Sukses

188 WNI dari Kapal World Dream Akan Sampai Pulau Sebaru Jumat Dini Hari

Liputan6.com, Jakarta Sebanyak 188 anak buah kapal (ABK) World Dream yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) berhasil dievakuasi.

Pada Rabu tanggal 26 Februari 2020 pukul 10.55 hingga 13.50 WIB di Perairan Selat Durian, Kepulauan Riau telah dilaksanakan evakuasi terhadap 188 orang WNI ke KRI dr. Suharso 990 oleh Tim Evakuasi gabungan dipimpin oleh Danguskamla Koarmada I, Laksma TNI Yayan Sofiyan, SE. dengan anggota Tim Terpadu 17 orang.

Menurut laman Kemenkes, kapal World Dream sejak Senin 24 Februari 2020 pukul 22.00 WIB, sudah berada di Perairan Selat Durian. Sementara pada Rabu pukul 06.55 WIB KRI Cut Nyak Dien 375 berangkat dari Dermaga Pelabuhan Batu Ampar mengangkut Tim Evakuasi gabungan dipimpin Danguskamla Koarmada I (Laksma TNI Yayan Sofiyan, SE) menuju titik labuh jangkar Kapal World Dream di Perairan Selat Durian.

Pukul 08.55 WIB, KRI Cut Nyak Dien 375 tiba di area labuh jangkar Kapal World Dream sambil menunggu kedatangan KRI dr. Suharso 990 sebagai kapal pengangkut ABK World Dream.

Pada pukul 09.25 WIB KRI dr. Suharso 990 tiba di titik labuh jangkar Perairan Selat Durian. Pukul 09.50 hingga 10.05 WIB KRI Cut Nyak Dien 375 selesai proses ship to ship (sandar) ke lambung kanan KRI Suharso 990.

Evakuasi menggunakan speed boat

Proses evakuasi dimulai, diawali transfer bagasi ABK World Dream menggunakan Speed Boat milik World Dream ke KRI dr. Suharso 990 dan dilakukan disinfektan.

Transfer bagasi ke KRI dr. Suharso 990 selesai pada 11.10, speed boat kembali ke Kapal World Dream untuk mengangkut ABK. Mereka mulai dipindahkan pada pukul 11.15.

Proses evakuasi ABK World Dream ke KRI dr. Soeharso selesai pada pukul 11.30 dengan jumlah barang bawaan 207 koli dan 188 orang terdiri dari 172 Laki-laki dan 16 wanita.

Kapal World Dream angkat jangkar dan berlayar meninggalkan area perairan Selat Durian menuju ke Philipina. Sementar terhadap ABK di KRI dr. Soeharso tengah dilaksanakan disinfektan, pengecekan kesehatan (suhu tubuh) dan pengambilan sample darah oleh Tim dari KKP Kelas I Batam dan Balitbangkes/BBLK Jakarta di Palka (ruangan dalam kapal) KRI dr. Suharso 990.

Hasil dari pengecekan suhu tubuh semua ABK, rata-rata normal tidak ada yang di atas 38 derajat celcius. Dilakukan pemeriksaan lanjut oleh tim kesehatan KRI dr. Soeharso, dan dinyatakan tidak terindikasi COVID-19.

Hasil pengambilan sampel tenggorokan didapat 188 sampel. Untuk pengambilan sampel darah didapat 70 sampel darah, dan akan dilanjutkan di daerah tujuan (Sebaru).

Selanjutnya petugas medis dan Tim Evakuasi lainnnya meninggalkan KRI dr. Soeharso 990 dan on board kembali ke KRI Cut Nyak Dien 375.

Pukul 14.30 WIB KRI dr. Suharso yang mengangkut 188 orang WNI/Crew MV. World Dream angkat jangkar dan berlayar meninggalkan Perairan Selat Durian menuju ke Pulau Sebaru, Kep. Seribu, Jakarta.

Diperhitungkan, pada Jumat (28/2) dini hari sekitar pukul 03.00 KRI Soeharso sudah sampai di Pulau Sebaru. Selanjutnya para ABK dapat diatur penempatannya untuk memulai observasi.

 

2 dari 3 halaman

Pemeriksaan ulang

Hasil pemeriksaan lanjut oleh tim kesehatan KRI dr. Soeharso, 188 ABK dinyatakan tidak terindikasi virus corona atau COVID-19. Namun pemeriksaan ulang akan dilakukan guna mencegah masuknya virus corona di Indonesia.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. Ahmad Yurianto mengatakan telah menyiapkan tim kesehatan untuk melakukan pengecekan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

ABK tersebut juga akan diambil spesimennya oleh Badan Litbangkes yang kemudian diperiksa di Jakarta. Ia menegaskan meskipun hasil pemeriksaan otoritas Hongkong terhadap ABK Indonesia dinyatakan negative Covid-19, mereka tetap akan diperiksa ulang kesehatannya dan diobservasi selama 14 hari di Pulau Sebaru Kecil.

“Kita tetap akan melakukan pemeriksaan, setelah itu kita akan bawa ke Pulau Sebaru Kecil,” tambahnya.

Ia juga mengatakan, tim kesehatan yang akan bertugas sebanyak 30 orang yang terdiri dari beberapa sub tim mendampingi proses observasi selama 14 hari.

“Terdiri dari beberapa sub tim yang akan memantau kondisi kesehatan ABK setiap hari. Kami akan menggunakan pola yang sama dengan proses observasi di Natuna. Kita akan melakukan pemeriksaan pagi dan sore,” katanya, Selasa (25/2) melalui telekonferensi di Gedung Kemenkes, Jakarta.

Lebih rinci ia menjelaskan ada sub tim Kesehatan Lingkungan yang bertanggungjawab terhadap kesehatan lingkungan, kondisi lingkungan, penanganan sampah, termasuk pengawasan dapur dan kualitas bahan makanan.

Sub tim Surveilans, bertanggungjawab melakukan pencatatan hasil pengukuran, pendatan dan pengolahan data penyakit potensial mewabah, serta melaporkannya ke Kemenkes.

“Ini (data dari Surveilans) jadi bahan evaluasi untuk menentukan policy lebih lanjut,” kata dr. Ahmad.

Sub tim Layanan Medis terdiri dari 1 dokter spesialis paru, 1 dokter spesialis Penyakit Dalam, dokter umum, dan beberapa perawat.

3 dari 3 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini: