Sukses

Dubes Uni Eropa: Soal Yerusalem, Kami Sepakat dengan Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar Uni Eropa untuk RI, Vincent Guerend menegaskan bahwa organisasi kerja sama multilateral yang beranggotakan negara Benua Biru itu mengambil sikap yang sama dengan Indonesia terkait krisis Yerusalem.

Hal itu disampaikan oleh Dubes Guerend di Jakarta, Rabu 13 Desember 2017, bertepatan dengan momentum KTT Luar Biasa OKI Soal Yerusalem yang tengah berlangsung di Istanbul, Turki pada hari yang sama.

"Soal Yerusalem, jelas bahwa Uni Eropa, sama dengan Indonesia, mengecam langkah Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel," papar Dubes Guerend di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

"Sangat jelas, kami menilai bahwa keputusan yang diambil oleh Presiden AS Donald Trump adalah keputusan yang salah. Dan kami tidak akan mengikuti keputusan tersebut, yang merupakan aksi yang menunjukkan  ketidakpatuhan terhadap hukum internasional," tambahnya.

Dubes Guerend juga menegaskan bahwa seluruh negara Uni Eropa mengambil sikap satu suara perihal krisis Yerusalem, terutama dalam memprioritaskan solusi dua negara atau 'two states solution' sebagai jalan keluar atas konflik yang tengah terjadi.

Penegasan itu ia utarakan di tengah kecurigaan yang dilaporkan oleh sejumlah media asing bahwa ada beberapa negara anggota UE yang 'diam-diam' mendukung langkah AS pada Al Quds Al Sharif.

"Uni Eropa memilih sikap satu suara. Seluruh anggota juga mengambil sikap yang jelas (yakni mengecam langkah yang diambil AS terkait Yerusalem)," tambahnya.

Menambah komentarnya soal krisis Yerusalem yang tengah menghangat, Guerend juga menekankan, "Uni Eropa memandang Palestina memiliki hak untuk berdiri sebagai negara yang merdeka, berdaulat secara penuh, dan memiliki keleluasaan untuk menentukan sendiri nasib serta kesejahteraan mereka".

1 dari 2 halaman

Uni Eropa Menolak Ikut Jejak AS

Menteri-Menteri Luar Negeri Eropa menolak keras imbauan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar mengikuti jejak Donald Trump yang mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

Oposisi dari seluruh Eropa datang saat Netanyahu melakukan lawatan resmi pertama ke Uni Eropa sebagai Perdana Menteri Israel selama 22 tahun terakhir.

Bahkan Republik Ceko, salah satu sekutu terdekat Israel, mengatakan bahwa keputusan Presiden AS itu buruk bagi upaya perdamaian. Prancis mengatakan bahwa status Yerusalem dapat ditentukan hanya dalam kesepakatan akhir antara Israel dan Palestina.

Netanyahu meminta pemerintah Eropa untuk mendukung inisiatif perdamaian AS meskipun fakta bahwa Trump belum mengungkapkan rincian tentang hal itu. Demikian seperti dikutip dari The Guardian, Selasa 12 Desember 2017.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, menjelaskan bahwa UE tidak akan menulis cek kosong bagi rencana perdamaian Trump yang tak terlihat usai resmi mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

Mereka juga mendesak Washington untuk mengungkapkan apa yang sedang disusun oleh Jason Greenblatt, utusan Timur Tengah Trump, dan Jared Kushner, menantu Trump dan penasihat senior terhadap Yerusalem.