Sukses

Hari Bahagia, Pasangan Penyandang Disabilitas Menikah Masal di India

Liputan6.com, Jakarta Pernikahan masal sangat populer di kalangan masyarakat India. Namun belakangan, yang berpartisipasi adalah pasangan disabilitas.

Seperti dimuat dalam video yang diposting The Guardian, terlihat banyak pasangan pengantin India yang menyandang disabilitas melahkukan ritual pernikahan.

Pernikahan besar-besaran tersebut menyesuaikan dengan tradisi Hindu. Prosesinya juga kental dengan budaya India, salah satunya tradisi pengantin pria naik kereta untuk mencapai tempat akad pernikahan.

"Saya tidak pernah berpikir bahwa pernikahan saya akan berlangsung seperti ini (dengan cara yang megah) tetapi hari ini adalah hari paling istimewa dalam hidup saya karena saya akan menikah dengan cara yang sama seperti yang dilakukan orang lain," kata seorang pengantin pria, Mahesh.

Acara tersebut diselenggarakan untuk membantu masyarakat yang tidak mampu untuk mengadakan upacara pernikahan. Sehingga pasangan tersebut yang terdaftar dalam program pernikahan massal ini juga mendapat barang-barang rumah tangga sebagai hadiah.

FYI, pernikahan massal sangat populer, terutama di kalangan masyarakat India yang terbelakang secara ekonomi, karena ini mengurangi kekhawatiran implikasi keuangan di antara orang tua atau wali pengantin wanita.

Secara konvensional, keluarga pengantin wanita di India diharapkan menanggung biaya pernikahan mewah dan juga memberikan 'mas kawin' kepada pengantin pria yang dianggap sebagai hadiah kepada pengantin wanita yang bisa berupa uang atau barang.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Inklusi Disabilitas Bakal Hadir di Metaverse

Kehadiran ruang metaverse yang ramah disabilitas akan segera menjadi kenyataan. Kini di saat orang-orang memikirkan futurisme, Giselle Mota, yang pernah memberikan Ted Talk dan penulis di Forbes, bekerja sebagai konsultan utama perusahaan tentang "pekerjaan masa depan".

Dilansir dari PCMag, ia berkomitmen untuk menghadirkan lebih banyak inklusi dan akses ke Web3 dan ruang metaverse. Ia juga sedang mengerjakan proyek sampingan yang disebut Unhidden, yang akan menyediakan avatar yang akurat bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka memiliki opsi untuk tetap berada di metaverse dan di seluruh Web3.

 

3 dari 4 halaman

Perusahaan teknologi harus lebih inklusif

Tujuan Unhidden adalah untuk mendorong perusahaan teknologi menjadi lebih inklusif, terutama bagi penyandang disabilitas. Proyek ini telah diluncurkan dan telah bermitra dengan aplikasi Wanderland, yang akan menampilkan avatar Unhidden melalui platform realitas campurannya di Konferensi VivaTech di Paris dan Konferensi DisabilityIN di Dallas. Kedua belas avatar pertama akan keluar musim panas ini bersama Mota, Dr. Tiffany Jana, Brandon Farstein, Tiffany Yu, dan tokoh global lainnya yang mewakili inklusi disabilitas.

Susunan individu di atas dikenal sebagai NFTY Collective. Anggotanya berasal dari negara-negara termasuk Amerika, Inggris, dan Australia, dan kolektif tersebut mewakili spektrum disabilitas, mulai dari tipe yang tidak terlihat, seperti bipolar dan bentuk lain dari neurodiversity, hingga yang lebih terlihat, termasuk hipoplasia dan dwarfisme.

Hipoplasia menyebabkan keterbelakangan organ atau jaringan. Bagi Isaac Harvey, penyakit itu bermanifestasi dengan membuatnya tanpa lengan dan kaki pendek.

4 dari 4 halaman

Banyak disabilitas tak terlihat

Disabilitas fisik sebagian besar mudah terlihat. Tapi Mota, yang menderita disleksia, menggunakan teknik cerdas untuk membedakan antara disabilitas yang terlihat dan tidak terlihat. “Semua karakter [avatar] di musim saat ini mengenakan tampilan urban yang bermanfaat, dengan beanie, jumpsuit, sepatu kets, dan kacamata hitam. … Karakter penyandang disabilitas yang tidak terlihat ditandai dengan desain khusus kacamata hitam untuk menunjukkan keragaman kognitif mereka.”

Unhidden tidak melupakan buta warna atau mereka yang memiliki penglihatan rendah, “Kami menggunakan kecerdasan buatan dan algoritme untuk membuat avatar versi 2D sehingga dapat diakses oleh siapa saja yang buta warna,” kata Mota.

“Kami telah mulai membuat audio, menghasilkan versi gambar sehingga siapa pun yang benar-benar tunanetra atau memiliki preferensi untuk mendengarkan dapat mendengar karya seni mereka,” yang berarti mereka dapat memiliki deskripsi audio dari avatar mereka.