Liputan6.com, Jakarta Istilah "emosional" sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Tak jarang, seseorang disebut "terlalu emosional" saat menangis atau marah berlebihan. Namun, apa sebenarnya makna dari kata "Emosional"? Apakah itu selalu bermakna negatif, ataukah ada sisi positif dari menjadi pribadi yang emosional?
Emosi merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap hari, kita berhadapan dengan beragam situasi yang dapat memunculkan perasaan senang, sedih, marah, atau bahkan haru. Reaksi emosional inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang kompleks, mampu merespons dunia secara mendalam, tidak hanya dengan logika tetapi juga dengan perasaan.
Advertisement
Untuk memahami makna emosional secara utuh, kita perlu menelusuri pengertiannya dari sudut pandang bahasa, ilmu psikologi, serta makna idiomatik yang berkembang dalam budaya populer. Berikut ulasan tentang emosional adalah bagian dari manusia, dirangkum Liputan6.com dari berbabagai sumber, Rabu(18/6/2025).
Pengertian Emosional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3228605/original/073283200_1599206228-pexels-andrea-piacquadio-3812746.jpg)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata emosional memiliki dua arti utama. Pertama, "menyentuh perasaan; mengharukan", dan kedua, "dengan emosi; beremosi; penuh emosi". Dalam konteks ini, emosional tidak selalu bermakna negatif, tetapi juga mencakup perasaan mendalam yang bisa mengharukan dan menyentuh hati.
Dalam ilmu psikologi, emosional berkaitan erat dengan kondisi afektif atau perasaan seseorang yang mencerminkan bagaimana individu merespons rangsangan internal maupun eksternal. Menurut Hanita dalam jurnal yang ia tulis berjudul Identifikasi Perkembangan Sosial Dan Emosi Di Sekolah Berdasarkan Pola Asuh Pada Anak Usia 4-6 Tahun (2017), emosi adalah aspek psikologis individu yang menjadi dasar untuk memahami emosi anak secara menyeluruh, dan bagaimana emosi dapat berperan penting dalam meningkatkan prestasi serta kesuksesan hidup. Emosi bukan hanya tentang perasaan sesaat, melainkan juga mekanisme penting dalam pengambilan keputusan dan relasi sosial.
Penelitian oleh Shelleya Dwi Fanny dkk berjudul ‘Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perkembanan Emosional anak Prasekolah Usia 3-6 Tahun’ (2020) dari UMSurabaya menyatakan bahwa perkembangan emosional anak usia prasekolah sangat krusial karena pada fase ini fondasi emosional terbentuk. Anak belajar mengenali dan mengelola perasaannya, serta mulai memahami emosi orang lain. Ketika perkembangan ini tidak berjalan optimal, risiko gangguan emosional di masa depan dapat meningkat.
Advertisement
Makna Emosional dalam Berbagai Konteks
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3109225/original/000227500_1587545167-photo-of-woman-writing-on-a-notebook-4049635__1_.jpg)
Mengacu pada Britannica Dictionary, kata emotional memiliki beberapa makna yang saling terkait. Pertama, ia berarti “berkaitan dengan emosi” seperti dalam frasa emotional disorder (gangguan emosional). Kedua, emotional digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mudah terpengaruh oleh perasaan, atau sering menunjukkan emosi secara terbuka. Misalnya, seseorang yang menangis di acara pernikahan disebut sebagai "emosional".
Ketiga, kata ini juga digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang mampu memicu perasaan mendalam, seperti an emotional speech (pidato yang menyentuh) atau an emotional experience (pengalaman yang menyentuh). Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan bahwa menjadi emosional tidak selalu berarti lemah, melainkan justru bisa menunjukkan sensitivitas dan kepedulian yang tinggi.
Dalam budaya populer, kata emotional juga sering muncul dalam konteks kritik sosial, misalnya, laki-laki dianggap "tidak boleh terlalu emosional" karena dianggap bertentangan dengan maskulinitas. Namun, pemikiran seperti ini mulai dikritisi karena membatasi ruang ekspresi perasaan yang sehat.
Literasi Emosional dan Manfaatnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3173722/original/053972700_1594197066-man-woman-are-sitting-table-talking-quarreling-with-each-other-real-quarrel-household-issues_163305-4447.jpg)
Menurut cmha.ca, kebanyakan orang sebenarnya memiliki tingkat literasi emosional yang rendah. Artinya, kita sering kali tidak tahu secara pasti apa yang sedang kita rasakan, apalagi bagaimana mengelolanya. Emosi bukan hanya sekadar perasaan; ia memiliki tiga komponen utama:
- Subjektif – bagaimana kita merasakan emosi tertentu seperti bahagia atau takut.
- Fisiologis – bagaimana tubuh bereaksi, misalnya detak jantung meningkat atau wajah memerah.
- Perilaku – bagaimana kita bertindak, misalnya menangis saat sedih atau melompat saat gembira.
Emosi berfungsi sebagai sistem peringatan tubuh, motivator, sekaligus alat komunikasi. Dalam perspektif evolusioner, emosi seperti takut membuat manusia purba lari dari bahaya, dan bertahan hidup. Selain itu, emosi juga memfasilitasi hubungan sosial. Dengan menunjukkan ekspresi emosi, kita bisa memahami dan terhubung dengan orang lain.
Menariknya, menamai emosi yang kita rasakan ternyata dapat membantu menurunkan intensitas emosi negatif. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang menggambarkan rasa takut atau cemas secara verbal, bagian otak yang memicu stres (amigdala) menjadi lebih tenang, sementara bagian otak yang mengatur pemikiran rasional (korteks prefrontal) menjadi lebih aktif.
Advertisement
Mengenal Emosi Dasar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3226174/original/034570000_1599030245-photo-1534284620380-ae6396706b89.jpg)
Emosi adalah bagian integral dari pengalaman manusia yang paling purba, dan jenis-jenis emosi dasar (basic emotions) diyakini sudah tertanam secara biologis dalam otak kita. Dalam ulasannya di laman psychologytoday.com, Neel Burton, M.D., mengupas bahwa emosi dasar terbentuk secara genetik dan berfungsi sebagai respons cepat terhadap tantangan lingkungan, terutama demi bertahan hidup.
Gagasan tentang emosi dasar telah ada sejak zaman kuno. Dalam Book of Rites, ensiklopedia Tiongkok dari abad pertama, disebutkan tujuh "perasaan manusia": kegembiraan, kemarahan, kesedihan, ketakutan, cinta, ketidaksukaan, dan kesukaan. Ini mencerminkan kesadaran awal manusia terhadap pentingnya emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada abad ke-20, psikolog Paul Ekman mengidentifikasi enam emosi dasar yang universal:
- Marah (Anger)
- Jijik (Disgust)
- Takut (Fear)
- Bahagia (Happiness)
- Sedih (Sadness)
- Terkejut (Surprise)
Sementara itu, Robert Plutchik menambahkan dua lagi dan mengelompokkannya dalam pasangan yang saling berlawanan:
- Joy – Sadness
- Anger – Fear
- Trust – Disgust
- Surprise – Anticipation
Plutchik juga mengembangkan wheel of emotions, sebuah model visual untuk menggambarkan hubungan antar emosi dasar dan turunannya.
Karakteristik Emosi Dasar
Menurut Burton, emosi dasar memiliki beberapa ciri khusus:
Bersifat bawaan dan cepat: Emosi ini muncul secara refleksif tanpa pemikiran sadar, seperti ketakutan yang timbul ketika seseorang mendadak melihat seekor hewan berbahaya.
Respons terhadap tantangan ekologis: Emosi seperti takut dan marah sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia purba yang menghadapi banyak ancaman.
Beroperasi pada sirkuit neurologis khusus: Setiap emosi memiliki jalur kerja otaknya sendiri, menjadikannya reaksi otomatis yang tak bisa ditahan oleh logika.
Contohnya, dalam pengalamannya sendiri, Burton menceritakan saat ia secara tak sengaja membuka laci dan menemukan seekor kadal besar. Ia langsung melompat mundur dan menutup laci, bahkan sebelum berpikir. Ini adalah contoh nyata dari basic fear response—insting yang langsung mengaktifkan sistem pertahanan tubuh tanpa disadari.
Emosi Kompleks: Hasil Gabungan dan Budaya
Beberapa ahli berhipotesis bahwa emosi kompleks adalah hasil dari gabungan emosi dasar. Misalnya:
- Rasa hina (Contempt) bisa dilihat sebagai gabungan antara marah dan jijik.
- Frustrasi bisa muncul dari marah yang disertai keyakinan bahwa "tidak ada yang bisa dilakukan".
Namun, Burton mencatat bahwa tidak semua emosi kompleks dapat dijabarkan dari gabungan emosi dasar. Banyak emosi yang juga terbentuk oleh pikiran atau kognisi dan bahkan konstruksi sosial. Misalnya:
- Romantic love tidak muncul dalam semua budaya, dan baru dikenal luas setelah kemunculan genre novel.
- Schadenfreude (bahagia karena orang lain menderita) adalah emosi yang sangat bergantung pada budaya dan konteks sosial.
Dengan demikian, kompleksitas emosi manusia tidak hanya dipengaruhi oleh mekanisme biologis, tetapi juga oleh nilai-nilai budaya, pengalaman pribadi, dan konstruksi sosial.
FAQ tentang Emosi dan Cara Mengelolanya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3147490/original/047128200_1591678756-young-asian-girl-phone-isolated-white-wall_231208-1110.jpg)
1. Apa itu emosi?
Emosi adalah respons kompleks terhadap stimulus internal maupun eksternal yang melibatkan aspek subjektif (perasaan), fisiologis (reaksi tubuh), dan perilaku (tindakan). Emosi bisa berupa kegembiraan, kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan sebagainya.
2. Mengapa penting memahami emosi kita sendiri?
Memahami emosi membantu kita membuat keputusan yang lebih baik, membina hubungan sosial yang sehat, dan menjaga kesehatan mental. Ini juga memungkinkan kita untuk berempati dan merespons orang lain secara lebih tepat.
3. Apa itu literasi emosional?
Literasi emosional adalah kemampuan mengenali, menamai, memahami, dan mengelola emosi. Ini merupakan keterampilan penting dalam membentuk kecerdasan emosional dan kesejahteraan psikologis.
4. Bagaimana cara mengelola emosi yang berlebihan?
Beberapa cara antara lain adalah bernapas dalam-dalam, menuliskan perasaan, bercerita kepada orang yang dipercaya, atau mencari bantuan profesional jika emosi sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.
5. Apakah menjadi "emosional" adalah sesuatu yang buruk?
Tidak selalu. Menjadi emosional bisa menunjukkan bahwa seseorang memiliki empati, kepedulian, atau kedalaman perasaan. Namun, penting untuk mengelola emosi dengan sehat agar tidak berdampak negatif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481724/original/069742900_1769143528-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-23T110013.385.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7503211/original/044195200_1780275516-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-01T075745.914.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3097523/original/081061400_1586355342-woman-standing-in-front-of-brown-wood-plank-1458826.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322381/original/046006400_1782191324-063_2282870144.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8296460/original/082795500_1782159766-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258680/original/053706900_1781401116-Folarin_Balogun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8317670/original/089667300_1782185621-AP26174019661970.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260107/original/053673600_1781571207-Preskon_Prancis-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455280/original/047575700_1766643618-000_88YV4YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8315631/original/085066700_1782183105-AP26173665939735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312895/original/060240200_1782180154-000_B7XU3W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8303531/original/058987900_1782168483-AP26173793551298-Mbappe.jpg)