Sukses

Kenapa Orang Mengalami Deja Vu?

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah Anda merasakan seperti sudah mengalami suatu kejadian tertentu atau yang dikenal dengan Deja Vu? Seorang pria (23) di Inggris sampai tak mau membaca koran atau menonton televisi karena sering merasa deja vu.

Pria yang tak disebutkan namanya itu mulai merasakan episode deja vu setelah memulai kuliah. Para peneliti melihat apa yang dialami pria muda itu tak biasa. Ia berulang-ulang mengalami deja vu, baik itu dalam hitungan menit atau lebih lama. Ia merasa sudah mengalami momen-momen itu,

"Ia mengatakan merasa seperti pernah mengalami sebelumnya, bukan hanya tak asing," kata peneliti seperti dilansir Livescience, Senin (22/12/2014).

Tiga tahun setelah mengalami deja vu itu, pria tersebut tak bisa lama-lama menonton televisi atau membaca koran. Alasannya, pria tersebut merasa terganggu karena telah menghadapi kejadian itu sebelumnya. Sensasi menghantui lebih kuat dibanding perasaan akrab. Pria itu mengatakan ia merasa saat ini ia mengenang masa lalu.

Menurut peneliti, kasus ini terlihat aneh karena pria tersebut tak menderita salah satu kondisi neurologis sebelumnya. Sebaliknya, ia menderita kecemasan, menunjukkan gangguan kecemasan bisa lebih terkait dengan deja vu.

Penelitian ini diterbitkan pada 8 Desember di Journal of Medical Case Reports.

Sebenarnya, para ilmuwan sudah menemukan apa itu deja vu yang oleh Prancis dikenal dengan 'sudah terlihat`. Tapi, ide yang populer menyebutkan deja vu merupakan sensasi yang akrab tapi palsu sebagai akibat dari kegagalan sistem memori otak, yang berada pada otak di lobus temporal.

"Sebagian besar penjelasan dari deja vu menunjukkan bahwa ini adalah fenomena yang timbul dari kegiatan lobus temporal.. Kesalahan sementara dalam pengolahan informasi yang masuk," kata Psikolog di Sheffield Hallam University di Inggris, Christine Wells.

"Struktur kunci dalam lobus temporal adalah hippocampus, yang sangat terlibat dalam memori,

"Kami memiliki setiap alasan untuk mempercayai bahwa itu adalah daerah yang terlibat dalam deja vu."

Meskipun hampir semua orang sesekali bisa mengalami deja vu, ada orang yang sering dan intens. Ini terlihat pada orang yang mengalami kejang di lobus temporal, suatu kondisi yang disebut epilepsi lobus temporal.

Pada kasus pria tersebut, dokter mencari tanda-tanda kejang, tapi dari pemeriksaan neurologis termasuk EEG (electroencephalograms) dan scan otak, tidak ditemukan apapun. Aktivitas otak pria itu terlihat normal dalam pemeriksaan dokter. Dan dari serangkaian tes psikologis ingatannya tak ditemukan adanya masalah besar.

2 dari 2 halaman

Deja Vu karena Cemas


Deja Vu Karena Cemas?

Peneliti belum menemukan petunjuk yang menjelaskan mengapa pria muda ini mengalami deja vu. Tapi, peneliti menduga mungkin saja ada tanda-tanda yang terlewati.

Wells menjelaskan, teknologi yang tersedia mungkin tak cukup canggih untuk melihat perbedaan yang sangat halus di otak.

Untuk pria muda ini, peneliti menduga ada gangguan kecemasan. "Banyak penelitian sebelumnya memfokuskan pada epilepsi lobus temporal," kata Wells.

"Tapi ada kemungkinan bahwa ada gangguan lain, seperti gangguan kecemasan, di mana pria itu mengalami deja vu sedikit lebih sering dari biasanya."

Kecemasan pria itu begitu parah sehingga ia harus istirahat sejenak dari kampus dan di situlah deja vu mulai. Inilah yang menyebabkan dia lebih cemas dan tertekan yang mungkin menciptakan lingkaran setan.

Pria itu mengatakan kepada peneliti, deja vu yang terjadi terus menerus biasanya dialami setelah minum obat halusinogen asam lysergic diethylamide (LSD).

Namun, lanjut peneliti, kasus pria lajang ini tak bisa membuktikan kecemasan dan deja vu sehingga perlu penelitian lebih lanjut.