Sukses

5 Februari 1994: Pembantaian Tragis di Pasar Sarajevo

Rumah sakit Kosevo dibanjiri korban yang diangkut dengan ambulans, mobil dan truk, beberapa di antaranya terbungkus kain yang biasa digunakan di kios-kios pasar.

Liputan6.com, Sarajevo - Sebuah bom mortir meledak di alun-alun pasar utama di Sarajevo, menewaskan 68 orang dan melukai 200 orang.

Ini adalah kekejaman tunggal terburuk dalam konflik 22 bulan antara Serbia Bosnia, Muslim dan Kroasia, demikian dikutip dari laman BBC, Sabtu (5/2/2022).

Inspektur PBB memeriksa lokasi bom untuk menentukan dari mana asalnya, tetapi secara luas diyakini bahwa pasukan Serbia yang mengepung kota tersebut dan melakukan aksinya.

"Beberapa orang benar-benar tercabik-cabik. Kepala dan anggota badan dicabik-cabik," kata seorang saksi mata.

Rumah sakit Kosevo dibanjiri korban yang diangkut dengan ambulans, mobil dan truk, beberapa di antaranya terbungkus kain yang biasa digunakan di kios-kios pasar.

Serangan itu terjadi pada hari dimana para pemimpin Serbia Bosnia, Muslim dan Kroasia bertemu di kota itu untuk membahas masa depannya.

Utusan perdamaian David Owen mengatakan: "Kami telah mencapai titik di mana orang-orang Serbia Bosnia siap untuk membawa Sarajevo keluar dari penyelesaian perdamaian secara keseluruhan untuk mencoba mendemiliterisasinya.

"Saya benar-benar bertekad itu tidak dibatalkan."

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Membantah Tuduhan

Pemerintah Bosnia yang mayoritas Muslim menuduh Serbia melakukan penembakan itu.

Menteri Penerangan Republik Serbia Bosnia, Miroslav Toholj, membantah tuduhan itu dan menyalahkan Muslim, dengan mengatakan, "Serbia tidak membunuh warga sipil".

Tentara Serbia Bosnia juga mengancam untuk mencegah distribusi bantuan PBB kecuali tuduhan terhadap mereka dicabut.

Serangan terakhir ini terjadi setelah pasukan penjaga perdamaian sekutu - di bawah komandan baru Jenderal Sir Michael Rose - telah mengambil posisi yang lebih kuat melawan agresi Serbia.

Secara keseluruhan 200.000 orang telah tewas dalam perang.

3 dari 3 halaman

Infografis 6 Cara Efektif Hadapi Potensi Penularan Covid-19 Varian Omicron

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.