Sukses

Gejala Usus Buntu Ringan Hingga Berat Ini Wajib Kamu Tahu, Waspada Sejak Dini

Liputan6.com, Jakarta Sering mengalami sakit perut bagian bawah hingga membuat kamu sulit aktivitas sehari-hari? Bisa jadi kamu mengalami gejala usus buntu. Penyakit usus buntu atau dalam istilah medisnya disebut dengan apendisitis adalah kondisi yang menyebabkan peradangan pada usus buntu. Usus yang buntu sendiri adalah sebuah organ berbentuk selang kecil dan tipis yang menempel pada bagian awal usus besar.

Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera. Jika tidak, usus buntu akan pecah dan menyebabkan infeksi berat yang dapat mengancam nyawa. Oleh sebab itu, penting bagi kamu untuk mewaspadai tanda dan gejala awal dari usus buntu. Dengan begitu, kamu dapat mengurangi risiko komplikasi dari penyakit ini di kemudian hari.

Gejala usus buntu yang paling khas adalah rasa nyeri di perut. Meski begitu, penting untuk diketahui bahwa gejala usus buntu tidak hanya sekadar sakit perut saja. Ada gejala usus buntu lainnya yang bisa terjadi.

Berikut gejala usus buntu yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (7/1/2019).

2 dari 7 halaman

Sakit perut bagian kanan bawah

Gejala usus buntu yang pertama adalah sakit perut bagian kanan bawah. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, usus buntu biasanya diawali dengan gejala nyeri atau kram pada perut yang terjadi secara mendadak. Akan tetapi kebanyakan orang lebih sering mengalami sakit perut yang intens dibanding dengan kram perut. Gejala usus buntu satu ini terjadi karena usus buntu mengalami pembengkakan dan peradangan. Hal tersebut pun mengiritasi lapisan dinding perut, sehingga Anda jadi mengalami nyeri di bagian perut.

Lokasi nyeri yang akan dialami pasien mungkin berbeda-beda, tergantung pada usia dan posisi usus buntunya. Dalam banyak kasus, nyeri perut ini dimulai pada perut tengah atas dekat pusar dan biasa berpindah ke bagian perut kanan bawah. Namun, ada beberapa orang yang mengalami usus buntu di bagian belakang sehingga rasa sakit, nyeri, atau kram terjadi di punggung bagian bawah atau panggul.

Sementara jika kamu sedang hamil, rasa nyeri mungkin akan muncul di perut bagian atas. Pasalnya posisi usus buntu cenderung lebih tinggi selama kehamilan karena terdorong janin. Secara umum nyeri perut akibat gejala usus buntu biasanya cenderung semakin meningkat bila kamu melakukan gerakan, menarik napas dalam-dalam, mengejan, batuk atau bersin.

3 dari 7 halaman

Demam ringan

Gejala usus buntu selanjutnya adalah mengalami demam ringan. Penyakit ini bisa menyebabkan demam yang berkisar antara 37 sampai 38 derajat Celcius. Bila semakin parah, demam bisa mencapai 38 derajat Celcius disertai dengan peningkatan denyut jantung. Demam terjadi sebagai reaksi alami sistem kekebalan tubuh saat melawan infeksi guna mengurangi jumlah bakteri jahat yang akan menyerang tubuh.

4 dari 7 halaman

Mual, muntah, dan nafsu makan menurun

Gejala usus buntu lainnya juga bisa menyebabkan mual dan muntah. Akibatnya, nafsu makanmu mungkin akan menurun secara drastis. Hal ini terjadi karena radang usus buntu terkadang berdampak pada saluran pencernaan dan sistem saraf, sehingga memungkinkan kamu mengalami mual dan muntah.

5 dari 7 halaman

Gangguan pencernaan

Gejala usus buntu selanjutnya yang jarang disadari adalah gangguan pencernaa. Kamu juga mungkin akan mengalami beberapa gangguan pencernaan seperti konstipasi (sembelit) atau diare ketika gejala usus buntu menyerang.

Beberapa orang juga mengalami kesulitan buang angin, alias kentut. Bila kamu salah satu orang yang mengalami kesulitan untuk buang angin, maka kemungkinan besar penyumbatan pada usus sudah terjadi sebagian atau menyeluruh.

6 dari 7 halaman

Sering buang air kecil

Gejala usus buntu lainnya yang tanpa disadari adalah sering buang air kecil. Usus buntu terletak di bawah panggul, sehingga posisinya bisa dibilang dekat dengan kandung kemih. Nah, ketika kandung kemih bersinggungan dengan usus buntu yang sedang meradang, maka hal tersebut juga akan memengaruhi kandung kemih. Akibatnya, kandung kemih pun akan mengalami peradangan.

Hal tersebut membuatmu jadi lebih sering buang air kecil. Dalam beberapa kasus, kamu juga mungkin akan merasakan buang air kecil yang sedikit menyakitkan.

Dilansir dari Everyday Health, tidak semua pasien merasakan gejala yang sama. Ada beberapa orang yang tidak mengalami gejala secara menyeluruh (atipikal). Menurut penelitian yang diterbitkan pada 2007 dalam The Journal of American Medical Association, gejala usus buntu antara bayi dengan orang dewasa tidak selalu sama. Oleh karena itu, orangtua harus paham betul apa yang gejala-gejala yang muncul terutama pada anak.

Gejala usus buntu pada bayi usia 2 tahun atau kurang seperti berikut ini:

Demam

Muntah

Perut terasa kembung

Keadaan perut membengkak, ketika ditepuk pelan terasa empuk

Gejala usus buntu pada anak-anak dan remaja cenderung mengalami:

Mual

Muntah

Nyeri perut di sisi kanan bawah perut

Gejala usus buntu pada ibu hamil mungkin mirip dengan ketidaknyamanan selama kehamilan, seperti morning sickness. Karena gejalanya meliputi berkurangnya nafsu makan, kram perut, mual, dan muntah. Namun, perlu ditekankan bahwa usus buntu saat hamil bisa menyebabkan rasa nyeri bukan di sisi kanan bawah perut melainkan di perut bagian atas.

Hal ini sedikit berbeda karena posisi usus terdorong menjadi lebih tinggi akibat adanya janin pada rahim. Selain itu, gejala lainnya adalah terasa sakit ketika buang air. Gejala demam dan diare jarang terjadi pada ibu hamil.

7 dari 7 halaman

Penyebab Usus Buntu

Sebenarnya hingga saat ini, alasan mengapa seseorang mengalami appendicitis belum diketahui. Namun, para ahli percaya bahwa penyebab utama penyakit ini adalah penyumbatan. Penyumbatan ini dapat disebabkan oleh feses, benda asing, atau kanker. Saat tersumbat, bakteri dapat bertumbuh dan berkembang.

Hal ini menyebabkan usus yang buntu membengkak dan terisi nanah. Jika usus pecah, bakteri dapat menyebar dan menyebabkan infeksi ke seluruh tubuh. Pada beberapa kasus usus yang buntuk ini meradang akibat dari infeksi.

1. Keturunan

Selain karena penyumbatan oleh feses maupun benda asing, faktor genetik ternyata turut ikut ambil bagian dalam kemunculan usus buntu akut. Sebanyak 56 persen penyebab kondisi merujuk pada faktor genetik.

Risiko bisa terjadi pada anak yang setidaknya terikat darah dengan satu anggota keluarga inti yang punya riwayat usus buntu (aktif atau sudah pernah diobati), meningkat sepuluh kali lipat dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga bebas usus buntu.

Penyebab usus buntu akut diturunkan oleh keluarga dilaporkan terkait dengan sistem HLA (antigen leukosit manusia) dan golongan darah. Mereka juga menemukan bahwa golongan darah A memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kondisi daripada golongan O.

2. Terkena virus

Dr. Edward Livingston, kepala Operasi GI endokrin di UT Southwestern, menyatakan bahwa kondisi ini mungkin saja disebabkan oleh infeksi virus penyebab atau infeksi yang belum ditentukan. Hasil ini tertuang dalam sebuah makalah yang terbit di Archives of Surgery edisi Januari tahun 2010.

Para peneliti juga menemukan kecenderungan peningkatan kasus penyakit apendicitis ini selama musim panas. Meski begitu, belum ditemukan hubungan sebab-akibat pasti antara kedua faktor ini

3. Kurang makan makanan berserat

Pada dasarnya, makanan bukanlah penyebab apendicitis. Akan tetapi, penyumbatan usus yang kemudian meradang bisa saja terjadi akibat penumpukan makanan tertentu yang tidak hancur saat dicerna. Misalnya makanan cepat saji, yang tinggi karbohidrat dan rendah serat.

Dalam sebuah penelitian terhadap hampir dua ribu orang anak di Yunani, terdeteksi bahwa anak-anak yang mengalami apendicitis memiliki asupan serat yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang sehat.

Dalam studi kasus lainnya yang dilakukan di Amerika Serikat, ditemukan bahwa anak-anak yang asupan seratnya lebih dari cukup mengalami penurunan risiko apendicitis hingga 30% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang jarang makan serat.

Apendicitis paling sering disebabkan oleh penumpukan feses yang mengeras, tanda sembelit. Serat dapat meningkatkan berat dan ukuran feses karena bersifat menyerap air, membuatnya lebih lunak sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan melalui anus. Feses yang keras bisa menjadi tanda bahwa kamu kurang mengonsumsi makanan berserat.

Polisi Menjaga Ketat LP Gunung Sindur

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Penyebab Penyakit Usus Buntu dan Gejalanya yang Harus Diwaspadai