Sukses

Inilah Ujian yang Tak Kalah Penting bagi Para Pilot

Liputan6.com, Jakarta Sebelum para pilot baik penerbangan komersil atau sipil menjalankan tugasnya, pemeriksaan kesehatan harus dijalani terlebih dahulu di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra). Mereka akan ditangani langsung oleh para tenaga medis spesialis penerbangan. 

"Ini wajib dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan keluar dan dinyatakan fit, baru mereka dipersilahkan untuk bekerja," kata Dr. H. Soe Mardoko Tjokrowidikdo, SpM, SpKP dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penerbangan (Perdospi) saat berkunjung ke redaksi Liputan6.com ditulis Sabtu (13/12/2014)

Lakespra merupakan lembaga milik TNI Angkatan Udara (TNI-AU), dan juga bagian dari Dinas Kesehatan TNI Angkatan Udara. "Lakespra ini adalah badan pelaksana pusat dari Angkatan Udara, yang tugas utamanya melakukan pemeriksaan awak pesawat." kata Mardoko menambahkan.

Semua penerbang, lanjut Mardoko, diperiksa begitu ketat di Lakespra. Bahkan, setiap enam bulan para pilot diharuskan melakukan pemeriksaan ulang. Tak hanya sekedar tes kesehatan semata, segala faktor risiko yang ada di tubuh para pilot tak luput dari pemeriksaan.

"Faktor risiko akan dicatat semua, kemudian di-manage. Sehingga, jika ada sedikit faktor risiko, misalkan gula darahnya naik, akan dimanage sedemikian rupa sehingga keamanan akan tetap terjaga," kata Mardoko menjelaskan.

Selain dijadikan tempat untuk mengurus segala masalah kesehatan penerbang, Lakespra pun menjadi rujukan ilmiah seluruh masyarakat penerbangan, termasuk kajian masalah kesehatan di bidang antariksa.

Lebih lanjut Mardoko, menjelaskan, semua `pasien` akan diperiksa langsung oleh tenaga kesehatan yang kebanyakan sudah mengikuti pendidikan atau kursus kedokteran penerbangan. "Jadi, semua yang ada di Lakespra adalah tenaga profesional," kata dia menerangkan.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Pemeriksaan di Lakespra

Pemeriksaan dilakukan di Lakespra

Pemeriksaan juga dilakukan di Lakespra, karena lembaga yang terletak di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, memiliki bagunan yang terbagi menjadi dua bagian, bagian depan dipakai untuk kepentingan aerofisiologi, dan bagian belakang digunakan untuk aeroklinik.

"Sebelum masuk ke aerofisiologi, harus diperiksa terlebih dahulu di aeroklinik. Nantinya, di situ dilihat apakah kesehatannya memenuhi persyaratan untuk dilatih atau tidak," kata Mardoko.

Meskipun gaya bangunan Lakespra bisa dikatakan kuno, tapi Mardoko menyakini bahwa peralatan yang dimiliki tidak sekuno dari bagunan yang bergaya 1960-an. "Semua perlatan yang digunakan baik untuk penelitian, medis, dan kesehatan para awak pesawat bisa mencapai ketinggian lebih dari 50.000 kaki," kata dia.

Bahkan, tekan Mardoko, fasilitas di Lakespra termasuk yang terlengkap, terlebih untuk kawasan Asia Tenggara atau di kalangan negara ASEAN.

Sebab, dokter kesehatan penerbangan harus menyiapkan manusia yang terbiasa hidup di darat menjadi manusia yang siap dengan kondisi kehidupan di udara.

"Semua yang ada pada awak kabin, kru, sampai ke penumpang, harus mampu mengadaptasi lingkungan ini," kata Mardoko menerangkan.

3 dari 3 halaman

Human centrifuge



Mardoko menjelaskan, karena pilot akan menjalani uji rutin kesiap fisik terhadap pengaruh gaya gravitasi, maka mereka pun akan diuji menggunakan alat yang dimiliki oleh Lakespra, antara lain Human Centrifuge, Basic Orientation Trainer, dan lain-lain.

"Human Centrifuge untuk melatih yang biasanya digunakan untuk penerbangan militer," kata Mardoko.

Sedangkan Basic Orientation Trainer, lanjut dia, digunakan untuk mereka beradaptasi, di mana ketika berada di darat hanya hidup pada dua bidang dan saat di atas pilot akan berada pada kondisi tiga bidang, maka ini sangat diperlukan.

"Sebagai contoh, saat pilot harus melakukan long term di mana belokan yang pelan tapi terus menerus, maka mereka dididik menggunakan ini untuk mengetahui mereka sedang berada dalam posisi yang seperti apa," kata Mardoko.

Intinya, segala peralatan yang digunakan di Lakespra sudah menganut sistem computerize, dan tidak sesederhana dulu.

"Buktinya saja, jika dulu penerbang harus kekar karena stir pesawatnya berat, kalau sekarang sudah tidak perlu badan kekar lagi, karena stirnya sudah seperti mobil zaman sekarang ada power staringnya. Jadi, gerakannya sudah tidak ditarik lagi," kata Mardoko.

Namun yang jelas, untuk mengemudi satu pesawat saja tidak cukup hanya pendidikan yang baik dan kesehatan yang mempuni, melainkan juga disiplin yang tinggi. Tanpa disiplin yang tinggi, semua yang dikerjakan akan sia-sia.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini