Sukses

Pertama dalam Sejarah, Korea Selatan Gelar Pawai LGBT

Liputan6.com, Seoul - Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Korea Selatan menggelar parade LGBT. Itu disebut sebagai langkah kecil, tapi signifikan bagi penegakan hak asasi manusia (HAM), di sebuah negara yang konservatif dalam hal gender dan seksualitas.

Puluhan partisipan berpawai melewati kawasan Itaewon di pinggiran Seoul pada Sabtu, 26 Mei 2018. Kawasan tersebut dikenal sebagai pusat kehidupan malam kelompok LGBT yang terus berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip dari South China Morning Post pada Minggu (27/5/2018), para peserta pawai bersorak-sorai seraya mengibarkan bendera pelangi yang menjadi simbol perjuangan LGBT, seakan tidak mempedulikan tatapan aneh dari khalayak yang ditemui di sepanjang jalan.

Meskipun homoseksualitas bukan hal ilegal di Korea Selatan, pernikahan sesama jenis tidak diakui. Pengubahan jenis kelamin dilarang secara hukum.

Korea Selatan juga diketahui memiliki jumlah penganut Kristen Evangelis terbesar di dunia, di mana kelompok LGBT kerap merasa dibuat tertekan sekaligus terkurung olehnya.

"Ketika datang ke Korea Selatan, jaminan hak asasi manusia untuk minoritas seksual tidak mencukupi," kata Yang Heezy, seorang waria dan penyelenggara Seoul Drag Parade.

"Parade hari ini, dan festival budaya yang lebih aneh, harus dilakukan untuk menarik perhatian minoritas seksual, dan membantu publik belajar lebih banyak tentang eksistensi LGBT," tambah Heezy, yang mengenakan rambut palsu berwarna merah menyala dan gaun bermotif bunga, dalam pawai tersebut.

Parade tersebut diikuti oleh para LGBT dan pihak yang mendukungnya, termasuk dari Korea Selatan dan luar negeri. Dilaporkan pula tidak ada aksi unjuk rasa yang kontra terhadap gelaran itu, sebagaimana kerap terjadi pada berbagai aktivitas serupa di Negeri Ginseng.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Keluh Kesah LGBT di Korsel

Sementara itu, seorang peserta pawai, yang mengaku bernama Lola Bank, mengaku sangat gembira berada di tengah perayaan bersejarah bagi kemunitas LGBT di Korea Selatan.

"Fakta bahwa kami bisa bebas berekspresi di depan publik tonggak besar untuk penerimaan sesuatu yang aneh bagi (masyarakat) Korea," ungkap Lola antusias.

"Saya selalu berjibaku dengan identitas maskulinitas dan kewanitaan saya, serta bagaimana bersikap sesuai keinginan orang-orang di luar sana, sungguh telah membuat saya muak," ujarnya berkeluh kesah.

Di sisi lain, perayaan kelompok LGBT sejatinya telah digelar dalam skala kecil sejak beberapa tahun terakhir. Namun, hal itu mendapat protes dari kelompok-kelompok agama, yang kerap melakukan unjuk rasa anti-homoseksualitas, dan terkadang berujung pada serangan fisik.

Bahkan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, yang merupakan mantan pengacara hak asasi manusia, mengatakan bahwa dirinya "menentang homoseksualitas" selama debat kampanye tahun lalu.

Meski begitu, aktivis hak LGBT mengklaim bahwa sejumlah kemajuan telah dibuat dalam beberapa tahun terakhir, dengan survei menunjukkan meningkatnya toleransi--terutama di kalangan anak muda--dan partisipasi yang semakin meningkat pada acara eksistensi gay.

Artikel Selanjutnya
Presiden Korea Selatan: Kim Jong-un Berkomitmen Denuklirisasi Penuh
Artikel Selanjutnya
Dubes Umar Hadi Janjikan Kedubes RI di Korea Selatan Bebas Pungli