Sukses

Rusia Bantah Kirim Tentara Bayaran untuk Dukung Kekuatan Nicolas Maduro

Liputan6.com, Moskow - Pemerintah Rusia membantah telah mengirim tentara bayaran untuk melindungi penguasa petahana Venezuela, Nicolás Maduro, setelah seorang pemimpin oposisi dengan dukungan dari Amerika Serikat (AS) menyatakan dirinya sebagai presiden negara itu.

Rusia diketahui memberikan dukungan diplomatik terhadap Maduro dalam beberapa hari terakhir, mengkritik AS karena melanggar kedaulatan Venezuela dengan mendukung klaim kepemimpinan pemimpin oposisi Juan Guaido.

Laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Senin (28/1/2019), muncul awal pekan ini, ketika puluhan hingga ratusan tentara bayaran Rusia --yang telah aktif di Ukraina dan Suriah-- dikirim untuk melindungi Maduro dari kemungkinan upaya kudeta.

Langkah itu akan menunjukkan bahwa Rusia bersedia meningkatkan taruhannya untuk melindungi investasinya pada sekutu terdekatnya di kawasan Amerika Latin.

Dalam sebuah program berita politik pada hari Minggu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membantah bahwa Rusia telah mengirim personel militer ke Venezuela.

"Ketakutan memiliki ratusan mata (yang mengintai)," katanya. Dia tidak membuat penolakan langsung, karena kontraktor militer swasta --penyedia tentara bayaran-- tidak bekerja untuk pemerintah.

Rusia telah menghabiskan miliaran dolar AS untuk membangun pengaruhnya di Venezuela dan ada kekhawatiran bahwa perubahan rezim dapat menghapus investasi itu.

Moskow telah menginvestasikan sekitar US$ 17 miliar (setara Rp 238 triliun) di negara Amerika Selatan yang kekurangan uang itu, banyak darinya berbentuk pinjaman.

Pada 2017, Rusia setuju untuk merestrukturisasi lebih dari US$ 3 miliar (setara Rp 42,1 triliun) utang Venezuela.

Sementara itu, raksasa minyak Rusia Rosneft telah meminjamkan jumlah yang sama ke PDVSA, perusahaan minyak milik pemerintah Venezuela, sekaligus memegang saham terbesar dalam pengelolaan migas di sana.

Pinjaman US$ 3 miliar lainnya dari Rusia digunakan untuk membeli senjata, termasuk senapan serbu, pesawat tempur dan helikopter, menjadikan Venezuela operator terbesar peralatan militer Rusia di Amerika Selatan.

Kalashnikov, pembuat AK47, bahkan tengah membangun pabrik di Venezuela, meskipun pembukaannya telah berulang kali ditunda.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Rusia Banyak Berinvestasi di Venezuela

Perkiraan berapa banyak investasi Rusia di Venezuela bervariasi. David Rozental, seorang peneliti dari Institute of Latin America di Russian Academy of Sciences, memperkirakan jumlahnya lebih dari US$ 20 miliar, atau setara dengan Rp 280 juta.

Vladimir Davydov, direktur akademik di Institute of Latin America, mengatakan bahwa Rusia memandang Venezuela sebagai pijakannya di Amerika Latin, dan bahwa cadangan minyak besar negara itu menjadikannya prioritas utama bagi Moskow.

"Peran apa yang akan dimainkan Rusia dalam mengendalikan sumber daya strategis? Itulah yang sedang diputuskan di Venezuela," kata Davydov.

Orang yang memimpin dakwaan itu adalah Igor Sechin, mantan penerjemah militer yang sekarang mengepalai perusahaan minyak Rusia Rosneft.

Sebagai seorang penutur bahasa Spanyol yang fasih, Sechin telah bertemu dengan Maduro secara berkala, guna meningkatkan investasi Rosneft dalam produksi minyak Venezuela dan produsen milik negara.

"(Sechin) mengenal Amerika Latin dengan sangat baik, dia sangat berpengaruh," kata Davydov. "Dia ingin mempertahankan posisi Rosneft di Venezuela dan ada berbagai cara untuk melakukan itu."

Untuk saat ini, Davydov dan rekan-rekannya mengatakan mereka tidak mengharapkan Rusia untuk melibatkan diri secara militer dalam krisis Venezuela, bahkan dalam hal intervensi yang didukung AS.

Moskow terutama akan mencari peran sebagai perantara, kata mereka, sebagai sarana untuk memproyeksikan kekuatan Rusia dan untuk melindungi investasinya.