Gelombang Serangan Drone di Sudan Tewaskan Lebih dari 160 Orang

Lebih dari 160 warga sipil tewas akibat gelombang serangan drone di Sudan dalam beberapa hari terakhir.

Diterbitkan 20 Oktober 2026, 14:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Khartoum - Gelombang serangan pesawat nirawak atau drone di Sudan menewaskan lebih dari 160 orang dalam beberapa hari terakhir. Serangan yang terjadi di sejumlah wilayah itu turut menewaskan anak-anak dan memperburuk jatuhnya korban sipil di tengah perang yang telah berlangsung sejak 2023.

Dikutip dari Al Jazeera, Senin (20/10/2026), kelompok Emergency Lawyers, yang memantau kekerasan terhadap warga sipil dalam perang saudara di Sudan, melaporkan tiga anak tewas akibat serangan drone di Khartoum pada Senin. Sementara itu, lebih dari 160 orang dilaporkan tewas di wilayah barat Sudan sejak Jumat.

Serangan-serangan tersebut dituding dilakukan oleh kedua pihak yang bertikai, yakni kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dan pasukan pemerintah. Keduanya telah berperang sejak 2023. Namun, meningkatnya penggunaan drone dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan semakin banyak warga sipil menjadi korban.

Serangan paling mematikan dalam beberapa hari terakhir terjadi di dekat pasar di Kota Al-Dibab, Negara Bagian West Kordofan, Sudan barat daya, pada Minggu malam. Wilayah tersebut berada di bawah kendali RSF.

Warga dan tenaga medis mengatakan sebuah drone menyerang pusat transportasi tempat warga desa berkumpul untuk mencari tumpangan pulang setelah beraktivitas di pasar. Serangan itu menewaskan 80 orang.

Sebanyak 47 korban luka kemudian dibawa ke Kota Al-Mujlad yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Seorang sumber medis mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa 30 orang di antaranya meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita.

Pemerintahan bentukan RSF yang mendeklarasikan diri sendiri, dikenal sebagai Tasis, bersama Emergency Lawyers menuding militer Sudan sebagai pihak yang melancarkan serangan tersebut.

Bendungan Jadi Sasaran Serangan Drone

Di Sudan timur, sebuah sumber militer pada Minggu mengatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah drone milik RSF yang menargetkan Bendungan Atbara dan Setit di Negara Bagian Gadaref, sekitar 420 kilometer sebelah timur Khartoum.

RSF belum memberikan komentar langsung terkait laporan serangan tersebut.

Pada Senin dini hari, serangan drone lainnya menghantam Kota Nyala, ibu kota Negara Bagian South Darfur sekaligus salah satu basis kuat RSF.

Sumber medis dan RSF mengatakan serangan itu menewaskan 17 orang, termasuk tujuh perwira RSF, serta melukai 23 orang lainnya.

Sementara itu, serangan drone RSF pada Jumat menghantam tempat berkumpulnya para pengungsi di Provinsi Blue Nile, dekat perbatasan Ethiopia. Emergency Lawyers melaporkan 41 orang tewas dalam serangan tersebut.

Kelompok itu mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut mengecam serangkaian serangan mematikan tersebut pada Senin.

"Kami khawatir dengan berlanjutnya serangan drone mematikan di seluruh negeri yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, serta mengganggu layanan-layanan penting," kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, kepada wartawan.

 

Perang Sudan Telah Menewaskan Sedikitnya 59 Ribu Orang

Perang di Sudan pecah pada April 2023 setelah pemimpin militer Abdel Fattah al-Burhan berselisih dengan pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo, yang dikenal sebagai Hemedti, mengenai rencana penggabungan pasukan paramiliter tersebut ke dalam militer Sudan.

Pada Juni, Hemedti dijatuhi hukuman mati secara in absentia atau tanpa kehadirannya dalam persidangan atas kejahatan perang.

Meski telah memasuki tahun keempat, pertempuran masih terus berlangsung. Pemantau konflik ACLED mencatat sedikitnya 59.000 orang tewas akibat perang tersebut. Namun, kelompok-kelompok bantuan memperkirakan jumlah korban sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.

PBB menyebut sekitar 13 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik tersebut. Kondisi ini memicu krisis kemanusiaan yang disebut kelompok-kelompok bantuan sebagai yang terbesar di dunia.

Di seluruh Sudan, sebanyak 33,7 juta orang, termasuk 17,3 juta anak-anak, membutuhkan bantuan pangan mendesak tahun ini. Menurut PBB, sekitar 825.000 anak menghadapi malnutrisi akut berat.

Di tengah krisis tersebut, Amerika Serikat pada Jumat mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mendorong gencatan senjata kemanusiaan dan memperluas embargo senjata terhadap Sudan. Namun, China dan Rusia menentang perluasan embargo tersebut.

Â