Sukses

Agus, Pembunuh Bocah dalam Kardus Bukan Seorang Pedofil

Liputan6.com, Jakarta Agus (39), pembunuh bocah dalam kardus berinisial PNF (9) pada Jumat (2/10/2015) lalu bukanlah seorang pedofil. Agus dinyatakan mengidap penyimpangan seksual yang tidak spesifik.

"Selama ini dia melakukan hubungan seksual relatif hanya dengan pekerja seks komersil (PSK) atau yang dibayar. Karena kali ini mendapat kemudahan, mendapat akses, jadilah dia berhubungan seksual dengan anak kecil," kata Psikolog seksual Zoya Amirin di Kantor Redaksi Liputan6.com, Gedung SCTV Tower, Senayan City, Jakarta, Selasa (13/10/2015)

Menurut Zoya, pedofil ada dua macam; eksklusif dan non-eksklusif. Bila eksklusif hanya bisa terangsang dengan anak kecil, non-eksklusif ini bisa terangsang dengan anak kecil bisa juga dengan orang dewasa. Sehingga yang terjadi adalah, dugaan awal mengarah Agus adalah pedofil non-eksklusif.

Rupanya, setelah digali lebih dalam, gairah seksual Agus sama sekali bukan ke anak-anak. Hanya saja, saat kejadian itu, Agus tidak mampu mengontrol hawa nafsunya sendiri. Sehingga dia melampiaskan hasrat tersebut ke bocah PNF.

"Semacam gratifikasi saja. Pas lagi kepengen, lepas. Hasrat seksual muncul, lepas. Pokoknya dapat saja guna menyenangkan diri sendiri," kata Zoya yang diminta bantuan Kombes untuk bertanya dengan Agus.

Seorang pedofil, jelas Zoya, seharusnya memiliki rangsangan seksual begitu melihat anak kecil. Sedangkan Agus, berdasarkan informasi dan tanya jawab, mengaku agak susah bisa langsung bergairah dengan anak-anak.

"Seorang seperti Agus tidak memiliki sosialisasi yang baik. Selama ini, jika mau dia bisa langsung beli dan langsung dilayani. Sedangkan kita sebagai manusia normal, kalau mau atau dekat dengan lawan jenis harus merayu dulu. Nah, Agus itu tidak memiliki kemampuan itu," kata Zoya.

2 dari 3 halaman

Bukan cuma bocah PNF

Diduga korbannya bukan cuma bocah PNF

Jika kebanyakan orang merasa lega mengetahui Agus, pembunuh bocah dalam kardus bukan pengidap pedofilia, justru hal sebaliknya dirasakan Zoya Amirin.

"Saya lebih khawatir karena dia bukan seorang pedofil. Artinya, korbannya bisa jadi bukan hanya anak-anak tapi ada remaja atau orang dewasa juga," kata Zoya.

Menurut Zoya, jika seseorang yang tidak memiliki kemampuan menahan hasrat seksual sedemikian rupa, terlebih memiliki penyimpangan dan tampaknya memiliki kecenderungan tidak mampu menahan hasrat seksual, itu berarti siapa saja yang pernah berhubungan dengan dia harus dicari tahu.

"Apalagi Agus ini orangnya agak takut dan tidak bisa menerima penolakan. Bisa jadi ada anak remaja dan dewasa lain juga, lho. Saya justru melihatnya ada kemungkinan yang lebih luas. Inilah yang dilihat dan dianalisa lagi," kata Zoya.

3 dari 3 halaman

Bukan pembunuhan

Bukan pembunuhan yang direncanakan

Meski usai memerkosa, membunuh, memasukkan tubuh korban ke dalam kardus, lalu membuangnya, bukan berarti Agus telah merencanakan pembunuhan itu. Itu dilakukan Agus karena dia panik, begitu tahu bocah PNF menjerit.

"Sebenarnya sama seperti kasus yang menimpa Ryan. Karena panik dan mau cepat membuang semua bukti, Ryan memotong dan memasukkan tubuh korban ke dalam koper. Jadi, tidak ada pembunuhan yang hebat seperti di film-film itu. Begitu juga yang dialami Agus," kata Zoya menekankan.

Dari mulutnya dia mengaku, memanggil PNF masuk ke dalam bedeng. Tak lama kemudian, PNG diajak masuk ke kamar dan menyekap bocah malang itu. Saat disekap itulah PNF berteriak yang membuat Agus panik dan langsung melepas kaus kaki dari sepatu PNF.

"Saya sekap pakai kaus kaki dia biar gak teriak. Saya ikat pakai kabel casan mulutnya sama kaus kaki. Saya gak tau kaus kaki kiri atau kanan," kata Agus.