Sukses

Kala Inggris Akhiri Pembatasan COVID-19, Austria Cabut Lockdown untuk Warga Belum Vaksinasi

, London - Berdalih peluncuran booster vaksinasi COVID-19 berhasil mengurangi penyakit serius dan rawat inap, Pemerintah Inggris mencabut pembatasan dan aturan masker wajib mulai Kamis 27 Januari 2022. 

Saat ini, jumlah orang yang berada di perawatan intensif atau ke rumah sakit, menunjukkan tren kasus harian menurun, menjadi di bawah 100.000 selama beberapa hari terakhir, dari puncaknya sempat mencapai 200.00 kasus pada tahun baru.

Kini, siapapun yang berada di Inggris, tidak lagi terikat oleh persyaratan hukum izin COVID-19 untuk masuk ke area publik seperti klub malam dan tempat-tempat besar lainnya. Saran bekerja di rumah juga dihapus oleh pemerintah, termasuk panduan masker di ruang kelas.

Pemerintah Inggris pada awal Desember 2021, telah melakukan langkah-langkah yang disebut "Rencana B”, untuk menghentikan penyebaran cepat varian Omicron dan sebagai upaya mengulur waktu agar penduduk bisa penerima suntikan vaksin booster.

Menteri Kesehatan, Sajid Javid mengatakan, peluncuran vaksin pemerintah, termasuk pengujian dan pengembangan perawatan antivirus digabungkan, untuk membuat "beberapa pertahanan terkuat di Eropa,”, sebagai kemungkinan "kembali dengan hati-hati” ke keadaan normal. 

Sajid kembali menambahkan, "saat kita belajar untuk hidup dengan COVID, kita perlu melihat dengan jelas bahwa virus ini tidak akan hilang,” Sementara infeksi terus turun, pejabat kesehatan mengatakan, bahwa kasus Omicron masih umum di seluruh negeri, terutama di kalangan anak-anak dan orang tua. 

Para pejabat mengatakan, bahwa hampir 84 persen orang berusia di atas 12 tahun di Inggris telah menerima dosis vaksin kedua, dan dari persentase tersebut, ada 81 persen yang memenuhi syarat dan sudah menerima suntikan booster. 

Inggris Klaim Capai Puncak Infeksi Omicron

Perdana Menteri, Boris Johnson mengatakan, pekan lalu terjadi lonjakan infeksi Omicron "sekarang telah mencapai puncaknya secara nasional." 

Jhonson menjelaskan, bahwa ia akan mengeluarkan panduan atau saran baru bagi mereka yang terinfeksi untuk berhati-hati, dari persyaratan hukum sebelumnya harus mengisolasi diri selama lima hari penuh. 

Pejabat kesehatan mengatakan sudah merencanakan strategi pasca pandemi jangka panjang yang memperlakukan COVID-19 lebih seperti flu. 

Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara yang membuat aturan kesehatan masyarakatnya sendiri, juga telah melonggarkan pembatasan COVID-19. 

Sementara Austria memutuskan untuk mencabut aturan lockdown bagi warga non-vaksinasi COVID-19.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Austria Bakal Cabut Penguncian Khusus bagi yang Tidak Divaksinasi

Sementara itu, di Austria, lockdown atau penguncian untuk mereka yang tidak divaksinasi akan dicabut meskipun angka infeksi melonjak.

Kanselir Austria, Karl Nehammer pada Rabu mengumumkan penguncian khusus untuk orang yang tidak divaksinasi akan berakhir minggu depan. Keputusan itu diumumkan menjelang pertemuan Kabinet pemerintah federal konservatif-hijau. 

Nehammer mengatakan, orang tanpa vaksinasi terhadap Virus Corona boleh keluar rumah mulai Senin, tanpa alasan. Namun, mereka masih akan dilarang dari sebagain besar kehidupan publik, termasuk restoran dan ritel non-esensial. 

Meskipun jumlah infeksi baru mencapai rekor tertinggi, situasi di rumah sakit Austria dikatakan stabil. Wolfgang Mückstein pada konferensi pers mengatakan, bahwa para ahli telah menyimpulkan, pengunciqan ke orang yang tidak divaksinasi tidak lagi diperlukan, bahkan ketika kasus melonjak.

"Kami sampai pada kesimpulan bahwa penguncian untuk orang-orang yang tidak divaksinasi di Austria hanya dapat dibenarkan ketika terjadi ancaman beban berlebih dari kapasitas perawatan,” kata Mückstein. 

Parlemen Austria pekan lalu menyetujui wajib vaksinasi Virus Corona untuk orang dewasa mulai bulan depan. Austria akan menjadi negara pertama yang melakukannya, meskipun ada gelombang protes menentang tindakan tersebut. 

Langkah itu diumumkan pada November, sebagai upaya meningkatkan vaksinasi di ngera tersebut. Sejak itu, puluhan ribu orang berdemonstrasi menentang vaksinasi wajib dalam rapat umum akhir pekan.

3 dari 3 halaman

Infografis 6 Cara Efektif Hadapi Potensi Penularan Covid-19 Varian Omicron