Tanda-tanda Perceraian di Ambang Pintu Rumah Tangga Anda

Pasangan yang pada akhirnya memilih bercerai, dua kali lebih mungkin mengekspresikan kebencian saat perselisihan, dibandingkan dengan pasangan yang tetap mempertahankan pernikahannya.

Diterbitkan 16 Mei 2013, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Pasangan yang pada akhirnya memilih bercerai, dua kali lebih mungkin mengekspresikan kebencian saat perselisihan, dibandingkan dengan pasangan yang tetap mempertahankan pernikahannya.

Ekspresi ini digambarkan jauh lebih dahsyat dibanding kemarahan biasa. Itu adalah kemarahan yang dicampur dengan rasa jijik, muak dan tak ada lagi rasa hormat satu sama lain.

Menurut News.com.au, pasangan yang cenderung saling mengkritik tanpa upaya penyelesaian lebih lanjut cenderung lebih mudah bercerai.

Kritik akan beralih selangkah lebih maju, menuju keluhan pada perilaku pasangan. Dan ini sifatnya menyerang kepribadian. Sementara, mereka yang saling membela diri, tanpa solusi bersama meramalkan akhir dari sebuah hubungan.

Seperti dilansir Mid-day, Kamis (16/5/2013), jika salah satu pihak menjadikan pasangan sebagai korban, tak peduli atas perannya sendiri dan tidak bertanggungjawab dirinya juga ikut berperan dan selalu mencoba membuktikan pasangan lebih salah dari dirinya, ini adalah tanda menuju perceraian.

Jika selama perdebatan, salah satu atau keduanya mencoba menghentikan dialog, perceraian di ambang pintu.

Meski begitu, diam seribu bahasa, bukanlah solusi. Tekanan yang dirasa masing-masing akan tampak secara fisiologis seperti keringat megnucur, denyut jantung yang makin cepat.

(Adt/abd/*)