Sukses

Memburu Planet Ungu, Peluang Cari Kehidupan di Luar Bumi

Bahkan, para astronom berusaha menemukan tanda-tanda kehidupan di luar bumi. Dalam waktu lebih dari 30 tahun, para ahli telah menemukan lebih dari 5000 planet lainnya yang tersebar di seluruh alam semesta.

Liputan6.com, Jakarta - Para astronom terus melakukan eksplorasi luar angkasa untuk berbagai tujuan, salah satunya untuk menemukan kemungkinan manusia dapat bermukim di planet lain.

Bahkan, para astronom berusaha menemukan tanda-tanda kehidupan di luar bumi. Dalam waktu lebih dari 30 tahun, para ahli telah menemukan lebih dari 5000 planet lainnya yang tersebar di seluruh alam semesta.

Namun, sejauh ini belum ada satupun yang terlihat mirip dengan Bumi. Baru-baru ini, sekelompok peneliti dari Carl Sagan Institute mengatakan ada cara yang bisa digunakan saat berburu tanda-tanda kehidupan di alam semesta.

Cara yang dimaksud yakni mencari planet berwarna ungu. Dikutip dari laman Space pada Senin (22/04/2024), para ahli beranggapan planet mirip bumi adalah planet yang memiliki warna biru, namun rupanya tidak selamanya seperti itu.

Dalam jurnal yang dipublikasikan di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters, peneliti dari Carl Sagan Institute mengatakan warna ungu yang berasal dari bakteri yang dapat berkembang biak di planet lain ketika terkena berbagai kondisi. Bakteri ungu adalah mikroorganisme fotosintesis yang hidup di lingkungan perairan dan darat.

Bakteri ini dapat bertahan hidup dengan sedikit atau tanpa cahaya tampak atau oksigen. Sementara, bakteri tersebut ditemukan di beberapa tempat di bumi, seperti di perairan dangkal, pantai dan rawa, serta ventilasi hidrotermal laut dalam.

Ketika kehidupan mikroba pertama kali muncul di bumi sekitar tiga miliar tahun yang lalu. Bakteri ungu pun kemungkinan merupakan salah satu bentuk kehidupan yang paling tersebar luas.

Lebih lanjut studi menemukan bakteri ungu mungkin lebih cocok untuk berkembang di planet yang mengorbit bintang katai merah. Sebab katai merah merupakan jenis bintang paling umum di Bima Sakti.

Berdasarkan temuan ini, peneliti pun membuat katalog berbagai warna dan tanda kimia yang dihasilkan oleh berbagai organisme dan mineral dalam pantulan cahaya sebuah planet ekstrasurya (exoplanet).

Tim pun akan melengkapi teleskop generasi mendatang dengan peralatan yang diperlukan untuk menemukan berbagai bentuk kehidupan di alam semesta.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Bumi Sempat Bewarna Ungu

Dikutip dari Space pada Senin (22/04/2024) artikel berjudul Purple Earth dalam International Journal of Astrobiology menyebut, bumi pernah bewarna ungu. Para ahli menyebut hal ini terjadi sebelum evolusi klorofil yang mengubah planet kita menjadi hijau.

Teori ini juga pernah disampaikan oleh profesor mikrobiologi Shiladitya DasSarma dan astrobiologis Edward Schwieterman berdasarkan pengamatan mereka terhadap semua bentuk kehidupan. Organisme paling kuno yakni makhluk bersel satu menghasilkan pigmen yang dapat menggerakkan reaksi cahaya-energi.

Sel mikroba ini menggunakan foton pada spektrum warna kuning hingga hijau, sehingga membuatnya terlihat ungu ketika cahaya pada panjang gelombang biru dan merah dipantulkan kembali. Para peneliti menjelaskan, kromoprotein retinal sangat baik dalam menyerap cahaya pada rentang 490 hingga 600 nm.

Ketika terikat di dalam membran sel, retinal dapat menggunakan energi yang diperoleh dari matahari untuk membuat ATP, molekul bahan bakar sel. Proses fototrofik versi ini tidak terlalu efisien dibandingkan dengan fotosintesis dan tidak menghasilkan oksigen bebas atau gula.

Retinal adalah molekul yang lebih sederhana daripada klorofil, sehingga lebih mudah bagi sel untuk membuatnya. Upaya untuk memperkirakan kapan kehidupan awal memperoleh kemampuan untuk membuat pigmen menggunakan teknik analisis mutasi genetik yang disebut "molecular clock" masih belum diketahui.

Tetapi bukti menunjukkan bahwa hal itu terjadi tidak lama setelah kehidupan muncul sekitar 4 miliar tahun yang lalu. Para peneliti tidak yakin tentang rentang waktu yang tepat dari kemunculan klorofil.

Namun mereka tahu bahwa hal itu terjadi pada suatu saat sebelum 2,3 miliar tahun yang lalu. Sebab, kombinasi faktor yang belum sepenuhnya dipahami, alga fotosintetik bersel tunggal yang ada tiba-tiba mengambil alih ekosistem.

Hal ini menyebabkan apa yang disebut sebagai peristiwa oksigenasi besar.

(Tifani)

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.