El Nino Godzilla, Apa Virus Campak Bisa Bertahan di Cuaca Panas?

Kasus campak turun seiring tibanya El Nino Godzilla, bagaimana ketahanan virus saat cuaca panas?

Diterbitkan 21 April 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena El Nino yang diperkirakan melanda Indonesia pada April hingga Oktober 2026. El Nino pada tahun ini disebut-sebut menyebabkan musim kemarau lebih panas, kering, dan ekstrem sehingga disebut El Nino Godzilla.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah kondisi cuaca panas ekstrem bisa memengaruhi daya hidup virus penyebab campak?

Terkait hal ini, dokter spesialis anak, Elsye Souvriyanti, menjelaskan bahwa virus penyebab campak masuk dalam kelompok Paramyxovirus yang tidak memiliki daya tahan tinggi.

“Organisme ini tidak memiliki daya tahan yang tinggi sebetulnya, jadi kalau di luar tubuh di suhu kamar dia tiga sampai lima hari itu daya infektivitasnya, daya untuk membuat infeksinya akan turun menjadi 60 persen,” kata Elsye kepada Health Liputan6.com dalam diskusi daring bersama Rumah Sakit YARSI, Senin (20/4/2026).

Virus penyebab campak memiliki karakter mudah dihancurkan oleh sinar ultraviolet karena tidak tahan terhadap panas.

“Makanya perlu kalau ada pengidap campak di rumah, ditempatkan di kamar isolasi yang sinar mataharinya bisa masuk ke dalam kamar, supaya virus-virus yang keluar itu bisa mati,” tambahnya.

Sebaliknya, dalam kondisi dingin, virus ini bisa bertahan dalam waktu lama.

Campak Turun tapi Potensi Dengue Meningkat

Kemampuan virus campak untuk menginfeksi turun di cuaca panas ekstrem, tapi muncul potensi penyakit lain.

Kehadiran El Nino Godzilla membuat Indonesia mengalami peningkatan suhu 1,5 hingga 2 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya proses rain washing, sehingga polutan udara tidak tersapu hujan dan cenderung terakumulasi akibat udara stagnan, lapisan inversi, serta angin lemah, bahkan diperparah risiko kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap seperti disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman.

Lalu, peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyakit tular vektor seperti dengue dan malaria akibat genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk.

"Serta memperburuk kualitas air dan sanitasi yang berpotensi meningkatkan kasus diare, tifoid, kolera, dan leptospirosis," kata Aji dalam pesan tertulis beberapa waktu lalu.

Imbauan Kemenkes

Aji pun memberikan edukasi dampak El Nino dengan menerapkan protokol kesehatan untuk perlindungan diri sebagai berikut:

  • Memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau website;
  • Mengurangi aktivitas luar ruangan dan menutup ventilasi rumah/kantor/sekolah/tempat umum saat polusi udara tinggi;
  • Menggunakan penjernih udara dalam ruangan;
  • Menghindari sumber polusi dan asap rokok;
  • Menggunakan masker saat polusi udara tinggi;
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menjaga daya tahan tubuh agar tetap fit.

“Melakukan konsultasi daring/luring dengan tenaga medis/kesehatan jika muncul keluhan kesehatan khususnya masalah pernapasan,” saran Aji.