetap berada dalam koridor syariat.

Lalu, sebenarnya Lebaran 2026 atau Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada tanggal berapa? Berikut penjelasan lengkap Liputan6.com berdasarkan maklumat resmi ormas Islam dan rujukan pemerintah, serta ulasan metode penetapan 1 Syawal menurut dalil dan kajian ulama, Senin (18/2/2026).

Lebaran Tahun Ini Tanggal Berapa? Ini Penetapan Resmi 1447 H / 2026 M

Menjawab pertanyaan lebaran tahun ini tanggal berapa, terdapat dua rujukan utama di Indonesia, yakni keputusan dari Muhammadiyah dan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.

1. Versi Muhammadiyah

Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang dirilis di Yogyakarta pada 22 September 2025 (tertuang dalam dokumen resmi yang Anda lampirkan ), ditetapkan bahwa:

  • 1 Ramadan 1447 H: Rabu, 18 Februari 2026
  • 1 Syawal 1447 H (Idul Fitri): Jumat, 20 Maret 2026
  • 1 Zulhijah 1447 H: Senin, 18 Mei 2026
  • Idul Adha 1447 H: Rabu, 27 Mei 2026

Dengan demikian, menurut Muhammadiyah, Lebaran 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Penetapan ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid, serta mengacu pada prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal hasil Munas Tarjih ke-32 di Pekalongan tahun 2024 .

2. Versi Pemerintah

Sementara itu, berdasarkan kalender Hijriah dan ketentuan dalam SKB Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, pemerintah memperkirakan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Namun, pemerintah tetap akan menetapkan secara resmi melalui sidang isbat yang biasanya digelar menjelang akhir Ramadan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Artinya, terdapat potensi perbedaan satu hari:

  • Muhammadiyah: Jumat, 20 Maret 2026
  • Pemerintah (perkiraan): Sabtu, 21 Maret 2026

Perbedaan ini bukan hal baru dan telah beberapa kali terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Jadwal Libur Lebaran 2026

Berdasarkan SKB Tiga Menteri Tahun 2026, jadwal libur dan cuti bersama Idul Fitri adalah:

  • Jumat, 20 Maret 2026: Cuti bersama
  • Sabtu, 21 Maret 2026: Idul Fitri
  • Minggu, 22 Maret 2026: Idul Fitri
  • Senin, 23 Maret 2026: Cuti bersama
  • Selasa, 24 Maret 2026: Cuti bersama

Dengan jadwal tersebut, masyarakat berpotensi menikmati libur panjang hingga lima hari berturut-turut.

Bagaimana Metode Penetapan 1 Syawal?

Untuk memahami kenapa bisa berbeda, penting mengetahui metode penetapan awal bulan Hijriah.

1. Metode Rukyat (Melihat Hilal)

Metode ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad ﷺ:

“Jika kalian melihat hilal maka berpuasalah, dan jika melihatnya maka berbukalah. Jika terhalang (mendung), maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil ini menjadi landasan kuat bahwa awal Ramadan dan Syawal ditetapkan dengan rukyat (melihat hilal secara langsung).

Dalam kajian yang dimuat di Almanhaj dijelaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat hisab tidak dijadikan sandaran utama dalam penentuan awal Ramadan dan Syawal. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab-kitab mereka.

Al-Qur’an juga menyebutkan:

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Ayat ini menegaskan fungsi hilal sebagai penanda waktu ibadah.

2. Metode Hisab

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomis dengan kriteria tertentu. Jika hilal sudah wujud (walau belum terlihat), maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru.

Dalam maklumat resmi dijelaskan bahwa ijtimak (konjungsi) menjelang Syawal 1447 H telah dihitung secara cermat berdasarkan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal.

Pendekatan hisab dinilai memberikan kepastian lebih awal sehingga umat dapat merencanakan ibadah dan aktivitas jauh hari sebelumnya.

Mengapa Bisa Terjadi Perbedaan?

Perbedaan terjadi karena:

  1. Perbedaan kriteria visibilitas hilal
  2. Perbedaan penggunaan rukyat dan hisab
  3. Perbedaan pemahaman fiqih dalam menafsirkan dalil

Namun, para ulama sepakat bahwa perbedaan ini termasuk ranah ijtihad yang dibenarkan dalam Islam. Yang terpenting adalah mengikuti keputusan otoritas keagamaan masing-masing dengan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

 

FAQ Seputar Lebaran

1. Mengapa tanggal Lebaran bisa berbeda?

Karena perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah antara rukyat dan hisab.

2. Siapa yang menetapkan tanggal Lebaran di Indonesia?

Pemerintah melalui sidang isbat oleh Kementerian Agama, serta ormas seperti Muhammadiyah melalui maklumat resmi.

3. Apakah perbedaan Lebaran dibolehkan dalam Islam?

Ya, karena termasuk ranah ijtihad fiqih dan sudah terjadi sejak masa sahabat.

4. Kapan sidang isbat biasanya dilakukan?

Biasanya pada tanggal 29 Ramadan menjelang magrib.

5. Bagaimana jika terjadi perbedaan dalam satu keluarga?

Dianjurkan tetap saling menghormati dan menjaga persaudaraan.

 

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6