Sukses

ODHA Sesalkan Bea Cukai yang Tahan Obat AIDS

Liputan6.com, Jakarta Saat ini, banyak ODHA (Orang yang hidup dengan HIV) di Indonesia yang mengalami kesulitan mendapatkan obat ARV yang berguna untuk menekan HIV dalam tubuh dan meningkatkan kualitas kesehatan mereka yang terinfeksi HIV. Beberapa rekan ODHA mendapatkan obat ARV ini hanya untuk konsumsi selama 3 hari – 5 minggu dikarenakan stok obat ini di Rumah Sakit juga sedang menipis. Jenis obat ARV yang dikeluhkan kelangkaannya adalah jenis Evafirenz dan jenis kombinasi tenofovir dan emtricitabine.

Kelangkaan obat ini selain bisa menimbulkan kemungkinan resistensi jika ODHA sampai terputus terapinya juga merupakan gambaran buruk bagaimana komitment pemerintah Indonesia dalam menyediakan terapi penunjang hidup bagi orang dengan HIV.

Staff Indonesia AIDS Coalition, sebuah LSM yang bekerja untuk mempromosikan akuntabilitas pemerintah dalam program AIDS mengatakan bahwa kelangkaan ini disebabkan karena stok obat ARV import tertahan di bandara dikarenakan proses dokumen yang belum beres sudah lebih dari sebulan ini. ARV import yang tertahan ini kebanyakan di dapat dengan import dari Negara India.

Perlu diketahui bahwa obat ARV penunjang hidup ODHA ini kebanyakan masih produk import dikarenakan farmasi dalam negeri baru mampu memproduksi tiga jenis saja dari obat ARV yang dikonsumsi ODHA di Indonesia.

“Obat ARV yang dibeli dengan APBN dan bantuan dana dari Global Fund sudah tiba hampir sebulan lalu namun faktanya sampai hari ini belum bisa di distribusikan”, kata Irwandy Widjaja, Staff IAC bidang pengorganisasian komunitas. Dia pun menambahkan bahwa banyak rekan-rekan ODHA yang dua minggu terakhir menghubunginya untuk menanyakan kapan mereka bisa mendapatkan obat ARV ini.

Kelangkaan ARV sendiri dikeluhkan banyak ODHA yang menyalurkan unek-uneknya melalui Fanpage Facebook “Monitoring ARV” yang khusus dibuat oleh LSM IAC guna melakukan monitoring stock out obat ARV.  

Beberapa rumah sakit berusaha mensiasatinya dengan hanya memberikan obat ARV ini untuk durasi jangka pendek dan bukan seperti biasanya dimana ARV diberikan untuk durasi konsumsi satu bulan. ODHA pun berusaha mensiasati kelangkaan ini dengan pinjam meminjam obat agar terapinya tidak terputus.

Kasus tertundanya obat ARV terdistribusi karena tertahan oleh pihak bea cukai bukan kali pertama kali ini terjadi. Ini semacam ritual rutin dikarenakan semrawutnya birokrasi dalam import barang.

“ARV ini kan jenis obat live saving. Mestinya pemerintah kita atau bea cukai dalam konteks ini mempunyai kebijakan yang memudahkan sehingga obat bisa segera terdistribusi”.

Kami sangat berharap bahwa obat yang tertahan ini bisa segera keluar dan didistribusikan dan untuk kedepannya kami mohon agar untuk obat live saving semacam ini bisa diberikan perlakuan khusus karena ini menyangkat nyawa manusia.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS