Sukses

Longsoran Gunung Etna ke Laut Bisa Sebabkan Tsunami? Ini Kata Ahli

Liputan6.com, Catania - Para ahli vulkanologi terus mengamati perkembangan Gunung Etna, gunung berapi aktif di pesisir timur Pulau Sisilia, Italia. Selama ribuan tahun, bahaya dari gunung ini terus mengintai daratan Eropa. Orang-orang pun kerap menjulukinya sebagai 'gerbang neraka'.

Akan tetapi, ilmuwan memperingatkan bahwa di masa mendatang, ancaman tersebut bisa berubah dan bukan disebabkan oleh lava, melainkan Laut Tengah yang mengelilingi Pulau Sisilia.

Ketika erupsi atau meletus, material vulkanik Gunung Etna terus mengarah ke Laut Mediterania. Kejadian ini telah diamati oleh para peneliti selama beberapa dekade. Tetapi riset baru menunjukkan, fenomena kolosal tersebut bisa menjadi bahaya yang lebih besar dari yang pernah disadari oleh siapa pun.

"Seluruh lereng bergerak karena gravitasi," jelas ahli geofisika Heidrun Kopp dari Geomar Helmholtz Centre for Ocean Research di Jerman.

"Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa longsoran lava atau material vulkanik Gunung Etna yang menuju ke laut bisa menimbulkan malapetaka, yang dapat memicu tsunami di seluruh wilayah Mediterania," lanjutnya lagi, seperti dikutip dari Science Alert, Jumat (12/10/2018).

Sementara penyebab pasti dari pergeseran lambat Gunung Etna (pada tingkat rata-rata 14 milimeter atau 0,55 inci per tahun) belum pernah sepenuhnya dipahami.

Tampilan 3D dari sisi timur Gunung Etna. (Morelia Urlaub/Science Advances)

Kendati demikian, para ilmuwan sebelumnya menduga bahwa pergeseran tersebut mungkin disebabkan oleh penumpukan magma di dalam gunung berapi.

Untuk menyelidikinya, pada bulan April 2016 mereka membangun jaringan lima transponder bawah air agar bisa terus memantau perpindahan dasar laut di sepanjang batas selatan Gunung Etna yang tenggelam.

Setiap 90 menit, masing-masing stasiun geodetik akan saling 'ting' dengan sinyal akustik. Setiap perubahan yang dihitung dalam jumlah waktu, berdasarkan sinyal yang akan diambil, menunjukkan pergerakan transponder karena Gunung Etna bergeser ke sisi tenggara --dengan sistem yang tepat untuk perpindahan kurang dari satu sentimeter.

Selama satu tahun, tidak ada yang terjadi.

Kemudian, pada 2017, panggul Gunung Etna (yang terendam air laut) bergerak sejauh 4 cm (1,6 inci) antara 12 Mei dan 20 Mei --sebuah gerakan yang berhubungan dengan kesalahan aseismik selama delapan hari di wilayah tersebut (pergeseran berlangsung di sepanjang patahan tanpa terjadi gempa).

Perpindahan tiba-tiba itu --yang terjadi di bawah laut dan begitu jauh dari inti Gunung Etna-- menandakan adanya gerak turun lambat gunung ke Laut Tengah yang sifatnya episodik, dan terutama didorong oleh ketidakstabilan karena gaya gravitasi.

"Dalam kasus Gunung Etna, analisia deformasi garis pantai kita menyiratkan bahaya yang lebih besar bila reruntuhan gunung masuk ke dalam laut, karena pergeseran gravitasi yang mendalam dapat berpotensi menyebabkan kehancuran katastropik," tulis para penulis dalam makalah mereka.

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Picu Geombang Tsunami

Para peneliti memperingatkan bahwa perawakan Gunung Etna (dan lokasi pantai yang indah) bisa memicu musibah pada suatu hari nanti.

"Gunung Etna sangat besar. Tingginya lebih dari 3.000 meter (9.843 kaki) dan muncul dari bawah permukaan laut," ucap penulis pertama dan ahli geologi kelautan, Morelia Urlaub, kepada The Independent.

"Anda bisa membayangkan tanah longsor yang bergerak lambat untuk saat ini... tetapi ada bahaya yang bisa mempercepat dan membentuk tanah longsor itu bergerak sangat cepat ke laut."

Jika hal demikian terjadi, puncak gunung dan magma raksasa itu bisa mengalir langsung dari Pantai Sisilia ke Laut Tengah, dan memicu tsunami yang dapat menelan seluruh wilayah.

"Ada bahaya yang mengintai manusia. Kami harus mengawasi Gunung Etna dan perkembangannya," ujar Urlaub.

Temuan ini dilaporkan dalam Science Advances.

Artikel Selanjutnya
Kurangi Makan Daging Jika Ingin Selamat Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Artikel Selanjutnya
Temukan Gunung Berapi di Dasar Samudra, Ilmuwan: Itu Dunia yang Hilang