Sukses

Tragedi Situ Gintung, Awal Mula Sutopo Purwo Nugroho Berkarier di BNPB

Liputan6.com, Jakarta Kabar Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia membuat publik Tanah Air berduka. Sutopo mengembuskan napas terakhir di rumah sakit di Guangzhou, Tiongkok pada Minggu, 7 Juli 2019 dini hari.

Ia tengah menjalani perawatan kanker paru stadium 4B di Guangzhou. Walaupun tubuhnya digerogoti kanker paru, Sutopo tetap bekerja dengan semangat menyampaikan informasi bencana.

Sosok Sutopo Purwo Nugroho sebagai Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB pun dikenal baik di mata jurnalis dan masyarakat. Ia pernah bercerita mengenai perjalanan kariernya sebelum bergabung di BNPB. Dulu, Sutopo bercita-cita menjadi guru/dosen atau peneliti.

“Cita-cita saya dulu pengin jadi guru, dosen atau peneliti. Pekerjaan pertama pertama di universitas tahun 1994. Selepas lulus, saya sempat mengajukan 37 lamaran. Dari 37 lamaran itu, yang mendapat respons 10 lamaran.  Saya akhirnya diterima di BPPT. Waktu itu ditempatkan di bagian UPT Hujan Buatan selama tujuh tahun,” cerita Sutopo dalam sebuah tayangan talk show pada November 2018.

Di UPT Hujan Buatan, ia menangani mitigasi bencana. Saat bekerja di BPPT, ia meneliti tanggul Situ Gintung, Cireundeu, Tangerang, Banten, yang mana tanggul tersebut jebol pada Jumat, 27 Maret 2009 dan memakan nyawa lebih dari 105 orang meninggal.

“Dua bulan sebelumnya (tanggul jebol) saya melakukan penelitian di sana, meneliti kualitas air. Saat itu saya amati, di bawah tanggul, perkampungan padat sekali. Bahaya sekali. Kejadian tanggul Situ Gintung jebol akhirnya saya sampaikan. Saya analisis kejadian itu. Banyak media mencari saya. Lantas saya dipanggil kepala BNPB pada waktu itu untuk menjelaskan tragedi tersebut,” lanjut Sutopo Purwo Nugroho.

2 dari 4 halaman

Diminta Bergabung di BNPB

Bermula dari analisis Sutopo tentang tanggul Situ Gintung, saat Bengawan Solo banjir besar pada 2010, ia pun kembali dipanggil kepala BNPB untuk menjelaskan banjir tersebut. Analisis Sutopo pun membuatnya diminta bergabung di BNPB.

“Saya diminta bergabung di BNPB. Waktu itu saya menjabat sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana, dilantik pada Agustus 2010. Baru saja saya dilantik, ada tiga bencana besar yang terjadi, yakni banjir bandang Wasior di Papua, tsunami Mentawai, dan erupsi Gunung Merapi. Semua kejadian hampir bersamaan waktunya. Ya, saya menyampaikan analisis kajadian itu,” Sutopo melanjutkan.

Analisis mendalam tersebut berujung Sutopo diminta pindah menjabat sebagai Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB.

“Awalnya, saya menolak. Bayangan saya, humas itu terlalu birokrasi. Tapi akhirnya saya jalani. Saya dilantik pada November 2010. Semua saya nikmati,” ujarnya.

Jabatan di Humas BNPB membuat Sutopo dikenal wartawan. Ketika bencana terjadi, banyak sekali wartawan yang bertanya.

“Pertanyaan (dari wartawan) soal kejadian bencana itu kerap berulang-ulang. Ya, saya maklumi karena background mereka kan dari berbagai bidang. Saya sering menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami,” tambah Sutopo.

3 dari 4 halaman

Profil Sutopo

Dikutip dari berbagai sumber, Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah pada 7 Oktober 1969. Ia adalah putra dari pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari.

Ia menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada tahun 1993 dan  menyelesaikan pendidikan MSc dan PhD nya di Institut Pertanian Bogor bidang hidrologi. Sutopo mulai bekerja di instansi pemerintah sejak tahun 1994. Kemudian mengawali kariernya di Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT).

Sutopo pernah didapuk sebagai Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana, Pusat Teknologi Pengelolaan Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pada tahun 2010, ia dipercaya menjabat Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB. Di tahun yang sama, Sutopo dilantik sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. Jabatan tersebut pun diampunya hingga saat ini.

4 dari 4 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Indonesia Berkabung, 6 Tokoh Inspiratif Berpulang di Tahun 2019