Sukses

Menkes Budi Bicara Upaya Indonesia Eliminasi TB di Forum Internasional

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, membagikan pengalaman Indonesia dalam upaya mengeliminasi Tuberkulosis (TB) saat menghadiri 'Stop TB Partnership (STP) Board Meeting ke-37' di Kota Brasilia, Brasil. Indonesia, yang merupakan negara dengan beban TB tertinggi kedua secara global, telah melakukan langkah-langkah guna memberantas penyakit Tuberkulosis dan mencatatkan keberhasilan yang signifikan pada tahun lalu.

Jumlah laporan atau deteksi kasus TB di Indonesia pada 2022 meningkat drastis dari sebelumnya, mencapai 700 ribu kasus, dan bahkan 800 ribu kasus pada 2023. "Indonesia sebelumnya hanya bisa mendeteksi kasus TB sebanyak 400 s.d 500 ribu, bahkan turun menjadi sekitar 300 ribu selama pandemi COVID-19," ujar Menkes Budi seperti dikutip dari SehatNegeriku pada Minggu, 11 Februari 2024, sore.

Lebih lanjut Menkes Budi menyatakan komitmen Indonesia untuk terus meningkatkan jumlah kasus yang dilaporkan, dengan target mencapai 900 ribu dari perkiraan 1 juta kasus TB pada 2024. "Indonesia juga berkomitmen menyediakan pengobatan TB yang lebih singkat, memperkuat kolaborasi dengan komunitas, serta melakukan inovasi pembiayaan untuk layanan TB," tambahnya.

Menurut Budi Gunadi Sadikin, upaya keras, ketekunan, dan kemauan untuk belajar serta berkorban telah membuktikan bahwa pemberantasan TB secara global bukanlah hal yang mustahil, tapi merupakan kesuksesan masa depan yang dapat diraih secara bersama-sama. Ia menekankan bahwa eliminasi TB akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya untuk memberantas TB, salah satunya adalah dengan berkolaborasi dengan masyarakat dan kader kesehatan untuk menyaring 2,2 juta populasi yang berisiko tinggi terhadap Tuberkulosis.

 

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Inovasi dalam Diagnosis TB

Selain itu, Indonesia juga mendorong inovasi dalam diagnosis TB dengan memproduksi lima alat deteksi TB berbasis PCR, yang dapat dimanfaatkan oleh 1.000 laboratorium PCR yang sudah ada di Indonesia. Upaya lainnya adalah melalui Inisiatif Ilmu Biomedis dan Genom (BGSi), yang bertujuan untuk meningkatkan surveilans TB dengan pengurutan genom pada sampel TB MDR.

Indonesia juga memastikan pengobatan TB dapat diakses oleh semua orang dengan meluncurkan regimen oral jangka pendek untuk TB resisten obat (TBC RO), yang membantu mempersingkat durasi pengobatan menjadi enam bulan.

Tidak hanya di tingkat nasional, komitmen Indonesia juga terlihat di level global, di mana Indonesia bersama Nigeria, Filipina, dan Polandia memprakarsai Aliansi Negara-negara untuk Memerangi Tuberkulosis. Menkes Budi menyatakan,"Saya percaya bahwa dengan menyatukan kekuatan, kita bisa menang melawan Tuberkulosis."

3 dari 3 halaman

Menkes Budi Dorong Percepatan Pengembangan Vaksin Tuberkulosis Baru

Masih dari kesempatan yang sama, sebelumnya Menkes Budi menekankan pentingnya percepatan penyediaan vaksin Tuberkulosis (TBC) baru. Budi, menyatakan, vaksin TBC dapat menjadi solusi ekonomis dan bermanfaat dalam mengurangi dampak ekonomi akibat biaya perawatan kesehatan dan kehilangan produktivitas masyarakat.

Lebih lanjut Budi, mengatakan, dalam upaya mencapai eliminasi TBC pada tahun 2030, Indonesia hanya punya waktu tiga tahun untuk mengembangkan vaksin Tuberkulosis agar dapat digunakan mulai tahun 2028. "Pengembangan vaksin harus dilakukan secara fokus," kata Menkes Budi

Sebagai anggota dewan dari negara yang terdampak TBC, Menkes Budi juga mengusulkan kepada anggota negara G20 untuk melakukan investasi yang cukup guna memastikan ketersediaan vaksin TBC baru dalam tiga tahun ke depan.

Saat ini, vaksin TBC yang tersedia hanya vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) yang memberikan perlindungan sebagian untuk bayi dan anak usia dini. Namun, perlindungan ini tidak mencukupi untuk mencegah TBC pada anak dan orang dewasa.

Pengembangan vaksin TBC yang efektif untuk semua usia sangat diperlukan guna mencapai penurunan insidens sebesar 90 persen dan penurunan kematian akibat TBC sebesar 95 persen. Selain itu, vaksin TBC juga berpotensi untuk menahan penyebaran TBC resisten obat.

TBC resisten obat adalah jenis tuberkulosis yang tidak merespons pengobatan standar yang umumnya efektif guna mengobati infeksi TB.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.