Sukses

Sejumlah Youtuber Ungkap Ada Sponsor Minta Sebar Hoaks Vaksin COVID-19

Liputan6.com, London - Youtuber luar negeri mengungkap adanya sindikat sponsor yang membayar influencer untuk menyerang vaksin COVID-19 jenis tertentu. Mereka ditawarkan biaya besar, serta diminta membuat video yang terkesan natural dalam menyebarkan informasi menyesatkan. 

Informasi tersebut diberikan oleh pihak sponsor yang juga meminta agar identitasnya disembunyikan. Sasarannya adalah vaksin Pfizer

Dilaporkan BBC, Rabu (28/7/2021) salah satu Youtuber yang ditawari adalah Mirko Drotschmann (35). Ia memiliki 1,5 juta subscriber di Youtube. Pihak yang memintanya menyebar hoaks tentang vaksin adalah agensi pemasaran influencer bernama Fazze.

Mirko yang juga bekerja sebagai jurnalis menyadari bahwa informasi palsu itu.

"Saya kaget," ujarnya, "kemudian saya penasaran, apa di balik semua ini?"

Fazze tidak hanya beraksi di Jerman. Youtuber bernama Léo Grasset (31) dari Prancis juga mendapat tawaran. Fazze berjanji memberikan 2.000 euro (Rp 34 juta) jika Léo Grasset mau ikut. Namun, sekali lagi Fazze ingin namanya disembunyikan sebagai sponsor.

"Itu adalah red flag (bendera merah/hal mencurigakan) yang sangat besar," kata Léo Grasset. 

Keduanya lantas pura-pura setuju dengan Fazzet.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Apa yang Terjadi?

Mirko dan Léo berpura-pura tertarik karena ingin mengetahui apa yang ada di balik permintaan iklin ini. Mereka lantas mendapatkan instruksi detail terkait apa yang harus mereka ucapkan dalam video itu.

"Lakukanlah seakan kamu memiliki passion dan ketertarikan di topik ini," jelas instruksi tersebut.

Keduanya dilarang untuk menyebut bahwa video itu memiliki sponsor, dan mereka diminta berpura-pura bersikap spontan saja memberikan saran karena khawatir.

Padahal, media sosial melarang pembuat konten merahasiakan sponsor. Hal itu juga ilegal di Prancis dan Jerman.

Namun, informasi dari Fazze ternyata mencatut produk jurnalistik dari media mainstream. Fazze memakai informasi dari koran Prancis, Le Monde, terkait kebocoran data dari Badan Pengobatan Eropa (European Medicines Agency).

Tulisan di artikel itu memang asli, tetapi sebetulnya tak terkait kematian vaksin. Pihak Fazze melakukan framing untuk memberikan kesan bahwa kematian terkait vaksin diketahui dari bocornya informasi dari badan tersebut.

Data-data yang diminta untuk disebarkan juga campur-campur dari berbagai sumber dan tidak sesuai konteks. Léo yang biasa membuat konten sains menyadari keanehan data-data itu.

Léo dan Mirko juga diberikan daftar link agar mereka sebarkan. Semuanya tampak mencurigakan. Akhirnya, kedua milenial itu mengekspos tindakan Fazze di media sosial.

Pada Mei lalu, Léo menggunakan akun twittternya (@dirtybiology) untuk menyebarkan pesan kiriman mencurigakan dari Fazze. Ia meminta agar publik waspada.

Dan ternyata, sudah ada influencer yang sudah lebih dahulu menyebarkan video yang mirip permintaan Fazze. Salah satunya bahkan punya tiga juta follower di Instagram.

Youtuber pertama berasal dari India, yakni Ashkar Techy, yang biasa membuat video tentang mobil. Satu lagi adalah Everson Zoio, pembuat prank terkenal dari Brasil yang punya tiga juta follower. Setelah dikontak BBC, keduanya menghapus video-video terkait vaksin itu, namun tidak memberi komentar.

Léo menjelaskan bahwa bahaya penyebaran hoaks masih ada, dan ini berisiko besar kepada anak-anak muda yang lebih aktif di platform digital. 

"Jika kamu ingin memanipulasi opini publik, terutama anak-anak muda, kamu tidak ke TV," ujarnya.

"Habiskan saja jumlah uang yang sama ke kreator TikTok, kreator Youtube. Seluruh ekosistem dengan sempurna dibangun untuk efisiensi maksimum untuk disinformasi pada saat ini," kata Léo.

3 dari 4 halaman

Siapa Dalangnya?

BBC mencoba untuk menghubungi email yang dikirim ke Mirko dan Lé, tetapi emailnya terpantul. Emailnya terpantul bukan dari Fazze, melainkan dari domain bernama AdNow.

AdNow merupakan perusahaan marketing digital yang didaftarkan di Rusia dan Inggris. BBC juga berusaha untuk menghubungi pihak AdNow melalui telepon, email, dan surat ke markas mereka di Moskow, tetapi tidak ada respons.

Namun, BBC berhasil menghubungi Ewan Tolladay, salah satu dari dua direktur cabang AdNow di Inggris. Fazze disebut sebagai joint venture antara Stanislav Fesenko yang juga menjabat sebagai direktur di AdNow Inggris, serta seorang lagi yang identitasnya tak diketahui.

Ia berkata tak tahu dari tindakan disinformasi itu. Setelah skandal ini, ia berencana menutup AdNow di Inggris, serta menutup Fazze. Sementara, Fesenko menolak berkomentar.

Pihak berwajib Inggris dan Prancis sudah turun tangan. Lantas muncul spekulasi keterlibatan Rusia yang berkepentingan mempromosikan vaksin Sputnik V.

Kedutaan Besar Rusia di Inggris berkata tidak ada motivasi menyerang Pfizer.

"Kami menangani Covid-19 sebagai ancaman global dan maka dari itu tidak tertarik untuk melemahkan usaha-usaha global dalam melawannya, vaksinasi masyarakat dengan vaksin Pfizer adalah salah satu cara menghadapi virus itu," ujar pihak Kedubes.

4 dari 4 halaman

Infografis COVID-19: