Sukses

Kantor HAM PBB: Jurnalis Al Jazeera Dibunuh Pasukan Israel

Liputan6.com, Ramallah - Informasi yang dikaji oleh Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan pasukan keamanan Israel melepaskan tembakan yang menewaskan jurnalis Al-Jazeera, Shireen Abu Akleh, pada Mei tahun ini.

Temuan tersebut menegaskan bahwa bukan tembakan sembarangan dari warga Palestina yang menyebabkan kematian jurnalis keturunan Palestina-Amerika itu, kata juru bicara Kantor HAM PBB Ravina Shamdasani saat konferensi pers di Jenewa, Swiss, Jumat.

"Semua informasi yang kami kumpulkan termasuk informasi resmi dari militer Israel dan Jaksa Agung Palestina konsisten dengan temuan bahwa tembakan yang menewaskan Abu Akleh dan melukai rekannya Ali Sammoudi berasal dari Pasukan Keamanan Israel dan bukan dari tembakan sembarangan oleh warga Palestina yang bersenjata, seperti yang awalnya diklaim oleh otoritas Israel," ujar dia.

Pejabat Israel dan Palestina saling menuduh atas insiden yang juga menyebabkan kekacauan di pemakaman Abu Akleh ketika polisi-polisi Israel menyerang para pelayat yang hadir, Reuters mewartakan sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (25/6/2022).

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan pada Jumat bahwa mereka berkomitmen untuk menyelidiki kematian Abu Akleh dan meminta pihak berwenang Palestina untuk berbagi akses ke peluru yang menewaskan jurnalis tersebut.

Sementara itu, Shamdasani mengatakan Kantor HAM PBB telah melakukan "pemantauan" sendiri atas insiden tersebut.

Shamdasani menolak menggunakan kata "penyelidikan". Dia mengatakan PBB telah memeriksa materi foto, video, dan audio serta mengunjungi tempat kejadian, berkonsultasi dengan para ahli, meninjau komunikasi resmi, dan mewawancarai para saksi.

"Sangat menggelisahkan bahwa pihak berwenang Israel tidak melakukan penyelidikan kriminal," kata Shamdasani.

Otoritas Palestina mengatakan penyelidikannya menunjukkan bahwa Abu Akleh ditembak oleh seorang tentara Israel dalam "pembunuhan yang disengaja."

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

2 dari 4 halaman

Israel Membantah Tuduhan

Di lain pihak, Israel membantah tuduhan itu.

Abu Akleh ditembak mati pada 11 Mei 2022 ketika dia sedang meliput serangan militer Israel di Kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki Israel.

"Temuan kami menunjukkan bahwa tidak ada peringatan yang dikeluarkan dan tidak ada penembakan yang terjadi pada waktu itu dan di lokasi itu," kata Shamdasani.

"Sekitar pukul 06.30, ketika empat wartawan berbelok ke jalan menuju kamp, mengenakan helm antipeluru dan jaket antipeluru dengan tanda 'PRESS', beberapa peluru tunggal ditembakkan ke mereka dari arah tentara Pasukan Keamanan Israel," ujar dia, melanjutkan.

"Satu peluru melukai Ali Sammoudi di bahu, satu peluru lagi mengenai kepala Abu Akleh dan membunuhnya seketika."

Dalam sebuah pernyataan yang menanggapi pernyataan Shamdasani, IDF bersikeras telah terjadi baku tembak antara pasukan Israel dan orang-orang bersenjata Palestina.

"Sejak insiden itu, IDF telah menyelidiki dan meninjau keadaan kematian Abu Akleh," demikian bunyi pernyataan itu.

“Penyelidikan IDF dengan jelas menyimpulkan bahwa Abu Akleh tidak sengaja tertembak oleh seorang tentara IDF dan bahwa tidak mungkin untuk memastikan apakah dia dibunuh oleh seorang pria bersenjata Palestina yang menembak tanpa pandang bulu di daerahnya atau secara tidak sengaja oleh seorang tentara IDF.”

 

3 dari 4 halaman

Syahidah

Duta Besar Palestina Zuhair Al-Shun turut berduka cita atas meninggalnya jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh. Jurnalis senior itu tewas kena tembakan ketika sedang meliput di Kota Jenin, Tepi Barat.

Proses pemakamanan Shireen di Gereja Yerusalem diiringi para simpatisan yang kagum atas perannya sebagai jurnalis yang konsisten mengekspos konflik antara Palestina dan Israel.

"Pembunuhan wartawan Aklehl oleh Israel itu merupakan kejahatan yang keji yang kami dapati dan kami hadapi saat ini," ujar Dubes Zuhair Al-Shun dalam acara peringatan Hari Nakba di Kedubes Palestina, Jumat (13/5/2022).

Shireen Abu Akleh disebut sebagai jurnalis dengan kewarganegaraan Palestina. Apa yang terjadi kepada jurnalis senior itu dianggap sebagai bentuk kekejaman dan kejahatan kepada rakyat Palestina.

"Rakyat dan pemerintah Palestina menjadikan Shireen sekarang sebagai syahidah di hati kami," ujar Dubes Palestina.

 

4 dari 4 halaman

Hari Nakba

Nakba adalah peristiwa pada tahun 1948 ketika terjadi eksodus rakyat Palestina ketika terjadi Perang Palestina. Dampak dari eksodus itu adalah banyaknya rakyat Palestina yang kehilangan tanah mereka, terutama setelah sebagian besar wilayah Palestina dideklarasi sebagai Israel pada 1949.

Perjanjian itu ditandatangani oleh Mesir, Yordania, Lebanon, Suriah, bersama dengan Israel.

Perayaan Nakba digagas oleh Presiden Yasser Arafat. Dubes Palestina juga menegaskan bahwa negaranya dan para generasi muda Palestina tidak akan melupakan apa yang terjadi saat ini.

Ia pun meminta agar negara-negara besar di dunia terus meminta pertanggung jawaban Israel atas aksi-aksinya.

"Kami telah hidup 74 tahun dalam kekejaman dan kekerasan ini dan dunia menyaksikan apa yang kami hadapi. Big power, PBB, dan negara-negara lain yang memilili kekuatan tidak memberikan apapun kepada kami," ujar Dubes Palestina.