Sukses

5 Bencana Dahsyat Ini Terjadi Akibat Efek Supermoon?

Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang South Island di Selandia Baru pada 13 November 2016. Sesaat setelah lindu terjadi, tsunami menerjang wilayah tersebut meskipun tidak dalam skala besar.

Lindu yang diikuti dengan tsunami itu disebut-sebut telah diramalkan dan berkaitan dengan supermoon. Banyak orang menunjuk ke postingan Facebook seorang pria yang mengaku telah memprediksi kejadian itu.

"Peringatan: pada 14 November dan beberapa hari setelahnya akan terjadi gempa bumi besar, dan kemungkinan terjadi di Pasifik Selatan," tulis pria bernama Nigel Antony Gray pada 6 November 2016.

Gray menyebut bahwa meningkatnya tarikan gravitasi dari supermoon menjadi penyebab gempa bumi. Seperti yang saat ini tengah ramai diperbincangkan, pada 14 November 2016 terjadi supermoon yang paling besar dan terang dalam kurun 70 tahun.

Supermoon terjadi ketika Bulan mencapai fase penuhnya--bulan purnama--dan berada di titik terdekat dengan Bumi. Hal tersebut membuat satelit alami Bumi itu terlihat lebih besar dan terang dibanding dengan purnama.

Ternyata tak hanya gempa dan tsunami Selandia Baru saja yang dikaitkan dengan supermoon. Sejumlah bencana besar di dunia terjadi berdekatan dengan fenomena itu. Berikut lima di antaranya:

1. Gempa dan Tsunami Jepang (2011)

Gelombang raksasa menghancurkan perumahan di sekitar, menghanyutkan rumah, dan juga menyebabkan gedung runtuh serta sejumlah jalan layang.

Seorang pria bernama Richard Nolle mengaku telah meramalkan gempa yang terjadi di Jepang pada 2011. Dalam sebuah wawancara dengan ABC Radio pada Rabu 9 Maret 2011, ia meramalkan supermoon 'ekstrem' yang terjadi pada 10 hari kemudian akan memicu malapetaka.

Dan dua hari kemudian, 11 Maret 2011, Jepang berguncang. Lindu dengan kekuatan 9 skala Richter memorakporandakan kawasan utara Negeri Sakura, memicu tsunami yang menyapu seluruh kawasan pesisir pantai Pasifik di wilayah Tohoku.

Ribuan orang tewas, PLTN Fukushika Dai-ichi luruh dan memicu krisis nuklir terbesar Jepang setelah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang mengakhiri Perang Dunia II.

Keesokan harinya gempa berkekuatan 6,2 SR mengguncang Prekfetur Nagano dan Niigata. Lindu juga menggoyang kawasan pesisir barat Pulau Honshu dengan kekuatan 6,3 SR.

Badan Penyiaran Jepang (Tokyo Broadcasting System/TBS) dan Kepolisian Nasional Jepang (Japanese National Police Agency) melaporkan total korban tewas sebanyak 15.269 orang, 5.363 luka dan 8.526 hilang di enam prefektur Negeri Sakura.

2. Gempa Haiti (2010)

Gempa Haiti. (foto: Reuters)

Gempa berkekuatan 7 SR yang mengguncang Haiti pada 12 Januari 2010, bertanggung jawab atas kematian lebih dari 200 ribu jiwa. Peristiwa itu terjadi tak lama sebelum supermoon 30 Januari 2010.

Guncangan hebat yang berlangsung pukul 04.30 itu, berpusat di 15 mil dari Ibukota Port-au-Prince -- kota dengan populasi paling padat di Haiti. Sekitar 70 persen bangunan rata dengan tanah, nyaris tak ada yang bisa dijadikan tempat mengungsi. Bahkan istana Presiden ikut rubuh.

Belakangan, para ilmuwan menemukan sesuatu yang tak disangka-sangka. Gempa Haiti ternyata disebabkan oleh patahan (fault) yang belum pernah dipetakan. Bukan patahan Enriquillo -- seperti yang dikira sebelumnya.

Tak hanya di bidang geologi, gempa Haiti menjadi pelajaran berharga tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana, termasuk kekuatan struktur bangunan.

3. Gempa dan Tsunami Aceh (2004)

Masjid yang masih berdiri ditempa tsunami di Aceh. (foto: ABC.net)

Pada 26 Desember 2014 sekitar pukul 07.58 WIB, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter (SR) menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Beberapa menit kemudian, gelombang tsunami menerjang.

Peristiwa yang terjadi terjadi dua pekan sebelum supermoon 10 Januari 2005 itu, disebut sebagai salah satu bencana terbesar di Abad ke-21.

Tsunami yang puncak tertingginya mencapai 30 meter itu dilaporkan telah mengakibatkan lebih dari 230.000 orang tewas dari 14 negara dan menenggelamkan banyak permukiman tepi pantai. Indonesia adalah negara yang terkena dampak paling besar, diikuti Sri Lanka, India, dan Thailand.

Gempa terbesar ketiga yang pernah tercatat di seismograf dan memiliki durasi terlama sepanjang sejarah sekitar 8,3 sampai 10 menit tersebut, mengakibatkan seluruh planet Bumi bergetar 1 cm dan menciptakan beberapa gempa lainnya sampai wilayah Alaska.

Energi yang dilepaskan di permukaan Bumi oleh gempa dan tsunami 2004 itu diperkirakan sebesar 1,1×1017 joule atau 26 megaton TNT. Energi tersebut setara dengan 1.500 bom atom Hiroshima, tetapi sedikit lebih kecil daripada Tsar Bomba, senjata nuklir terbesar yang pernah diledakkan.

4. Gempa Selandia Baru (2011)

Gempa Christchurch pada 2011 (Reuters)

Pada 22 Februari 2011, Christchurch di Selandia Baru diguncang gempa dengan kekuatan 6,3 SR. Entah kebetulan atau bukan, peristiwa tersebut terjadi tak terlalu jauh dari supermoon 19 Maret 2011.

Dilansir nzhistory.net.nz, pusat gempa tersebut terletak di dekat Lyttelton, 10 km di tenggara sentra bisnis Christchurch. Lindu itu terjadi pada jam makan siang, di mana banyak orang sedang berada di jalanan kota.

Gempa mengakibatkan sejumlah bangunan roboh, termasuk bangunan tertinggi di Christchurch, Hotel Grand Chancellor. Pemerintah pun langsung mengaktifkan National Crisis Management Centre, dan keadaan darurat diumumkan sehari setelah gempa terjadi.

Akibat peristiwa itu, pusat bisnis di Christchurch ditutup. Meski 75 persen listrik dapat pulih dalam tiga hari, namun menormalkan kembali pasokan air dan sistem saluran limbah memakan waktu lebih lama.

5. Tanah Longsor India (2013)

Jembatan yang rusak akibat banjir besar di India pada 2013 (Wikipedia)

Pada 14 hingga 17 Juni 2013, negara bagian Uttarakhand dan wilayah disekitarnya diterpa nagin hujan. Peristiwa tersebut menyebabkan Gletser Chorabari meleleh dan meluapnya Sungai Mandakini, di mana membuat sejumlah distrik di Uttarakhand diterjang banjir besar dan mengalami tanah longsor.

Menurut Wikipedia, puncak banjir besar tersebut terjadi pada 16 Juni 2013. Peristiwa itu berdekatan dengan supermoon 23 Juni 2013.

Akibat banjir dan tanah longsor tersebut, lebih dari 5.700 orang dilaporkan tewas dan evakuasi dilakukan untuk menyelamatkan lebih dari 110.000 jiwa di daerah yang dilanda banjir.

Supermoon Penyebab Bencana?

Kaitan antara supermoon dan bencana ditepis kuat-kuat oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin. "Dengan ramalan bencana sesungguhnya tidak kaitannya. Memang pada saat purnama, beberapa potensi bencana ada, tapi tidak selalu. Kecuali ada hal lain yang memperkuat," kata dia saat diwawancara Liputan6.com pada 2014 lalu.

Supermoon bukan berarti bencana. Pun dengan kejadian Tsunami Aceh 2004, yang terjadi terjadi dua pekan sebelum supermoon 10 Januari 2005. "Kalau 2 minggu sebelumnya, posisi bulan bukan supermoon. Tapi hanya purnama biasa," jelas dia.

Memang, bagi orang yang mempercayainya, supermoon bisa dikaitkan dengan bencana. Padahal, "dampak yang utama hanya pasang surut air laut. Efek lain mempengaruhi rotasi bumi, tapi kecil sekali nol koma sekian persen."

Pendapat yang sama juga diutarakan pakar gempa dari Puslit Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja. Tak ada bukti ilmiah keterkaitan supermoon dengan bencana khususnya gempa dan tsunami. "Tak ada dasar ilmiah yang jelas, selain hanya gravitasi bulan yang sedikit lebih besar dari biasanya."

Menurut Danny, harus dianalisa secara statistik hubungan bencana dan supermoon. "Jangan-jangan hanya kebetulan saja atau randomness," tambah dia.

Supermoon (Tim McCord/Space.com)

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun angkat bicara. Jim Garvin yang bekerja pada Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland menjelaskan, tentang efek supermoon terhadap Bumi.

"Efek supermoon terhadap Bumi kecil. Dan menurut studi detil para seismolog dan vulkanolog, kombinasi antara supermoon dan bulan purnama tidak mempengaruhi energi internal keseimbangan di Bumi," imbuh dia.

Meski bulan berkaitan dengan kondisi pasang surut Bumi, itu tidak mampu memicu gempa besar yang mematikan.

Kekuatan sejatinya justru berada di planet manusia itu sendiri. "Bumi menyimpan energi di balik lapisan luar atau keraknya. Perbedaan daya pasang surut yang diakibatkan Bulan (juga Matahari) tidak cukup mendasari munculnya kekuatan besar dari dalam Bumi."

Penjelasan sama juga diungkap oleh ahli gempa Mark Quigley dari University of Melbourne, terkait 'ramalan' Gray yang menyebut akan terjadi gempa besar terkait dengan supermoon 14 November.

Seperti dikutip dari abc.net.au, Senin (14/11/2016), ia mengatakan prediksi Gray belum terbukti benar. Memang betul bahwa deformasi pasang surut Bumi karena pergerakan Matahari dan Bulan bisa memicu gempa bumi, tapi dalam keadaan tertentu.

Quigley mengatakan, tidak pernah ada kasus di mana waktu spesifik, kekuatan, dan lokasi terjadi gempa secara sukses diprediksi dalam jangka singkat menggunakan tekanan pasang surut, termasuk gempa di Selandia Baru.