Sukses

8 Cara Penularan AIDS dan Mitosnya, Bisa Terjadi Melalui Jarum Suntik Bekas

Liputan6.com, Jakarta AIDS adalah salah satu tahapan paling lanjut dari infeksi HIV. Jika seseorang mengidap HIV, dan tidak menjalani pengobatan HIV, maka lebih mudah untuk virus bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh. Jika hal ini terjadi, maka orang tersebut akan berkembang menjadi AIDS. Sangat penting bagi Anda untuk mengetahui cara penularan AIDS dan mitosnya, sehingga melakukan pencegahan secara dini. 

Orang dengan AIDS memiliki sistem kekebalan yang sangat rusak, sehingga mereka mendapatkan sejumlah penyakit parah, yang disebut infeksi oportunistik. Ketika Anda mengetahui cara penularan AIDS dan mitosnya, bisa membantu Anda menghindari media penularan HIV/AIDS seperti jarum suntik. Menurut statistik terbaru dari Pusat Penyakit, Pengendalian, dan Pencegahan, tercatat kurang lebih 36,7 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. 

Cara penularan AIDS dan mitosnya bisa terjadi dengan mudah melalui pemakaian jarum suntik secara bergantian, tindik, sulam alis atau bibir. HIV adalah virus yang tergolong mematikan, di mana kematian yang disebabkan oleh virus HIV pada umumnya membutuhkan jangka waktu sedikit panjang dari mulai terserang virus sampai dengan terkena AIDS. Penderita AIDS juga lebih sering ditemukan pada orang dengan hubungan sosial yang buruk. Berbagai tekanan sosial membuat penderita virus HIV/AIDS memiliki kehidupan yang kurang baik dan memberi tekanan khusus kepada penderita.

Berikut ini cara penularan AIDS dan mitosnya yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (1/12/2022). 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

Cara Penularan AIDS

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), cara penularan HIV/AIDS hanya terjadi lewat perantara cairan tubuh tertentu diantaranya darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, cairan anus, cairan vagina, dan ASI. Berikut ini beberapa cara penularan AIDS yang perlu Anda ketahui:

1. Seks oral

Cara penularan AIDS bisa terjadi, ketika Anda merangsang atau mengulum kelamin pasangan. Penyakit ini bisa terinfeksi dengan lidah, dalam keadaan mulut yang sedang sariawan atau terluka. Adapun risiko penularan yang awalnya rendah, bisa semakin besar jika cairan ejakulasi dikeluarkan di dalam mulut. Ketika Anda berciuman dan terjadi pertukaran liur, maka virus HIV/AIDS tidak akan menyebar, namun jika terdapat luka, sariawan, atau kontak darah dengan pasangan yang memiliki virus HIV, maka kemungkinan besar penularan dapat terjadi.

2. Transfusi darah dan cangkok organ

Cara penularan AIDS juga bisa terjadi lewat transfusi darah secara langsung, baik itu dari darah yang terinfeksi berisiko tinggi untuk menularkan virus HIV. Adapun penularan virus HIV/AIDS bisa melalui keduanya ini, meskipun jarang terjadi. Saat ini, cangkok organ dan transfusi darah melewati proses yang ketat, sehingga penularan AIDS kemungkinan bisa terjadi. 

3. Jarum suntik bekas atau bergantian

Ketika jarum suntik yang digunakan secara bergantian, maka tergolong salah satu cara penularan HIV/AIDS yang paling umum terjadi. Risiko tinggi ini kerap terjadi dikalangan pengguna narkoba suntik. Penggunaan jarum suntik yang memiliki darah mengandung virus, dengan mudah berpindah ke tubuh pemakai jarum selanjutnya. Oleh karena itu, selalu gunakan jarum suntuk yang masig tersegel, dan jangan memakainya dalam keadaan terbuka.

4. Hubungan seks tanpa kondom

Cara penularan AIDS juga bisa karena hubungan seksual tanpa kondom. Hal ini karena pasangan yang memiliki riwayat HIV/AIDS, sangat mudah untuk menularkan virus di dalam darah, air mani, cairan vagina, atau bahkan cairan praejakulasi dari pengidap HIV. Cara penularan dari seks vaginal biasa dialami pasangan heteroseksual, sedangkan seks anal lebih berisiko pada pasangan homoseksual. Oleh karena penggunaan kondom disarankan bagi Anda, agar dengan mudah mencegah penularan HIV. 

 

 

 

3 dari 5 halaman

Cara Penularan AIDS

 

5. Penggunaan sex toys

Cara penularan AIDS tidak hanya melalui hubungan seksual, namun penggunaan benda atau mainan seperti boneka seks sangat berisiko menularkan penyakit. Salah satu penularannya adalah HIV/AIDS, dan semakin tinggi risikonya jika mainan seks tidak menggunakan pelindung. HIV pada umumnya tidak bisa hidup lama-lama pada permukaan benda mati, akan tetapi jika dibasahi oleh sperma, darah, atau cairan vagina bisa saja menjadi perantara virus.

6. Tindikan, sulam alis, tato alis, dan sulam bibir

Penularan HIV/AIDS juga kerap terjadi saat Anda melakukan sulam alis, tato alis, dan sulam bibir atau bahkan tindikan. Jika Anda kerap melakukan tindikan dengan alat yang digunakan secara bergantian tanpa disterilkan, maka virus dengan mudah bisa tertular. Terjadinya penularan HIV/AIDS bisa melalui kulit yang terbuka, apalagi jika Anda ditusuk dan mengeluarkan darah. 

7. Bekerja di rumah sakit

Cara penularan AIDS juga bisa terjadi kepada petugas kesehatan di klinik, atau bahkan di rumah sakit yang rentan tertular virus HIV/AIDS. Jika jarum suntik yang telah dipakai oleh pasien positif HIV, secara tidak sengaja tertancap ke petugas kesehatan, maka darah yang terkontaminasi HIV bisa mengenai membran mukosa, seperti mata, hidung, dan mulut.

8. Ibu ke bayi

Penularan AIDS juga bisa terjadi, dari ibu hamil yang terjangkit HIV sebelum dan selama kehamilan kepada bayinya lewat tali plasenta. Penularan virus HIV juga dapat terjadi selama proses persalinan, baik melahirkan normal maupun operasi caesar. Oleh karena itu, agar bayi menjadi terlindungi dari infeksi AIDS, maka ibu hamil tidak boleh memberikan air susu ibu kepada bayi yang telah dilahirkan. 

4 dari 5 halaman

Mitos dan Kebenaran AIDS

Selain cara penularan AIDS, terdapat juga beberapa mitos dari penyakit ini, diantaranya:

1. Mitos HIV adalah hukuman mati

Melansir dari laman Healthline, mitos dari penyakit HIV/AIDS adalah hukuman mati di mana “Dengan pengobatan yang tepat, kami sekarang mengharapkan orang dengan HIV untuk hidup normal,” kata Dr. Michael Horberg, direktur nasional HIV/AIDS untuk Kaiser Permanente. “Sejak tahun 1996, dengan munculnya terapi antiretroviral yang sangat aktif, orang dengan HIV dengan akses yang baik ke terapi antiretroviral (ART) dapat berharap untuk hidup normal, selama mereka meminum obat yang diresepkan,” tambah Dr. Amesh A. Adalja, seorang dokter penyakit menular bersertifikat, dan sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security. 

2. Mitos penderita HIV/AIDS bisa diketahui hanya dengan melihatnya

Jika seseorang tertular virus HIV, maka gejalanya sebagian besar biasa-biasa saja. Namun seseorang dengan infeksi HIV juga mungkin menunjukkan gejala yang mirip, dengan jenis infeksi lainnya seperti demam, kelelahan, atau rasa tidak enak badan. Dengan pengenalan awal obat antiretroviral, virus HIV dapat dikelola secara efektif. Gejala stereotip yang sering diasosiasikan orang dengan HIV, sebenarnya adalah gejala komplikasi yang dapat timbul dari penyakit atau komplikasi terkait AIDS. 

3. Mitos orang normal tidak perlu khawatir tentang infeksi HIV

Memang benar bahwa HIV lebih banyak terjadi pada pria yang juga memiliki pasangan seksual pria, atau bahkan terjadi pada orang kulit hitam, gay dan biseksual memiliki tingkat penularan HIV tertinggi. Akan tetapi kebenarannya adalah heteroseksual bisa menyumbang 24 persen dari infeksi HIV, di mana pada tahun 2016 sekitar dua pertiganya adalah perempuan. Menurut Sumber Tepercaya CDC, tingkat diagnosis HIV untuk pria kulit hitam hampir delapan kali lebih tinggi daripada pria kulit putih, dan pada 2015 59% wanita yang hidup dengan HIV di Amerika Serikat adalah orang Afrika-Amerika, sementara 19% adalah Hispanik/Latina, dan 17% berkulit putih.

4. Mitos HIV selalu mengarah ke AIDS

Tak hanya sekadar mitos, namun kebenarannya bahawa HIV adalah infeksi yang menyebabkan AIDS. Tapi ini tidak berarti semua orang HIV-positif akan langsung berkembang menjadi AIDS. AIDS merupakan salah satu adalah sindrom penurunan sistem kekebalan tubuh, yang disebabkan oleh HIV di mana dapat menyerang sistem kekebalan tubuh, dari waktu ke waktu dan berhubungan dengan melemahnya respon kekebalan tubuh dan infeksi oportunistik.

 

5 dari 5 halaman

Mitos dan Kebenaran AIDS

5. Dengan semua pengobatan modern, HIV bukanlah masalah besar

Meskipun layanan kesehatan telah mengalami kemajuan, namun dalam pengobatan HIV virus ini sangat mungkin menimbulkan komplikasi, dan risiko kematian masih signifikan bagi kelompok orang tertentu. Adapun risiko tertular HIV dan bagaimana pengaruhnya terhadap seseorang, juga memiliki variasi berdasarkan usia, jenis kelamin, seksualitas, gaya hidup, dan pengobatan. 

6. Mitos jika menggunakan PrEP, maka tidak perlu menggunakan kondom

Mitos selanjutnya, jika seseorang menggunakan PrEP, maka tidak perlu menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual. PrEP (pre-exposure prophylaxis) merupakan salah satu obat, yang dapat mencegah infeksi HIV terlebih dahulu, jika diminum setiap hari. Menurut Dr. Horberg, sebuah studi tahun 2015 dari Kaiser Permanente juga mengikuti orang yang menggunakan PrEP selama dua setengah tahun, dan menemukan bahwa sebagian besar efektif untuk mencegah infeksi HIV, sekali lagi jika diminum setiap hari.

7. Mitos jika kedua pasangan mengidap HIV, tidak ada alasan untuk menggunakan kondom

Sebuah penelitian telah menunjukkan, bahwa orang yang hidup dengan HIV/AIDS yang menjalani terapi antiretroviral secara teratur, bisa mengurangi virus ke tingkat yang tidak terdeteksi dalam darah. Konsensus medis saat ini adalah bahwa "Tidak Terdeteksi = Tidak Dapat Ditransmisikan". Akan tetapi CDC merekomendasikan bahwa, meskipun kedua pasangan memiliki HIV, mereka harus menggunakan kondom setiap melakukan hubungan seksual. Dalam beberapa kasus, adalah mungkin untuk menularkan jenis HIV yang berbeda ke pasangan, atau dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, menularkan bentuk HIV yang dianggap sebagai “superinfeksi.”

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS