Sukses

Jokowi Jadi Penengah Australia dan China di KTT ASEAN

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengambil langkah diplomatis sebagai penengah antara Australia dan China di KTT ASEAN. Jokowi menegaskan pentingnya budaya damai (culture of peace), ketimbang perlombaan senjata. 

Hubungan China dan Australia sedang renggang sejak 2020. Australia menuntut adanya investigasi independen COVID-19, namun hal itu ditentang keras oleh China. Alhasil, China "menjegal" produk-produk Australia. 

Isu baru muncul setelah Australia, Inggris, dan Amerika Serikat membentuk kerja sama AUKUS untuk pertahanan kawasan. Australia bahkan membeli kapal selam tenaga nuklir ke AS. 

Pada KTT ASEAN, Jokowi mengajak kedua negara untuk sama-sama berkolaborasi dengan ASEAN untuk menjaga stabilitas kawasan.

"Kita harus mampu membangun culture of conflict menjadi culture of peace, trust deficit menjadi strategic trust," kata Jokowi dalam KTT ASEAN-Australia, Rabu (27/10/2021). 

Jokowi menjelaskan bahwa AUKUS menimbulkan kekhawatiran, sehinggga mengajak Australia untuk transparan kepada ASEAN, serta menjalin kemitraan strategis yang komprehensif.

Sementara, Jokowi berpesan kepada China agar terlibat dalam melindungi perdamaian di kawasan. Hal itu diungkap melalui Menlu Retno Marsudi.

"Mendorong kemitraan ASEAN-RRT untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan ... melalui berbagai mekanisme ASEAN termasuk penanganan kejahatan lintas negara," ujar Menlu Retno. 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Amerika Serikat di KTT ASEAN

Terkait Amerika Serikat, Presiden Joko Widodo menyampaikan tiga harapan terkait hubungan antara ASEAN dengan Amerika Serikat (AS) ke depan dalam pidatonya saat menghadiri KTT ke-9 ASEAN-AS yang digelar secara virtual. Pertama, hubungan ASEAN-AS harus dapat memperkuat stabilitas dan perdamaian di kawasan.

"Yang Mulia, kita ingin terus melihat kawasan kita menjadi kawasan damai dan stabil. Saya yakin, tidak akan ada perdamaian dan stabilitas di Asia tanpa peran dari ASEAN," ujar Presiden Jokowi yang mengikuti KTT ASEAN secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Selasa, 26 Oktober 2021.

Menurut Jokowi, penghormatan terhadap hukum internasional, Treaty of Amity and Cooperation, serta perangkat norma dan hukum lain menjadi kunci.

Dalam konteks tersebut, kerja sama konkret untuk mengimplementasikan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific secara terbuka dan inklusif menjadi sangat penting artinya. Melalui kerja sama konkret akan terbangun kepercayaan yang tinggi, yang akan dengan sendirinya menopang stabilitas dan perdamaian.

"ASEAN mengharapkan kiranya AS dapat menjadi salah satu mitra utama dalam mengimplementasikan empat prioritas kerjasama AIOP yaitu maritim, konektivitas, SDGs dan kerja sama perdagangan investasi," jelasnya.