Sukses

UNICEF: 1 dari 3 Anak di Dunia Mengalami Obesitas atau Kurang Gizi

Liputan6.com, Paris - Sepertiga dari hampir 700 juta anak di dunia berusia di bawah lima tahun mengalami kekurangan gizi atau kelebihan berat badan (obesitas) dan menghadapi masalah kesehatan jangka panjang. Hal itu terungkap dalam penilaian PBB tentang nutrisi anak yang dirilis Selasa, 15 Oktober 2019. 

"Jika anak-anak makan dengan buruk, mereka hidup dengan kualitas buruk," jelas direktur eksekutif UNICEF Henrietta Fore, yang mengungkap laporan pertama State of the World Children dari IMF sejak 1999.

"Kami kehilangan arah dalam memperjuangkan gizi yang sehat."

Dilansir dari Channel News Asia, Selasa (15/10/2019), menurut laporan tersebut, masalah yang dulunya melanda mereka yang kaya, kini dialami kebanyakan negara miskin dan menengah ke bawah.

Meskipun jumlah kasus permasalahan gizi kronis atau lebih dikenal dengan stunting, mengalami penurunan hingga 40% dari 1990 hingga 2015, lebih dari 149 juta anak usia empat tahun ke bawah masih terlalu pendek di usianya. 

 

2 dari 4 halaman

Terserang Wasting

50 juta anak lainnya terserang wasting, suatu keadaan kekurangan gizi akut yang dipengaruhi kondisi sosial-ekonomi. 

Pada saat yang sama, setengah dari anak di bawah lima tahun di seluruh dunia tidak mendapatkan vitamin dan mineral esensial. Masalah tersebut merupakan masalah lama yang telah dijuluki oleh UNICEF sebagai "hidden hunger".

Namun, selama tiga dekade terakhir, bentuk lain dari malnutrisi anak telah melonjak di negara berkembang yaitu kelebihan berat badan.

"Tiga masalah ini yaitu kekurangan gizi, kurangnya gizi mikro penting dan obesitas, semakin banyak ditemukan di negara yang sama, kadang-kadang di lingkungan yang sama, dan sering di rumah yang sama," lapor Victor Aguayo, kepala program nutrisi UNICEF kepada AFP.

"Seorang ibu yang kelebihan berat badan atau obesitas dapat berpotensi memiliki anak yang mengalami stunting atau wasting. 

Di semua kelompok umur, lebih dari 800 juta orang di dunia terus-menerus menderita kelaparan dan dua miliar lainnya mengonsumsi terlalu banyak makanan yang salah yang mendorong masalah obesitas, penyakit jantung, dan diabetes.

3 dari 4 halaman

Masalah 'Hidden Hunger'

Hanya dua dari lima bayi di bawah enam bulan yang diberi ASI eksklusif seperti yang direkomendasikan. Penjualan susu formula berbasis susu telah meningkat di seluruh dunia sebesar 40 persen, dan di negara-negara berpenghasilan menengah atas seperti Brasil, China dan Turki hampir tiga perempat.

Vitamin dan mineral yang hilang dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh terganggu, penglihatan yang buruk dan cacat pendengaran. Sedangkan, kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia dan penurunan IQ.

"Masalah 'hidden hunger' disebut 'disembunyikan' karena Anda tidak melihat dampaknya sampai semuanya terlambat," kata Brian Keeley, pemimpin redaksi, kepada AFP.

"Kamu tidak memperhatikan bahwa anak itu berlari sedikit lebih lambat daripada yang lain, mengalami kesulitan di sekolah."

Namun, peningkatan obesitas jelas terlihat.

"Perlu ada fokus pada obesitas sebelum terlambat," kata Keeley. "Kecuali jika kamu menanganinya dengan cara pencegahan, kamu akan berjuang untuk berubah nanti."

Makanan cepat saji yang murah dan tersedia, sering dipasarkan langsung ke anak-anak, telah membuat masalahnya jauh lebih buruk.

"Anak-anak makan terlalu banyak dari apa yang tidak mereka butuhkan - garam, gula, dan lemak," tambah Keeley.

Kemajuan dalam memerangi kekurangan gizi juga akan terhambat oleh perubahan iklim.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Studi: 1 dari 3 Gadis Remaja di Keluarga Miskin Tak Pernah Sekolah
Artikel Selanjutnya
3 dari 10 Anak Disabilitas di Indonesia Tak Pernah Bersekolah