Sukses

Ngeri, Tempat Penginapan Ternyata 'Ladang' Ganja

Liputan6.com, Burleigh Heights - Berbagai layanan berbasis aplikasi tersedia di telepon genggam, misalnya penyewaan tempat menginap oleh orang-orang pemberi sewaan secara pribadi. Namun demikian, penyewa harus selalu waspada.

Satu keluarga Australia terpaksa berurusan dengan polisi karena mereka tidak sengaja menyewa rumah tempat pemeliharaan tanaman mariyuana yang ditawarkan sebagai tempat penginapan melalui aplikasi Airbnb.

Dilansir dari BBC pada Kamis 8 Januari 2015, polisi negara bagian Gold Coast merangsek masuk rumah penginapan tersebut tepat sesudah Natal dan menyita sejumlah tanaman mariyuana yang ditanam secara hidroponik di salah satu kamar yang terkunci.

Keluarga tersebut menceritakan kepada BBC bahwa mereka memang diminta untuk tidak memasuki suatu kamar yang dihalangi menggunakan rak buku, dengan alasan sedang ada renovasi.

Dari dalam kamar memang terdengar bunyi aliran air yang mencurigakan, tapi mereka tidak memasuki kamar yang dimaksud.

Liburan keluarga ini nyaris terganggu karena tempat penginapan mereka memiliki kamar pemeliharaan mariyuana. (Sumber Justin Lloyd via Daily Telegraph)

Pasangan Jacquie Young dan Dieter Winkler sedang menunggu kedatangan keluarga besar ketika delapan orang petugas berpakaian sipil tiba di tempat. Mereka membawa senjata api dan linggis.

“Sekarang saya bisa mentertawakan kejadian itu, tapi pada waktu mengalaminya kami agak terganggu karena sedang akan liburan," kenang Young.

Polisi kemudian menjelaskan kepada pasangan itu bahwa kabel-kabel yang berseliweran di kamar itu terlihat serampangan dan bisa saja menyebabkan kebakaran.

“Seminggu berlalu dan saya masih tercengang melihat orang yang sebetulnya sadar dengan apa yang mereka lakukan dan sangat egois…tapi membahayakan hidup orang lain benar-benar suatu tindakan tidak terpuji,” kata Young.

Tampilan laman layanan penginapan berbasis aplikasi Airbnb.

Terkait dengan kejadian itu, seorang wanita berusia 40 tahun akan disidang pada Februari nanti. Sementara itu, pihak Airbnb memastikan telah mengembalikan uang sejumlah 1.800 dolar Australia—senilai Rp 17 juta–dan menawarkan tempat penginapan lain.

“Walaupun peristiwa seperti ini jarang terjadi, kami menganggapnya serius. Tindakan tersebut tidak selayaknya terjadi dalam Airbnb," tulis juru bicara Airbnb dalam laman mereka.*

Loading
Artikel Selanjutnya
Sandiaga Ajak Masyarakat Donor Bantu PMI Tingkatkan Stok Darah
Artikel Selanjutnya
Anies: Laboratorium DKI Harus Tingkatkan Kapasitas untuk Uji Covid-19