Penembakan Massal di Pennsylvania, Pelaku Ternyata Kakek dari Korban

Tragedi penembakan massal di Erie, Pennsylvania, menewaskan delapan orang, termasuk anak-anak.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Penembakan massal di sebuah rumah di Erie, Pennsylvania, Amerika Serikat, menewaskan delapan orang pada Jumat pekan lalu. Pelaku, seorang pria berusia 45 tahun yang merupakan kakek dari sejumlah korban, mengakhiri hidupnya sendiri setelah melakukan penembakan.

Dikutip dari The Guardian, Senin (12/10/2026), orang-orang yang mengenal pelaku mengaku tidak pernah melihat tanda-tanda bahwa pria tersebut mampu melakukan kekerasan seperti itu. Namun, seorang ayah yang kehilangan putri kecilnya dalam tragedi tersebut menduga sikap pelaku selama ini hanya menutupi sesuatu.

"Saya pikir itu hanya kedoknya," kata Julius Windham pada Minggu, saat menghadiri acara peringatan para korban, seperti dilaporkan Associated Press.

Putri Windham yang berusia satu tahun, Amarianna, menjadi salah satu korban. Ibu Amarianna yang sedang hamil, putra perempuan itu yang berusia lima tahun, serta bayi yang belum lahir juga tewas dalam penembakan tersebut.

"Setiap hari dia tersenyum dan bersikap biasa saja. Anda tidak akan pernah menyangka hal seperti ini bisa terjadi," ujar Windham.

Polisi belum mengungkap identitas pelaku maupun nama-nama korban. Namun, Kepala Kepolisian Erie Rick Lorah mengatakan pria tersebut memiliki hubungan keluarga dengan tujuh dari delapan korban. Satu korban lainnya merupakan teman perempuan yang sedang hamil tersebut.

Keluarga Korban Berduka

Pada Minggu, para pelayat meletakkan lilin, bunga, dan boneka di depan rumah tempat penembakan terjadi. Insiden itu berlangsung sesaat sebelum pukul 17.00 waktu setempat pada Jumat.

Windham menghadiri acara peringatan dengan mengenakan kaus bergambar perempuan dan anak-anak yang tewas dalam penembakan tersebut. Pada kaus itu tertulis pesan, "Selamanya di hatiku".

"Kata-kata bahkan tidak bisa menggambarkan apa yang sedang saya alami sekarang," kata Windham.

"Tetapi saya harus kuat untuk komunitas saya, keluarga saya, putri-putri saya, putra-putra saya, semuanya," lanjutnya.

Seorang teman keluarga korban mengatakan kepada Cleveland 19 News bahwa keluarga tersebut tidak ingin tragedi itu menjadi satu-satunya hal yang diingat dari kehidupan orang-orang yang meninggal.

"Bagaimana mungkin seseorang bisa memahami kejadian seperti ini? Bagaimana Anda pulang dan memberi tahu anak-anak Anda, 'Hei, ibu kalian, saudara-saudara kalian, paman-paman kalian, dan semua orang lainnya baru saja dibunuh oleh kakek kalian sendiri?'" ujarnya.

Nicole dan Debra Eller, yang sahabatnya termasuk di antara korban, mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka telah mengenal keluarga tersebut selama lebih dari 30 tahun.

Nicole mengatakan pelaku sebelumnya merupakan orang yang baik, tetapi kemudian perilakunya mulai memburuk.

"Mereka keluarga yang menyenangkan. Siapa yang pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi?" kata Debra.

"Ya Tuhan, ini sangat menyedihkan. Hal ini tidak seharusnya terjadi pada perempuan itu, anak-anaknya, atau siapa pun. Cucu-cucunya, anak-anaknya sendiri, bagaimana dia bisa melakukan itu?" lanjutnya.

 

Polisi Selidiki Kronologi Penembakan

Kepala Kepolisian Erie Rick Lorah mengungkapkan bahwa penyidik telah menemukan bukti video dan audio yang membantu mengungkap kronologi penembakan.

Menurut Lorah, rekaman tersebut menangkap suara tembakan yang terdengar samar dari dalam rumah, sesaat sebelum dua perempuan yang tampak dalam kondisi tertekan datang dan menggedor pintu.

Pelaku kemudian keluar dari rumah dan menembak kedua perempuan tersebut sebelum kembali masuk.

Petugas yang tiba di lokasi menemukan kedua perempuan itu tewas di luar rumah. Setelah mengerahkan pesawat nirawak dan robot, polisi memasuki bangunan tersebut.

Di dalam rumah, petugas menemukan jasad seorang anak laki-laki berusia lima tahun dan seorang anak perempuan berusia satu tahun di lantai pertama. Dua perempuan dan dua pria muda lainnya ditemukan di area tangga, sedangkan pelaku ditemukan di lantai dua.

"Demi menghormati para korban dan keluarga mereka, saya tidak akan membahas secara terperinci apa yang ditemukan petugas kami di dalam rumah itu," kata Lorah dalam konferensi pers.

"Namun, saya ingin masyarakat memahami betapa seriusnya kejadian ini dan dampak mendalam yang ditimbulkan tragedi tersebut terhadap mereka yang terlibat maupun komunitas kami secara keseluruhan," ujarnya.

Lorah menolak membahas motif penembakan, tetapi mengisyaratkan bahwa kondisi kesehatan mental mungkin menjadi salah satu faktor. Penyidik akan berbicara dengan kerabat pelaku serta memeriksa telepon seluler milik dua perempuan yang ditembak di luar rumah.

"Mereka mengetahui ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah itu. Kami harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Lorah.

Erie terletak sekitar 190 kilometer di utara Pittsburgh.

 

Wali Kota Sampaikan Belasungkawa

Penembakan di Erie mengingatkan pada pembantaian di Wilkes-Barre, Pennsylvania, pada 1982. Dalam peristiwa tersebut, seorang pria membunuh 13 orang, termasuk lima anaknya sendiri.

Dalam konferensi pers pada Sabtu, Wali Kota Erie Daria Devlin menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

"Saya sungguh sangat menyesal," kata Devlin.

"Apa yang terjadi pada kalian sangat mengerikan, dan tidak ada satu pun yang bisa kami katakan hari ini yang akan membuat semuanya terasa lebih mudah. Seluruh komunitas kami bersama kalian. Kami turut berduka dan hadir untuk memberikan dukungan," lanjutnya.

Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro juga menyampaikan dukacita melalui unggahan di platform X pada Sabtu.

"Hati saya hancur untuk keluarga ini. Lori dan saya berdoa bagi orang-orang terkasih mereka dan seluruh komunitas Erie," tulis Shapiro.