Sukses

Ekonomi India Lesu, Sinema Bollywood Tetap Jaya

Liputan6.com, New Delhi - India sedang mengalami perlambatan ekonomi. Baru-baru ini, Moody's -- jasa analisis keuangan dan analisis atas lembaga usaha dan lembaga pemerintah dunia -- memangkas prediksi pertumbuhan India pada tahun depan dari 5,8 persen menjadi 4,9 persen saja.

Jutaan warga India pun memilih pergi ke bioskop untuk menonton film Bollywood. Industri perfilman India masih aman meski warga India harus menahan pengeluaran lainnya.

Dilansir dariĀ AFP, Rabu (18/12/2019), hiburan film-film Bollywood ternyata membantu warga India mengobati frustasi akibat ekonomi. Menonton sinema Bollywood dengan nyayian dan happy ending menjadi rutinitas akhir pekan masyarakat India.

"Situasi ekonomi terkini sangat membuat frustasi. Menonton film adalah cara yang luar biasa untuk lari dari kenyataan," ujar Ankita Maneck, seorang marketing executive di kota Baroda.

Wanita itu setahun belakangan memilih kembali ke kota asalnya usai kehilangan pekerjaan di perantauan. Ia pun harus berjuang mencari dana operasi bapaknya. Tiap Jumat malam, menonton bioskop menjadi pelipur lara.

Ia sebetulnya bisa saja mendownload film ke smartphone-nya, namun ia berkata menonton di ruangan gelap bioskop bersama banyak orang memberikan sensasi tersendiri.

Film blockbuster Bollywood yang sedang dinantikan audiens India adalah Dabangg 3 (Fearless 3) yang menghadirkan aktor legendaris Salman Khan. Jutaan orang diperkirakan akan menyerbu bioskop untuk menonton film aksi tersebut.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 2 halaman

Pelarian?

Tahun lalu, industri perfilman India merilis hingga 1.800 film. Perkembangan layanan streaming seperti Netflix dan Amazon Prime masih belum bisa menggeser popularitas Bollywood dari audiens.

"Pada 2019, performa Bollywood sangatlah luar biasa dalam tiga kuartal terakhir dan tumbuh sebanyak 15 persen dibandingkan tahun lalu," ujar analis perdagangan film asal Mumbai, Girish Johar.

Melesatnya industri Bollywood pun sempat dipakai oleh pemerintah sebagai justifikasi bahwa isu perlambatan ekonomi di Indonesia tidak separah yang dikabarkan. Pernyataan pemerintah pun sempat memancing kontroversi.

Pasalnya, menonton film di India merupakan hiburan yang murah. Di Mumbai saja audiens cukup membayar 75 rupee atau Rp 14.772 untuk mendapat tiket menonton bioskop. Harga itu lebih murah ketimbang untuk makan restoran.

Ketika ada krisis finansial global di 2008, bisnis perfilman India juga tetap naik.

"Film adalah buah termurah yang banyak orang bisa akses untuk hiburan tanpa menghabiskan banyak uang ketika ada perlambatan ekonomi," ujar Kamal Gianchandani, CEO operator bioskop PVR Cinemas.