Sukses

Gurita Skandal Korupsi 1MDB Menyeret Nama Leonardo DiCaprio hingga Paris Hilton

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Skandal megakorupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB) kembali menjadi sorotan dunia, menyusul rencana sidang terhadap mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Abdul Razak pada Selasa esok.

Skandal 1MDB disebut-sebut sebagai "kasus kleptokrasi terbesar di dunia", yang penyalahgunaannya meluas tidak hanya di antara para elite politik Malaysia, namun juga pada pembelian kapal pesiar mewah, lukisan Picasso yang langka, hingga mendanai industri hiburan di Hollywood, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Senin (11/2/2019).

Selasa esok, Najib Razak akan ditanyai lebih jauh tentang detail menghilangnya miliaran dolar AS dana investasi Malaysia, yang konon hingga menyeret para persona papan atas dunia, seperti aktor Leonardo DiCaprio dan sosialita Paris Hilton.

Diketahui pula bahwa sebagian dana 1MDB digunakan untuk mendanai dua film Hollywood berbiaya besar, membeli berbagai properti strategis di Manhattan, New York, dan bahkan turut menyeret reputasi salah satu bank investasi terbesar dunia ke dalam lubang hitam.

Di pengadilan Kuala Lumpur, Najib Razak akan diadili atas tuduhan perannya dalam saga 1MDB, dan apa yang akan dicecar oleh jaksa penuntut adalah tentang upaya rumit untuk menutupinya.

Najib, yang secara konsisten menyangkal semua dakwaan, adalah mantan perdana menteri Malaysia pertama yang menghadapi tuduhan korupsi saat masih menjabat.

Pengungkapan kasus dugaan korupsi yang berkelindan dengan kekuasaan politik kotor di pengadilan selama beberapa bulan ke depan --khususnya bagaimana Najib dan istrinya diduga menghabiskan jutaan uang yang digelapkan-- membuat Malaysia gelisah.

"Pengadilan ini sangat penting bagi Malaysia," kata Bridget Welsh, profesor ilmu politik di Universitas John Cabot, yang ahli dalam bidang politik Negeri Jiran.

"Ini bukan hanya masalah akuntabilitas, ini adalah skandal internasional besar yang benar-benar memalukan Malaysia," lanjutnya berkomentar.

Konsekuensi dari persidangan akan dirasakan tidak hanya di Malaysia tetapi juga secara global. Salah seorang yang vokal terhadap kasus ini adalah Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Loretta Lynch, yang menggambarkan 1MDB sebagai "kasus kleptokrasi terbesar" di dunia, dan investigasi terhadapnya sedang berlangsung di 12 negara.

Di AS, kementerian kehakiman setempat menuduh dua mantan bankir Goldman Sachs berkonspirasi untuk mencuci miliaran dolar yang digelapkan dari dana investasi 1MDB.

"Proses peradilan ini tidak hanya melibatkan Malaysia dan Najib, namun juga seluruh sistem keuangan global dan orang-orang yang berperan di dalamnya untuk mengeruk keuntungan," tambah Welsh.

 

Simak video pilihan berikut: 

2 dari 4 halaman

Campur Tangan Jho Low

Gagasan 1MDB dimulai pada 2009, ketika Najib yang baru dilantik mendirikan dan mengawasi dana pemerintah, berjudul 1Malaysia Development Berhad atau 1MDB.

Tujuannya adalah untuk membantu menarik investasi asing masuk ke Malaysia. Alih-alih selama lima tahun setelahya, miliaran dolar digelapkan ke luar negeri atau dicuci melalui anak perusahaan oleh mereka yang menjalankannya.

Diduga sekitar seperempat dari dana curian berakhir di rekening bank pribadi Najib, yang digunakan untuk mendanai pengeluaran kartu kredit mewah dirinya dan sang istri, Rosmah Mansour.

Menurut laporan CNN, pemborosan lebih besar pada dana 1MDB dilakukan oleh Jho Low, yang merupakan teman dari anak tiri Najib, Riza Aziz. Pengusaha keturunan etnis Tionghoa itu memegang jabatan sebagai konsultan informal di skema invetasi terkait.

Low diduga menyedot miliaran dolar dari dana itu, dan menggunakannya untuk membeli sejumlah besar properti mewah di Manhattan, perhiasan senilai US$ 8,1 juta (setara Rp 113 miliar), sebuah piano kaca untuk model Australia Miranda Kerr, lukisan Picasso dan patung Oscar untuk Leonardo Di Caprio, kapal pesiar mewah, dan bahkan sempat mengadakan pesta mewah yang dihadiri oleh persona global seperti Paris Hilton, Lindsay Lohan dan Jamie Foxx.

Lebih dari itu, Jho Low juga diketahui membiayai produksi film Hollywood peraih box office, The Wolf of Wall Street.

"Sejumlah pejabat 1MDB yang korup memperlakukan kepercayaan publik ini sebagai rekening bank pribadi," kata Jaksa Lynch pada 2016.

Penyelidik internasional mengatakan setidaknya US$ 4,5 miliar (sekitar Rp 57,4 triliun) akhirnya dicuri dari 1MDB. Surat perintah penangkapan dikeluarkan untuk Low, yang bersembunyi setelah Najib kalah dalam pemilu Malaysia 2018.

Banyak pihak meyakini bahwa Low tengah bersembunyi di China, dan hingga kini belum juga berhasil ditemukan oleh otoritas Malaysia.

3 dari 4 halaman

Tindakan Malaysia Terhadap Skandal 1MDB

Skandal 1MDB pertama kali terkuak --salah satunya-- melalui hasil investigasi oleh jurnalis Inggris Clare Rewcastle-Brown pada awal 2015. Dia membeberkan dugaan penyalahgunaan dana investasi Malaysia itu di situs webnya, The Sarawak Report.

Tidak lama setelahnya, Najib Razak --yang masih berkuasa kala itu-- mendorong surat perintah penangkapan terhadap Rewcastle-Brown, memecat jaksa agung yang sedang menyelidiki 1MDB, menempatkan laporan yang memberatkan di bawah Undang-Undang Rahasia Negara, dan menghapus semua petugas anti-korupsi yang menjadi bagian dari penyelidikan terkait.

Penyelidikan 1MDB berikutnya, dilakukan di bawah pengawasan Najib dan secara luas dianggap sebagai lelucon, karena dituding membersihkan perdana menteri dari semua tuduhan.

Investigasi tegas baru kembali dilakukan ketika Mahathir Mohammad mengambil alih kekuasaan pada Mei tahun lalu.

Penggerebekan di hunian pribadi Najib oleh polisi menguak keberadaan barang-barang mewah senilai US$ 273 juta (setara Rp 3,8 triliun), termasuk 1.400 kalung, 567 tas karya desainer ternama, 423 jam tangan mewah, 2.200 cincin, 1.600 bros, dan 14 tiara.

Sejumlah mobil polisi menuju rumah mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak di Kuala Lumpur, Rabu (16/5). Polisi melakukan penggeledahan di kediaman Najib usai Salat Tarawih untuk mencari bukti dan dokumen terkait kasus 1MDB. (AFP/Mohd RASFAN)

Penggebrekan itu sekaligus menjadi aksi penyitaan terbesar dari jenisnya dalam sejarah hukum Malaysia.

Selanjutnya, Najib ditangkap pada empat kesempatan terpisah, di mana yang terbaru pada Jumat 8 Februari, ketika ia tengah bersantap malam dengan istrinya.

Najib menghadapi total 42 dakwaan yang berkaitan dengan 1MDB, mulai dari korupsi dan pencucian uang hingga penyalahgunaan kekuasaan, menerima suap ilegal dan pelanggaran kepercayaan terhadap kriminal.

Sedangkan strinya menghadapi 16 tuntutan pidana.

Keduanya mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan dan berbicara setelah ditangkap untuk kedua kalinya pada September tahun lalu, Najib mengatakan kepada wartawan: "Saya bukan pencuri ... tapi saya senang karena sekarang saya memiliki kesempatan untuk membersihkan nama saya tentang masalah ini satu kali dan untuk semua."

Jika terbukti bersalah, Najib Razak akan dijatuhi hukuman beruntun, yang membuatnya mendekam bertahun-tahun di balik jeruji besi.

 

4 dari 4 halaman

Dua Persidangan Lain Menanti

Persidangan hari Selasa adalah yang pertama dari tiga jadwal sidang 1MDB, di mana Najib Razak akan menghadapi tiga tuduhan pencucian uang, tiga pelanggaran kepercayaan kriminal dan salah satu penyalahgunaan kekuasaan.

Fokus persidangan akan banyak berputar pada detail dugaan transfer senilai 42 juta ringgit (sekitar Rp 144 miliar) dari anak perusahaan 1MDB, SRC International, ke rekening bank pribadi Najib.

Di kemudian hari, Najib akan menghadapi dua persidangan 1MDB lainnya, yakni pertama terkait dengan klaim hadiah dari Pangeran Saudi senilai US$ 681 juta (sekitar Rp 9,5 triliun), dan berbagai tuduhan penyalahgunaan kekuasaan.

Terpisah dari 1MDB, Najib juga akan menghadapi persidangan atas dakwaan terkait penyalahgunaan dana dari partainya, UMNO. Dia mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan.

Terkubur Longsoran Salju, 3 Polisi India Berhasil Diselamatkan

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Kapal Pemerintah Malaysia Vs Kapal Niaga Yunani Tabrakan di Perairan Singapura
Artikel Selanjutnya
Krakatau Steel Bakal Ekspor Baja ke Malaysia dan Australia pada 2019