Sukses

Membentuk Anak Jadi Pribadi Bertanggung Jawab

Liputan6.com, Jakarta Setiap orang memiliki suatu tanggung jawab. Semakin dewasa seseorang, tanggung jawabnya pun makin kompleks. Jika seorang seorang anak kecil bertanggung jawab untuk membereskan mainan dan kamar tidurnya sendiri, seorang pria yang sudah menikah dan memiliki anak bertanggung jawab untuk mencari pekerjaan guna memberi nafkah hidup keluarganya.

Pada kenyataannya, tidak semua orang mampu melakukan apa yang menjadi tanggung jawab dalam kehidupannya. Ada anak yang tidak mau menyelesaikan tugas dari sekolah atau seorang ibu yang menolak memberikan ASI untuk anaknya tanpa alasan yang kuat. Dalam lingkup yang lebih luas, kita dapat menemukan para pemimpin yang tidak dapat mengarahkan rakyat yang dipimpinnya atau wakil rakyat yang tidak mewakili rakyat yang memilihnya.

Orang-orang yang tidak mau mengemban apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya ini cukup mudah ditemui di sekitar kita. Ketidakmauan untuk bertanggung jawab ini tentu saja akan menimbulkan dampak negatif baik bagi diri individu yang bersangkutan maupun bagi orang-orang lain yang terkait dengan tanggung jawab hidupnya tersebut. Lebih jauh, ketidakmauan individu melakukan apa yang menjadi tanggung jawab sebenarnya merupakan sebuah indikator ketidakmatangan diri.

Pertanyaannya yang perlu dilihat adalah mengapa orang menolak bertanggungjawab? Melakukan tanggung jawab sesuai dengan tahap perkembangan diri memang tidak selalu mudah. Saat mencoba melakukannya, baik pada saat pertama maupun sesudahnya, seseorang akan selalu dihadapkan pada suatu kesulitan. Kesulitan ini akan mengakibatkan ketidaknyamanan dan tidak jarang berujung pada penolakan untuk melakukan tanggung jawab tersebut.

Untuk membentuk individu menjadi pribadi yang bertanggung jawab, pengasuhan dan pendidikan sejak usia dini menjadi kunci penting yang tidak dapat ditinggalkan.

2 dari 3 halaman

Yang harus diperhatikan ortu

 

Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan oleh orangtua dan guru saat melatih tanggung jawab pada anak-anak dan siswa-siwanya:

1. Memberikan contoh figur individu bertanggung jawab
Orangtua dan guru perlu untuk menunjukkan diri sebagai sosok figur yang bertanggung jawab. Anak-anak akan melihat contoh hidup bagaimana orang-orang semestinya menjalankan tanggung jawab dalam hidupnya. Mereka juga akan melihat bagaimana kehidupan sehari-hari setiap orang berjalan lewat pemenuhan tanggung jawab hidupnya. Yang juga tidak kalah penting, anak-anak akan melihat sendiri bagaimana kehidupan banyak orang sangat tergantung dari dipenuhi tidaknya tanggung jawab dari seseorang yang menjadi tokoh sentralnya. Misalnya pemenuhan tanggung jawab seorang ayah dalam memenuhi nafkah keluarga akan sangat mempengaruhi kehidupan istri dan anak-anaknya.

2. Memberikan tugas secara bertahap dari yang sederhana ke tugas yang semakin kompleks
Melatih tanggung jawab anak perlu melalui proses yang panjang. Orangtua bisa mengawalinya bahkan ketika anak masih berusia di bawah 5 tahun. Dengan memperhatikan tahap perkembangannya, anak dapat mulai diberi jenis-jenis tanggung jawab yang hanya berkaitan dengan dirinya sendiri. Mulai dari membereskan mainan sesudah di gunakan, mengembalikan barang-barang yang digunakannya sendiri pada tempatnya, atau membersihkan sisa-sisa makanan dan minuman yang ditumpahkan anak. Semakin lama tanggung jawab yang diberikan bisa menjadi semakin kompleks dan berhubungan dengan semakin banyak orang di sekitarnya. Misalnya membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumahnya atau ikut membantu menjaga adiknya.

3 dari 3 halaman

Tidak berfokus pada hasil semata

3. Tidak berfokus pada hasil semata
Dalam melatih tanggung jawab pada anak, orangtua sebaiknya tidak berfokus pada hasil semata. Saat anak mencoba memenuhi suatu tugas yang menjadi tanggung jawabnya apalagi pada saat-saat awal, orangtua mungkin bahkan harus menjadi repot untuk membereskannya. Misalnya saat seorang anak harus membersihkan sisa makanan yang ditumpahkan, yang terjadi bisa saja adalah justru membuat sisa makanan itu menjadi tersebar ke mana-mana. Contoh lain ketika anak diminta menjaga adiknya, yang terjadi justru adalah pertengkaran antar saudara.

Saat menemui hal ini, orangtua perlu menyadari bahwa anak sedang menjalani suatu proses untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Kekacauan yang terjadi perlu diterima dahulu dan tidak perlu dipermasalahkan secara sangat serius. Yang penting orangtua perlu terus mendampingi dengan penuh kesabaran sehingga pada akhirnya tidak hanya hasilnya menjadi baik namun yang terpenting anak akan dapat terbiasa dipercaya untuk menjalankan suatu tanggung jawab dalam kehidupannya

4. Mendiskusikan arti pelaksanaan tugas tersebut
Pada akhirnya, orangtua perlu sering melakukan diskusi mengenai mengapa anak perlu menjalankan suatu tanggung jawab dalam kehidupannya. Diskusi dilakukan juga dengan mendengarkan apa yang menjadi pendapat dan pemikiran anak sendiri. Dengan adanya pembicaraan setara semacam ini, anak akan lebih dapat menginternalisasikan arti penting pemenuhan tanggung jawab dalam kehidupannya. Kesadaran ini akan menjadi bekal yang sangat penting saat anak tumbuh dan berkembang menjadi orang yang semakin dewasa di kelak kemudian hari

Y. Heri Widodo, M.Psi., Psikolog
Dosen Universitas Sanata Dharma dan Pemilik Taman Bermain Kerang Mutiara Yogyakarta