Sukses

Pandemi COVID-19: Ketidaksetaraan Gender pada Wanita di Industri Media Meningkat

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi hidup kita dalam berbagai hal, terutama bagi para jurnalis wanita di seluruh dunia. Menanggapi hal tersebut, Kedutaan Besar Amerika Serikat menyelenggarakan diskusi daring, pada Rabu (21/4), dengan judul 'Jurnalis Wanita Berani Hadapi Pandemi' dengan sejumlah pembicara yang berbagi pengalaman terkait hal tersebut melalui Youtube.

Diskusi ini dihadiri oleh Sekjen Aliansi Jurnalis Indonesia Ika Ningtyas, Direktur Eksekutif Philippine Center of Investigative Journalis Carmela Fonbuena, dan Editor/Pembawa Berita Thai PBS Nattha Komolvadhin.

Diskusi ini dimoderasi oleh Wapemred Koran Sindo Hanna Fauzie dan buka langsung oleh Deputy Press Attache, Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta Sita Raiter.

Diskusi ini dimulai dengan kisah mengenai isu-isu ketidaksetaraan gender yang dihadapi oleh jurnalis perempuan di masa krisis ini, tantangan khas setiap negara (Indonesia, Thailand, dan Fillipina), dan kesuksesan mereka dalam mengatasi krisis tersebut.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh International Federation of Journalis, terlihatnya peningkatan pada ketidaksetaraan gender pada industri media selama pandemi. 

"...survei menunjukkan adanya peningkatan sebesar 52 persen. Pandemi menjadi faktor utama dari ketidaksetaraan ini, dimana sebagian besar wanita kehilangan pekerjaannya dan kepemimpinan mereka." Jelas Sita Raiter, Deputy Press Attache, Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta.

Disaat yang bersamaan, penelitian dari Factual California Based Technology Company menyebutkan bahwa jurnalis wanita menghasilkan lebih banyak berita faktual dan terpercaya mengenai pandemi.

Raiter juga menyebutkan bahwa diskusi tersebut ditujukan untuk mempromosikan suara wanita di media, memperingati prestasi para wanita dalam jurnalism, dan mengatasi tantangan media yang dihadapi para jurnalis wanita.

2 dari 3 halaman

Tantangan Jurnalis Wanita Selama Pandemi

Saat ini dunia tengah menghadapi peningkatan kasus Covid-19, dimana lebih dari 1.000 kasus per hari nya.

Jurnalis terpaksa harus bekerja secara online dari rumah dan menyesuai diri dengan kondisi saat ini. Hal ini juga membuat terjadinya hambatan dengan pemerintah yang ingin menghidupkan kembali sektor pariwisata dan hiburan yang sedang kesulitan.

Di satu sisi, beberapa jurnalis, termasuk jurnalis wanita, masih harus terjun kelapangan untuk melakukan pekerjaan mereka yang dimana memiliki kemungkinan besar terpapar Covid-19. Pandemi juga memperlihatkan begitu besar peran perempuan, terutama di bidang jurnalistik. 

Informasi cepat, aktual, akurat dan berimbang oleh media massa, turut disajikan dari olahan pemikiran para jurnalis perempuan. Mereka bahkan berjibaku di lapangan untuk menyajikan fakta untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Peran jurnalis wanita saat ini tidaklah hanya pandemi, namun juga ketidaksetaraan gender yang terus menekan kreativitas dan kinerja wanita, dan juga kepercayaan publik akan berita yang disajikan.

"Media tradisional saat ini telah banyak menderita karena isu kepercayaan publik. Kita tidak sempurna, kita pasti membuat kesalahan. Tapi apa yang telah kita lihat pada tahun terakhir adalah efek motivasi politik yang tersebar di media, bukan lagi kebenaran." Fobuena menambahkan, "Belum lagi ditambah dengan berbagai missinformasi yang tersebar di berbagai media."

 

Reporter: Lianna Leticia

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini