Fakta Menarik, Beginilah Cara Kura-Kura Bertelur dan Menjaga Kelestariannya

Pelajari proses unik kura-kura berkembang biak dengan cara bertelur. Simak tahapan reproduksi, musim kawin, dan fakta menarik tentang telur kura-kura.

Diterbitkan 29 Juli 2025, 07:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Daftar Isi

Liputan6.com, Jakarta Di balik geraknya yang lambat dan tenang, kura-kura menyimpan siklus hidup yang menakjubkan, terutama saat memasuki musim bertelur. Hewan bercangkang keras ini memiliki cara unik dalam memilih lokasi, menggali sarang, hingga menyembunyikan telurnya di balik pasir atau tanah. Proses ini tidak hanya memerlukan waktu dan tenaga, tetapi juga mengandalkan naluri alami yang telah diwariskan selama jutaan tahun. Bagi pecinta satwa dan lingkungan, menyaksikan kura-kura bertelur adalah pengalaman yang penuh kekaguman sekaligus pengingat akan pentingnya pelestarian.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), banyak spesies kura-kura, baik air tawar maupun laut, kini masuk dalam kategori rentan hingga terancam punah akibat perusakan habitat, perburuan liar, serta perubahan iklim. Telur-telur kura-kura sering menjadi sasaran predator atau bahkan diambil manusia untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan. Oleh karena itu sejak tahun 2018, kura-kura termasuk hewan dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.2/12/2018. 

Artikel ini akan membahas secara menarik bagaimana kura-kura bertelur, mulai dari proses migrasi menuju pantai, ritual penggalian sarang, hingga upaya manusia dan komunitas konservasi dalam menjaga kelestariannya.

Pengertian dan Karakteristik Kura-Kura

Kura-kura adalah reptil dari ordo Testudines yang dicirikan oleh cangkang tulang atau tulang rawan yang tumbuh dari tulang rusuknya. Cangkang ini berfungsi sebagai perisai pelindung. Dikutip dari buku Memilih & Merawat Kura-kura, Ular, & GeckoReptil Unik Nan Eksotik (2010), kura-kura termasuk hewan berdarah dingin yang membutuhkan panas dari lingkungannya. Kura-kura memiliki beberapa karakteristik unik:

  • Tubuh dilindungi cangkang keras yang terdiri dari karapas (bagian atas) dan plastron (bagian bawah)
  • Tidak memiliki gigi, melainkan paruh yang tajam
  • Bernapas menggunakan paru-paru
  • Berdarah dingin (poikilotermik)
  • Berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar)
  • Dapat hidup di darat maupun air
  • Umur yang panjang, beberapa spesies dapat hidup lebih dari 100 tahun

Kura-kura tersebar luas di berbagai habitat di seluruh dunia, mulai dari gurun pasir hingga lautan. Beberapa contoh spesies kura-kura yang umum dikenal antara lain kura-kura darat, kura-kura air tawar, dan penyu laut.

Proses Reproduksi Kura-Kura

Kura-kura berkembang biak secara seksual melalui proses yang disebut oviparitas. Dikutip dari buku Atlas Binatang: Pisces, Reptilia, Amfibi (2007) selama masa reproduksi kura-kura betina menggali lubang di dalam tanah dan menyimpan telurnya di sana. Berikut adalah tahapan utama dalam proses reproduksi kura-kura:

1. Mencapai Kematangan Seksual

Kura-kura mencapai kematangan seksual pada usia yang bervariasi tergantung spesiesnya. Beberapa jenis kura-kura kecil dapat matang secara seksual dalam 2-5 tahun, sementara spesies yang lebih besar mungkin membutuhkan waktu 10-20 tahun. Kematangan seksual ditandai dengan perubahan fisik dan perilaku.

2. Musim Kawin

Sebagian besar kura-kura memiliki musim kawin tertentu yang biasanya terjadi pada musim semi atau awal musim panas. Puncak musim kawin kura-kura umumnya berlangsung dari bulan Desember hingga Juni. Selama musim ini, kura-kura jantan akan aktif mencari pasangan.

3. Ritual Kawin

Kura-kura jantan melakukan berbagai ritual untuk menarik perhatian betina. Ini dapat meliputi mengejar betina, menggigit cangkangnya, atau menggetarkan kepala. Pada beberapa spesies, jantan bahkan "bernyanyi" dengan mengeluarkan suara mendengkur.

4. Kopulasi

Setelah betina menerima jantan, terjadi proses kopulasi. Kura-kura jantan memiliki organ kelamin yang disebut phallus yang digunakan untuk memindahkan sperma ke kloaka betina. Proses ini dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam.

5. Penyimpanan Sperma

Kura-kura betina memiliki kemampuan unik untuk menyimpan sperma dalam tubuhnya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ini memungkinkan betina untuk membuahi telur-telurnya di waktu yang tepat, bahkan tanpa kopulasi baru.

6. Pembentukan Telur

Setelah pembuahan internal, telur mulai terbentuk dalam tubuh betina. Proses ini dapat memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung pada spesies dan kondisi lingkungan.

7. Pencarian Lokasi Bertelur

Ketika telur siap dikeluarkan, kura-kura betina akan mencari lokasi yang cocok untuk membuat sarang. Ini biasanya berupa area dengan tanah yang lembab dan hangat, sering kali di dekat sumber air.

8. Penggalian Sarang

Menggunakan kaki belakangnya yang kuat, kura-kura betina menggali lubang berbentuk botol untuk sarang telurnya. Kedalaman sarang bervariasi antara 10-30 cm, tergantung pada ukuran kura-kura.

9. Peletakan Telur

Kura-kura kemudian meletakkan telur-telurnya ke dalam sarang. Jumlah telur bervariasi dari 1 hingga lebih dari 100, tergantung pada spesies. Telur kura-kura biasanya berbentuk bulat atau lonjong dengan cangkang yang keras namun fleksibel.

10. Penutupan Sarang

Setelah semua telur diletakkan, kura-kura betina menutup sarang dengan hati-hati menggunakan kaki belakangnya. Ia akan memadatkan tanah di atas sarang untuk melindungi telur-telurnya dari predator dan fluktuasi suhu.

Inkubasi dan Penetasan Telur Kura-Kura

Proses inkubasi telur kura-kura merupakan tahap kritis dalam siklus reproduksi mereka. Berikut adalah beberapa aspek penting dari proses ini:

Durasi Inkubasi

Waktu inkubasi telur kura-kura sangat bervariasi tergantung pada spesies dan kondisi lingkungan. Umumnya berkisar antara 45 hingga 90 hari, namun beberapa spesies dapat membutuhkan waktu hingga 120 hari atau lebih.

Pengaruh Suhu

Suhu selama masa inkubasi memainkan peran penting dalam menentukan jenis kelamin anak kura-kura. Fenomena ini disebut penentuan jenis kelamin bergantung suhu (temperature-dependent sex determination atau TSD). Secara umum:

  • Suhu di atas 29,5°C cenderung menghasilkan kura-kura betina
  • Suhu di bawah 28°C cenderung menghasilkan kura-kura jantan
  • Suhu antara 28-29,5°C dapat menghasilkan campuran jantan dan betina

Namun, rentang suhu spesifik dapat bervariasi antar spesies.

Proses Penetasan

Menjelang akhir masa inkubasi, embrio kura-kura akan mulai memecahkan cangkang telur menggunakan "gigi telur" khusus yang tumbuh di ujung moncongnya. Proses penetasan dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.

Kelahiran Anak Kura-Kura

Setelah menetas, anak kura-kura (tukik) akan tetap berada di dalam sarang selama beberapa hari hingga seminggu. Selama periode ini, mereka menyerap sisa kuning telur yang tersimpan dalam tubuh mereka sebagai sumber energi. Setelah cukup kuat, tukik akan menggali keluar dari sarang dan memulai perjalanan mereka ke habitat yang sesuai.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Reproduksi

Keberhasilan reproduksi kura-kura dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik alami maupun akibat aktivitas manusia. Beberapa faktor utama meliputi:

Kondisi Lingkungan

Suhu, kelembaban, dan karakteristik tanah di lokasi sarang sangat mempengaruhi perkembangan dan kelangsungan hidup telur. Perubahan iklim global dapat berdampak signifikan pada keberhasilan reproduksi kura-kura.

Predasi

Telur dan anak kura-kura yang baru menetas sangat rentan terhadap predator seperti burung, mamalia kecil, dan reptil lainnya. Tingkat predasi yang tinggi dapat mengurangi tingkat kelangsungan hidup secara drastis.

Gangguan Manusia

Aktivitas manusia seperti pengembangan pesisir, polusi, dan pengambilan telur untuk konsumsi atau perdagangan ilegal dapat mengganggu proses reproduksi alami kura-kura.

Kesehatan Induk

Kondisi kesehatan dan nutrisi kura-kura betina mempengaruhi kualitas dan kuantitas telur yang dihasilkan. Kura-kura yang stress atau kekurangan gizi mungkin menghasilkan telur yang lebih sedikit atau kurang berkualitas.

Ketersediaan Pasangan

Populasi kura-kura yang kecil atau terfragmentasi dapat mengalami kesulitan dalam menemukan pasangan yang cocok, yang pada gilirannya mengurangi tingkat reproduksi.

Perbedaan Reproduksi Kura-Kura di Alam dan Penangkaran

Meskipun proses dasar reproduksi kura-kura sama di alam liar dan penangkaran, terdapat beberapa perbedaan penting dalam pelaksanaannya:

Pemilihan Pasangan

Di alam, kura-kura memilih pasangan secara alami berdasarkan berbagai faktor seperti ukuran, warna, dan perilaku. Dalam penangkaran, pemilihan pasangan sering dikendalikan oleh peternak untuk tujuan pemuliaan tertentu.

Kondisi Lingkungan

Kura-kura liar harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah-ubah, sementara di penangkaran, kondisi seperti suhu dan kelembaban dapat diatur untuk mengoptimalkan reproduksi.

Perlindungan dari Predator

Telur dan anak kura-kura di alam menghadapi risiko predasi yang tinggi. Di penangkaran, mereka mendapat perlindungan lebih baik dari predator.

Nutrisi

Kura-kura liar harus mencari makanan sendiri, yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas telur. Di penangkaran, nutrisi dapat dioptimalkan untuk mendukung reproduksi.

Frekuensi Bertelur

Dalam kondisi penangkaran yang optimal, beberapa spesies kura-kura dapat bertelur lebih sering dibandingkan di alam liar.

Intervensi Manusia

Di penangkaran, manusia dapat membantu proses penetasan dengan inkubator buatan dan memberikan perawatan khusus pada anak kura-kura yang baru menetas.

Tantangan dalam Konservasi Reproduksi Kura-Kura

Dikutip dari buku Ensiklopedia Kura-Kura Raksasa Brazil (2023), upaya konservasi perlu dilakukan untuk melindungi dan memastikan kelangsungan hidup mereka di masa depan. Hal ini menjadi semakin penting di tengah maraknya perburuan dan perdagangan ilegal hewan langka. Reproduksi kura-kura sendiri menghadapi berbagai tantangan di antaranya:

Hilangnya Habitat

Pengembangan pesisir dan perubahan penggunaan lahan mengurangi area yang cocok untuk kura-kura bertelur. Ini dapat memaksa kura-kura untuk bertelur di lokasi yang kurang ideal, mengurangi tingkat keberhasilan reproduksi.

Perubahan Iklim

Pemanasan global dapat mengubah suhu pasir di pantai tempat kura-kura bertelur, mempengaruhi rasio jenis kelamin anak yang menetas. Kenaikan permukaan laut juga mengancam habitat pesisir yang penting untuk reproduksi.

Polusi

Kontaminasi lingkungan oleh plastik, bahan kimia, dan polutan lainnya dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi kura-kura dan mengganggu perkembangan embrio.

Perdagangan Ilegal

Pengambilan telur dan penangkapan kura-kura dewasa untuk perdagangan hewan peliharaan ilegal mengurangi populasi reproduktif di alam.

Predasi yang Meningkat

Perubahan ekosistem akibat aktivitas manusia dapat meningkatkan populasi predator alami telur dan anak kura-kura, mengurangi tingkat kelangsungan hidup.

Keterbatasan Pengetahuan

Masih banyak aspek biologi reproduksi kura-kura yang belum sepenuhnya dipahami, terutama untuk spesies yang langka atau sulit diamati.

Upaya Konservasi untuk Mendukung Reproduksi Kura-Kura

Berbagai upaya konservasi dilakukan untuk melindungi dan mendukung reproduksi kura-kura di alam:

Perlindungan Habitat

Menetapkan dan mengelola kawasan lindung untuk melindungi lokasi bertelur kura-kura dan habitat penting lainnya.

Patroli dan Pengawasan

Melakukan patroli reguler di lokasi bertelur untuk mencegah pengambilan telur ilegal dan gangguan terhadap sarang.

Relokasi Sarang

Dalam beberapa kasus, sarang kura-kura dipindahkan ke lokasi yang lebih aman untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup telur.

Program Penetasan

Mengoperasikan pusat penetasan untuk spesies yang terancam punah, di mana telur diinkubasi dalam kondisi terkontrol dan anak kura-kura dilepaskan kembali ke alam setelah menetas.

Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat

Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya konservasi kura-kura dan cara melindungi habitat bertelur mereka.

Penelitian

Melakukan studi ilmiah untuk lebih memahami biologi reproduksi kura-kura dan mengembangkan strategi konservasi yang lebih efektif.

Restorasi Habitat

Memperbaiki dan merestorasi habitat pesisir dan perairan yang telah rusak untuk mendukung populasi kura-kura yang berkembang biak.

Fakta Menarik Seputar Reproduksi Kura-Kura

Berikut beberapa fakta unik dan menarik tentang cara kura-kura berkembang biak:

  • Beberapa spesies kura-kura betina dapat menyimpan sperma aktif dalam tubuhnya selama hingga 3 tahun.
  • Kura-kura laut seperti penyu hijau dapat bermigrasi ribuan kilometer untuk kembali ke pantai tempat mereka menetas untuk bertelur.
  • Beberapa kura-kura air tawar dapat menghasilkan suara bawah air untuk menarik pasangan.
  • Kura-kura raksasa Galapagos dapat menghasilkan hingga 25 telur dalam satu sarang.
  • Beberapa spesies kura-kura memiliki "penis" yang dapat mencapai setengah panjang tubuhnya saat ereksi.
  • Anak kura-kura yang baru menetas dari spesies tertentu dapat tetap dorman di dalam telur selama berbulan-bulan, menunggu kondisi lingkungan yang tepat untuk keluar.
  • Beberapa kura-kura laut betina dapat bertelur hingga 7 kali dalam satu musim kawin.

Pertanyaan Umum (FAQ) Seputar Reproduksi Kura-Kura

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang cara kura-kura berkembang biak:

1. Berapa lama kura-kura dapat hidup?

Umur kura-kura sangat bervariasi tergantung spesiesnya. Beberapa kura-kura kecil mungkin hidup 20-30 tahun, sementara spesies yang lebih besar seperti kura-kura Galapagos dapat hidup lebih dari 100 tahun.

2. Pada usia berapa kura-kura mulai berkembang biak?

Usia kematangan seksual bervariasi antar spesies. Beberapa kura-kura kecil dapat mulai berkembang biak pada usia 2-5 tahun, sementara spesies yang lebih besar mungkin tidak matang secara seksual hingga usia 10-20 tahun atau lebih.

3. Berapa kali setahun kura-kura bertelur?

Frekuensi bertelur bervariasi tergantung spesies dan kondisi lingkungan. Beberapa kura-kura mungkin hanya bertelur sekali setahun, sementara yang lain dapat bertelur beberapa kali dalam satu musim kawin.

4. Apakah kura-kura jantan dan betina hidup bersama?

Sebagian besar kura-kura tidak hidup dalam pasangan permanen. Mereka biasanya hanya bertemu untuk kawin dan kemudian berpisah.

5. Bagaimana cara membedakan kura-kura jantan dan betina?

Perbedaan antara jantan dan betina bervariasi antar spesies, tetapi umumnya kura-kura jantan memiliki ekor yang lebih panjang dan tebal, plastron (bagian bawah cangkang) yang cekung, dan cakar yang lebih panjang pada kaki depan.