Sukses

Prancis dan AS Menentang Ambisi Invasi Vladimir Putin, Dukung Perjuangan Ukraina

Liputan6.com, Paris - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis (1/12) menjanjikan dukungan mereka yang tak putus bagi perjuangan Ukraina melawan invasi Presiden Rusia Vladimir Putin. Janji itu disampaikan keduanya setelah melangsungkan pertemuan di Gedung Putih.

“Prancis dan Amerika Serikat menentang ambisi Vladimir Putin,” ungkap Biden setelah menyambut hangat Macron, pemimpin pertama yang melakukan kunjungan kenegaraan pada masa kepresidenan Biden.

“Aliansi antara kedua negara kita tetap penting untuk pertahanan kita,” ungkap Biden. “Prancis adalah mitra terbaik AS.” Ia menggambarkan Prancis sebagai “sekutu tertua kita dan mitra yang tak tergoyahkan dalam memperjuangkan kebebasan.”

Sementara itu, Macron mengatakan, dengan invasi Putin yang memasuki bulan kesepuluh, AS dan Prancis “perlu menjadi saudara seperjuangan lagi.”

Ia mengatakan, Washington dan Paris “memiliki keyakinan yang sama terhadap nilai-nilai kebebasan dan demokrasi.”

Kemegahan kunjungan kenegaraan pemimpin asing ke Gedung Putih terasa sangat kental, dengan Biden dan Ibu Negara Jill Biden meyapa Macron dan istrinya, Brigitte Macron. Kemudian mereka menyaksikan penampilan band berseragam kolonial memainkan lagu kebangsaan kedua negara, dan tembakan penghormatan pun diletuskan bagi kunjungan Macron.

Kedua presiden dan istri mereka melambaikan tangan dari balkon Gedung Putih sebelum Biden dan Macron kemudian masuk untuk melakukan pembicaraan. Makan malam kenegaraan juga rencananya akan diselenggarakan pada malam harinya.

Kedua pemimpin diperkirakan akan membahas berbagai topik selain dukungan keduanya bagi Ukraina.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Pengaruh China di Indo-Pasifik

Pejabat AS dan Prancis mengatakan pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik, program nulir Iran dan kondisi keamanan di wilayah Sahel di Afrika juga termasuk dalam agenda pembicaraan.

Setahun yang lalu, AS membuat marah Prancis dengan menyepakati penjualan kapal selam bertenaga nuklir ke Australia, sehingga Canberra membatalkan kesepakatan hampir $100 miliar untuk membeli kapal selam bertenaga diesel-listrik dari Prancis.

“Jika Anda memerhatikan apa yang sedang terjadi di Ukraina, yang terjadi di Indo Pasifik dan ketegangan dengan China, Prancis benar-benar berada di tengah itu semua,” kata Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby sebelum kunjungan Macron. “Untuk itu Presiden merasa ini adalah negara yang tepat dan paling pantas untuk menjadi pembuka kunjungan kenegaraan.”

 

3 dari 3 halaman

Turut Bahas UU Inflasi

Sehari sebelumnya, Rabu (30/11), Macron mengungkit satu sumber ketegangan Prancis dengan AS ketika ia berdiskusi dengan anggota Kongres, yaitu mengenai UU Penurunan Inflasi (IRA) yang disepakati Biden.

Macron mengutip ketentuan dalam UU tersebut tentang pemberian subsidi untuk produk-produk buatan AS, dengan mengatakan bahwa langkah itu “sangat agresif” terhadap perusahaan-perusahaan Eropa.

“Konsekuensi UU IRA adalah, kalian mungkin akan memperbaiki masalah kalian, tapi kalian akan memperburuk masalah saya,” ungkapnya. Ia mengatakan bahwa Prancis membuat “produk-produk yang persis sama dengan buatan kalian.”

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS