Biasa Multitasking? Monotasking Lebih Baik untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Multitasking yang selama ini dianggap dapat mempersingkat waktu, justru lebih butuh banyak waktu dibandingkan dengan monotasking.

Diterbitkan 06 Oktober 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kemampuan mengerjakan banyak tugas dalam satu waktu atau multitasking kini menjadi syarat khusus yang kerap tercantum dalam kumpulan skill yang dibutuhkan dalam kolom lowongan pekerjaan. 

Padahal, menurut penelitian mengerjakan banyak tugas sekaligus justru bisa mengurangi produktivitas, yang bisa tidak sejalan dengan misi perusahaan. Mengerjakan satu tugas dalam satu waktu atau monotasking dinilai lebih baik untuk kesehatan dan produktivitas. 

Dilansir dari TODAY, otak manusia tidak dirancang untuk melaksanakan banyak tugas dalam satu waktu. Thatcher Wine, penulis “The Twelve Monotask: Do One Thing at a Time to Do Everything Better” mengatakan, yang dilakukan saat multitasking sebenarnya adalah ‘beralih tugas’.

“Semua pengalihan tugas itu ada harganya. Hal ini membebani otak kita dan menyebabkan stres yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa tugas membutuhkan waktu lebih lama dan kita membuat lebih banyak kesalahan daripada jika kita mengerjakan satu hal dalam satu waktu,” jelas Wine. 

 

Multitasking Lebih Banyak Menghabiskan Waktu

Beralih dari satu tugas ke tugas lainnya juga dapat menyebabkan kelelahan kognitif. Alhasil, seseorang menjadi lebih lelah dan kurang produktif sepanjang hari. 

Seorang ahli saraf, psikiater bersertifikat, sekaligus pendiri Apollo Neuroscience, David Rabin mengatakan, setiap orang hanya mempunyai sedikit waktu untuk memperhatikan hal apa pun dalam sehari. 

Misalnya, melakukan dua tugas sekaligus dalam satu waktu seperti mengirim pesan bersamaan dengan waktu rapat, bisa menyebabkan detail penting terlewat. Akhirnya, waktu lebih lama akan dihabiskan untuk memeriksa kembali hasil rapat. 

Selain itu, di beberapa kasus, melakukan banyak tugas sekaligus bisa memengaruhi hubungan penting, seperti kehilangan kesempatan untuk terhubung dengan orang-orang terkasih. 

“Jika kita menghabiskan waktu berharga kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat–seperti gangguan atau hal yang tidak penting–makan kita sedang mengurangi waktu yang seharusnya bisa kita pakai untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar ingin kita selesaikan dan yang membawa manfaat bagi kita,” jelas Rabin. 

 

Cara Menjadi Monotasker Berbakat

Kemampuan untuk fokus dan penuh perhatian merupakan keterampilan yang harus dipelajari dan akan berkembang seiring dengan seringnya berlatih. Karena, mampu berkonsentrasi bukan kemampuan yang muncul sejak lahir. 

Wine mengatakan, pada dasarnya, monotasking adalah kegiatan mengerjakan satu hal dalam satu waktu dengan penuh konsentrasi untuk menyelesaikan satu tugas, kemudian bisa beralih pada hal lain. 

“Kuncinya adalah Anda memusatkan perhatian pada satu hal–seperti percakapan, tugas kantor, atau bahkan olahraga atau perjalanan Anda–dan menahan keinginan untuk berganti-ganti tugas,” ujarnya.

Pada seorang yang telah biasa melakukan multitasking, membiasakan diri untuk melakukan monotasking mungkin akan terasa asing pada awalnya. Namun, seiring waktu, dengan membentuknya menjadi kebiasaan, perubahan tersebut akan terasa lebih alami. 

 

 

 

Cara Meningkatkan Fokus dengan Monotasking

  • Matikan notifikasi telepon atau mengalihkannya pada mode pesawat.
  • Menyimpan telepon di ruangan lain atau di dalam tas ketika menghabiskan waktu dengan orang lain.
  • Menutup jendela email
  • Menghidupkan mode ‘fokus’ pada.
  • Membuat jadwal untuk fokus secara mendalam.
  • Tetapkan batas waktu untuk fokus pada satu tugas.
  • Temukan gangguan fokus dan kurangi sebaik mungkin.

Beberapa cara juga bisa dilakukan untuk melatih monotasking, seperti dengan latihan meditasi dan mindfulness, yoga, serta latihan pernapasan dalam.