Sukses

Dituduh Pelit, Padahal Diam-diam Steve Jobs Beramal Jutaan Dolar!

Mendiang Steve Jobs dikenal sebagai manusia jenius, dengan visi jauh ke depan, dan tekad kuat yang menjadikannya sosok penting lagi tak tergantikan di balik kekaisaran teknologi, Apple.

Namun, hingga maut menjemputnya Rabu 5 Oktober 2011 lalu, tak ada yang menyebutnya sebagai dermawan laiknya Bill Gates -- bos Microsoft, yang seorang filantropi. Jobs bahkan kerap dihujani kritik, dianggap pelit dan tak peduli dengan kegiatan kemanusiaan.

Anggapan itu sama sekali tak benar. Bersama istrinya, Laurene Powell Jobs, ia menyumbangkan jutaan dolar. Secara diam-diam, tanpa ada orang yang tahu.

Saking tertutupnya, mungkin tak enak, Jobs bahkan tak pernah mengutarakannya pada penulis biografinya sendiri.

Apa yang selama ini disembunyikan Jobs hingga liang kuburnya, diungkap oleh sang istri. Kali pertamanya, Lauren menyinggung soal amal dalam sebuah wawancara dengan New York Times.

"Kami sangat berhati-hati saat memberi dukungan pada kerja besar dan mulia orang lain, sebisa mungkin. Kami tak suka melampirkan nama kami (sebagai penyumbang) pada apapun," kata Laurene seperti dimuat Perth Now, Minggu (26/5/2013).

Jobs dilaporkan mendonasikan US$ 50 juta atau Rp 488 miliar dari koceknya sendiri untuk sejumlah rumah sakit di California. Menurut penerusnya, Tim Cook, uang itu digunakan untuk membangun pusat kesehatan anak dan membangun bangunan utama rumah sakit.

Juga baru terungkap bahwa Jobs secara murah hati mengucurkan banyak uang untuk kegiatan melawan AIDS.

Dan hebatnya, Jobs tetap diam soal apa yang telah ia berikan untuk amal, meski serangan dan tudingan gencar dialamatkan padanya.

Pada 2001 lalu, artikel New York Times mengklaim, tak ada catatan yang menyebut pendiri Apple itu menyumbangkan uang untuk amal.

Saat Jobs tak bereaksi, tak mencoba mengklarifikasi, salah satu temannya, Bono -- vokalis U2 menulis bahwa dana yang diberikan Apple pada penelitian HIV "luar biasa berharga".  Ia tak menyebut nama Jobs saat itu.

Sosok lain Steve Jobs kembali terkuak: seorang rendah hati yang tak menganggap kegiatan amal sebagai bagian dari pencitraan. (Ein)