Menkes Budi Ingatkan Pekerja yang Kerap Overtime untuk Tidur Cukup

Sebanyak 40,43 Persen Pekerja Hadapi Waktu Kerja Berlebih atau Overtime, Menkes Budi: Nggak Apa-Apa yang Penting Tidur Cukup.

Diterbitkan 28 Januari 2026, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 40,43 persen pekerja di Indonesia menghadapi waktu bekerja berlebihan alias overtime.

Banyak pekerja rata-rata mencapai hampir 10 jam kerja dalam sehari. Menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menes RI) Budi Gunadi Sadikin, overtime relatif tidak bermasalah selama yang bersangkutan tetap memastikan waktu tidur ideal yakni tujuh hingga delapan jam.

"Harus tidur cukup, overtime nggak apa-apa, yang penting tidurnya 7-8 jam sehari dan jangan stres," kata Budi usai memberi sambutan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Dia menambahkan, pekerja yang kemudian menghadapi beban mental akibat overtime bisa melakukan skrining dan pemeriksaan lebih lanjut di Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemberian konseling maupun obat-obatan berdasarkan hasil diagnosis, bisa diberikan maksimal 15 hari setelah pemeriksaan.

"Kalau kesehatan mental itu mesti cek kesehatan gratis," sarannya.

Bekerja sesuai jamnya menjadi hal penting lantaran overtime atau overwork bisa memicu berbagai masalah kesehatan.

Terkait hal ini, dokter spesialis penyakit dalam - konsultan endokrin, metabolik dan diabetes dari RS EMC Sentul, Roi P. Sibarani mengatakan bahwa beban kerja bisa memicu stres yang berujung pada penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Roi mengatakan, hingga kini kasus GERD masih tinggi dengan faktor stres. Mayoritas terjadi pada usia produktif akibat tekanan pekerjaan.

“Banyak (kasusnya) karena kan faktor stres, kalau saya memeriksa sih pasien-pasien di usia produktif hampir 90 persen stres, dari kerjaan, bukan keluarga,” ujarnya.

 

Overtime Bisa Picu Burnout

Bekerja berlebihan juga dapat membuat pekerja menghadapi kelelahan mental, fisik, dan emosional yang bisa memicu burnout.

Pakar psikologi industri dan organisasi, Dr. Sumaryono, M.Si., dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan, tidak semua kelelahan psikologis dapat serta-merta disebut burnout.

Menurutnya, penting untuk memahami perbedaan antara stres, burnout, dan depresi agar dapat merespons dengan tepat dan proporsional.

Psikolog yang akrab disapa Maryono, menjelaskan bahwa burnout, stres, dan depresi merupakan tiga kondisi yang berbeda. Burnout adalah kondisi yang lebih berat karena mencakup kelelahan fisik, emosional, dan mental secara bersamaan. 

“Yang sering terjadi itu sebenarnya stres, bukan burnout. Karena burnout itu cenderung lebih parah,” kata Maryono, mengutip laman resmi UGM.

 

Apakah Gen-Z Lebih Rentan Burnout?

Sementara depresi, sambung Maryono, sudah masuk ke ranah klinis dan membutuhkan penanganan profesional yang lebih serius.

Terkait Generasi Milenial dan Generasi Z, Sumaryono tidak sepenuhnya sepakat bahwa generasi ini lebih rentan mengalami burnout jika dibanding generasi sebelumnya. Ia menilai bahwa perbedaan lebih terletak pada resiliensi terhadap tekanan.

Pengalaman yang belum banyak membuat daya tahan mereka terhadap tekanan besar masih memerlukan adaptasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak berarti generasi sebelumnya tidak mengalami tekanan, hanya bentuk dan konteksnya yang berbeda.

“Perbedaan generasi itu soal pengalaman menghadapi tekanan dan bagaimana mereka belajar untuk coping (mengatasi stres),” jelasnya.

 

 

Strategi Cegah Burnout

Maryono pun membagikan strategi realistis untuk mencegah burnout melalui metode CHANGE. Metode ini mencakup:

  • Challenge yang melihat hidup sebagai tantangan
  • Hope untuk tetap menjaga adanya harapan
  • Adaptation atau prinsip mengelola stres dan menetapkan prioritas
  • Network yang membangun jejaring untuk meminta pandangan dari mentor, hingga seseorang dan mencapai fase Growth (bertumbuh) dan Excellence (unggul).

Ia menegaskan bahwa stres tidak boleh diremehkan, tetapi juga tidak perlu diperbesar. Dengan pemahaman yang tepat, stres justru dapat menjadi energi pendorong untuk tetap mencapai produktivitas.